
BANGKALAN (wartadigital.id) – Pemerintah Kabupaten Bangkalan melalui Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) resmi menutup kegiatan Pelatihan Kerajinan Anyaman Bambu di Desa Tanah Merah Laok, Kecamatan Tanah Merah, Kamis (5/11/2026).
Selama empat hari pelaksanaan, pelatihan ini menghasilkan sebanyak 47 produk kerajinan bambu dengan beragam bentuk dan fungsi.
Penutupan kegiatan dihadiri oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Bangkalan, Jemmi Tria Sukmana, Kepala Bidang Industri Non Agro, Huzaimah, perwakilan Tim Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Bangkalan, pemerintah desa, dua narasumber perajin senior dari IKM Karti Aji, Sleman dan Kulon Progo, DI Jogjakarta, serta seluruh peserta pelatihan.
Sebanyak 20 peserta dari Desa Tanah Merah Laok mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan tingkat kehadiran mencapai 100 persen selama empat hari. Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan pembelajaran mulai dari pengenalan alat dan bahan baku, teknik memotong dan mengirat bambu, pewarnaan, hingga menyusun pola anyaman dan menyelesaikan berbagai produk kerajinan.
Adapun produk yang berhasil dihasilkan meliputi 10 tas hampers, 11 box sokase, 22 pincuk, satu rantang susun, satu rantang, dan dua tempat tumpeng. Seluruh produk tersebut merupakan hasil praktik langsung peserta dengan pendampingan dua narasumber perajin senior dari Jogjakarta.
Kepala Disperinaker Kabupaten Bangkalan, Jemmi Tria Sukmana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi industri kecil dan menengah melalui peningkatan keterampilan masyarakat. Ia berharap keterampilan yang telah diperoleh tidak berhenti setelah kegiatan berakhir, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi kegiatan usaha produktif.
“Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi bambu menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai tambah. Kami tidak ingin keterampilan yang diperoleh hanya berhenti sebagai hasil pelatihan, tetapi benar-benar dapat dikembangkan menjadi peluang usaha yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ungkap Jemmi.
Salah satu hal menarik dari pelatihan ini adalah peningkatan nilai ekonomi bahan baku bambu setelah diolah menjadi produk kerajinan. Berdasarkan laporan pelaksanaan kegiatan, bambu mentah yang sebelumnya bernilai sekitar Rp30.000 per batang dapat diolah menjadi produk seperti rantang dengan nilai jual berkisar Rp150.000 hingga Rp200.000.
Hal ini menunjukkan potensi peningkatan nilai bahan baku hingga sekitar lima sampai enam kali lipat melalui proses pengolahan dan kreativitas perajin.
Antusiasme peserta juga terlihat dari testimoni yang disampaikan pada akhir kegiatan. Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa sebelum mengikuti pelatihan, dirinya hanya mengenal bambu sebagai bahan sederhana untuk pagar dan keperluan sehari-hari. Namun, setelah mendapatkan pendampingan, ia mulai memahami bahwa bambu dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan yang menarik dan bernilai jual.
“Awalnya saya hanya melihat bambu sebagai bahan biasa untuk pagar dan keperluan sehari-hari. Sekarang saya sudah bisa membuat besek tempat buah, tas parcel, pincuk bambu, rantang, dan keranjang parcel. Saya jadi sadar bahwa bambu bisa dijadikan barang bernilai. Harapannya, ada pelatihan lanjutan agar kami bisa menghasilkan model yang lebih beragam dan sesuai kebutuhan pasar,” ungkap salah seorang peserta.
Dua narasumber dari IKM Karti Aji, Jogjakarta, juga menyampaikan, pelatihan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan dalam mengolah bambu. Mereka berharap produk yang dihasilkan tidak hanya menjadi hasil pembelajaran, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk usaha yang memiliki nilai jual dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, Disperinaker Bangkalan juga akan memfasilitasi peserta untuk memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai salah satu persyaratan dalam mengakses bantuan permodalan dari perbankan. Selain itu, pemerintah daerah juga akan mendorong perluasan akses pemasaran agar produk kerajinan peserta dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Bahkan, peluang pemasaran mulai terbuka dengan adanya pesanan produk anyaman berupa parsel buah. Namun, untuk mendukung keberlanjutan usaha, peserta juga akan mendapatkan informasi dan pendampingan terkait perhitungan harga pokok produksi (HPP) serta penentuan harga jual agar produk yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi yang layak.
Kepala Bidang Industri Non Agro Disperinaker Bangkalan, Huzaimah, menyampaikan bahwa keberlanjutan pelatihan menjadi salah satu harapan para peserta. Pihaknya akan mengupayakan pelatihan lanjutan sesuai dengan ketersediaan anggaran, sekaligus mendorong agar keterampilan yang telah diperoleh dapat terus dikembangkan melalui pendampingan dan akses pasar.
“Kami berharap keterampilan yang sudah diperoleh selama empat hari ini terus dipraktikkan dan dikembangkan. Ke depan, kami juga akan mendorong fasilitasi legalitas usaha, perhitungan harga produksi, serta akses pemasaran agar produk yang dihasilkan para peserta benar-benar memiliki peluang untuk berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan,” kata dia.
Kegiatan yang dibiayai melalui APBD Kabupaten Bangkalan Tahun Anggaran 2026 bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam memperkuat kapasitas IKM berbasis potensi lokal.
Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kabupaten Bangkalan berharap kerajinan anyaman bambu dapat berkembang menjadi salah satu peluang usaha masyarakat Desa Tanah Merah Laok. Tidak hanya menghasilkan produk kreatif bernilai jual, tetapi juga membuka kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mendorong pertumbuhan IKM yang produktif dan berdaya saing di Kabupaten Bangkalan. mra, bal


