
JAKARTA (wartadigital.id) — Harga minyak mentah dunia diperkirakan masih melanjutkan tren pelemahan pada pekan depan seiring meningkatnya pasokan global dan meredanya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak pada kisaran 64,70-72,10 dolar AS per barel, dengan kecenderungan menguji level support di sekitar 64 dolar AS per barel. Secara teknikal, peluang koreksi dinilai masih cukup besar mengingat harga minyak berpotensi bertahan di bawah level psikologis 70 dolar AS per barel. “Kemungkinan besar harga minyak mentah ini akan terus terkoreksi di bawah 70 dolar AS per barel mendekati 60 dolar AS per barel. Sehingga kisarannya ada di 64 dolar AS per barrel,” kata Ibrahim Minggu (5/7/2026)
Dari sisi fundamental, Ibrahim menyebut tekanan utama datang dari membaiknya kondisi distribusi minyak melalui Selat Hormuz setelah muncul optimisme terhadap hubungan Amerika Serikat dan Iran. Pasar kini menanti kelanjutan pembahasan kedua negara terkait Selat Hormuz, termasuk peluang pencabutan sebagian sanksi ekonomi terhadap Iran.
Optimisme bahwa gencatan senjata dapat dipermanenkan dinilai membuka ruang bagi kelancaran arus distribusi minyak. Kondisi tersebut membuat volume pengiriman minyak yang melewati Selat Hormuz meningkat hingga melampaui 103,1 juta barel per hari sehingga memunculkan indikasi kelebihan pasokan (oversupply). “Meningkatnya distribusi minyak membuat pasokan global semakin melimpah sehingga tekanan terhadap harga minyak masih cukup besar,” imbuhnya.
Selain faktor geopolitik, perlambatan sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. Pelemahan aktivitas ekonomi diperkirakan menekan permintaan energi sekaligus memperbesar peluang bank sentral AS mempertahankan bahkan menurunkan suku bunga apabila inflasi terus melandai. Meski penurunan suku bunga berpotensi menopang aktivitas ekonomi ke depan, dalam jangka pendek kondisi oversupply dinilai masih menjadi faktor dominan yang membebani pergerakan harga minyak dunia. bis

