
SURABAYA (wartadigital.id) – Mahasiswa FTMM Universitas Airlangga kembali mengukir prestasi membanggakan pada kancah akademik tingkat internasional. Nauval Syahferi, mahasiswa Teknologi Sains Data angkatan 2022 berhasil menembus program pertukaran pelajar menuju Jeonbuk National University di negara Korea Selatan.
Dia memanfaatkan skema mobilitas bernama UNAIR Student Outbound Mobility EQUITY. Selain itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama LPDP mendanai secara optimal rangkaian kegiatan akademik tersebut. “Saya bersyukur lolos dan memperoleh kesempatan emas untuk meningkatkan wawasan global sekaligus memperluas jaringan pertemanan antar negara,” kata Nauval dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (21/7/2026).
Pemuda asal Kota Batam ini mengikuti kegiatan perkuliahan penuh waktu selama satu semester di Jeonbuk National University. Agar lancar selama di negeri Ginseng, Nauval mengambil kelas bahasa Korea dasar untuk membantu komunikasi harian bersama warga lokal.
Di samping itu, ia juga mempelajari masyarakat Korea kontemporer melalui perkembangan teknologi yang sangat pesat. “Saya memutuskan untuk tetap fokus menyusun skripsi penelitian tanpa menunda waktu kelulusan sarjana kelak. Karena itu, ritme belajar saya di sini sangat padat karena harus menyeimbangkan antara kuliah dan riset mandiri,” ungkapnya.
Nauval mengaku menemukan banyak hal menarik dari interaksi bersama para pelajar internasional berbagai benua. Dia menjalin pertemanan erat dengan mahasiswa asal lokal Korea Selatan, China, Uzbekistan, Kolombia, hingga Ukraina. Bahkan, ia bisa melihat langsung etos kerja keras mereka saat mempersiapkan tugas demi tugas kampus.
Sebagai hasilnya, semangat kompetitif para mahasiswa asing tersebut memacu motivasinya untuk ikut belajar secara ambisius. Tentu saja, pertukaran budaya antar bangsa ini memberikan pengalaman hidup yang sangat berharga bagi dirinya.
Diceritakannya program akademik ini berlangsung bertepatan dengan momen suci bulan puasa Ramadan tahun ini. Dia harus merayakan Ramadan sebagai kelompok minoritas yang menghadapi banyak sekali tantangan adaptasi baru. Meskipun demikian, Nauval rela berjalan kaki selama satu jam demi mencapai satu-satunya masjid kota Jeonju.
Dia rutin melaksanakan Salat Tarawih dan berbuka puasa bersama saudara sesama muslim di sana. Pada akhirnya, keberagaman etnis dan ragam bahasa para jemaah masjid justru memperkaya pengalaman spiritual pribadinya.
Sering kali, Nauval menghadapi benturan waktu antara jadwal kelas kampus dan waktu masuk salat fardu. Dia harus bergegas pulang menuju asrama demi mengejar waktu ibadah yang sangat singkat tersebut. Sejalan dengan itu, ia juga kesulitan mencari tempat makan halal ketika waktu sahur maupun berbuka. Oleh sebab itu, pemuda ini mengandalkan aplikasi khusus pemindai komposisi makanan untuk memastikan kehalalan produk. “Saya sering kali menyantap nasi instan dan camilan rumput laut saat sahur telah tiba. Praktis,” katanya seraya mengatakan cuaca dingin ekstrem sering membuat ia merasa lebih cepat lapar saat berpuasa.
Perjalanan akademik luar biasa ini menorehkan kenangan manis dan membentuk pola pikir yang baru. Mahasiswa FTMM ini sukses merasakan langsung sistem pendidikan maju dan budaya masyarakat Korea yang sangat disiplin.
Nauval bertekad keras meraih beasiswa lanjutan untuk menempuh pendidikan pasca sarjana di negara berhawa dingin tersebut. Dia ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih impian besar dalam kancah pergaulan global. nti





