
PONOROGO (wartadigital.id) – Gelar Kakang – Senduk Ponorogo memiliki prestise tinggi. Terbukti, 277 remaja putra dan putri antre mendaftar untuk terpilih menjadi duta wisata itu. Mereka berada di rentang usia 17 hingga 24 tahun.
“Setelah melalui seleksi berjenjang, akhirnya terpilih 10 pasang finalis Kakang Senduk Ponorogo 2026. Ke-20 finalis akan bersaing di malam grand final yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (7/11/2026) pukul 19.00 WIB di Padepokan Reog Ponorogo,” kata Oki Widyanarko, Kepala Bidang Pemasaran dan Ekonomi Kreatif di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Jumat (6/11/2026).
Pihaknya sengaja melibatkan dewan juri yang terdiri dari praktisi dan akademisi. Pada tahap awal, penilaian dilakukan oleh perwakilan Paguyuban Kakang Senduk, Raka Raki Jatim, dan Disbudparpora Ponorogo.
Pada sesi wawancara mengundang psikiater yang notabene seorang dokter spesialis kedokteran jiwa. Sedangkan penilaian talenta juga melibatkan pelaku seni. “Pada malam grand final, penilaian dilakukan oleh dua orang juri dari unsur akademisi dan seorang juri dari Raka – Raki Jatim,” kata Oki.
Dia berani menjamin 10 pasang finalis Kakang – Senduk Ponorogo yang akan bersaing di grand final adalah peserta terbaik. Berawal dari pendaftaran 5–9 Oktober 2026, sebanyak 133 pendaftar sudah gugur. Yang tersisa 88 calon Senduk dan 56 calon Kakang.
“Seleksi kemudian berlanjut hingga menyisakan 25 pasang peserta. Melalui tahapan tes tulis, wawancara, dan penilaian talenta, akhirnya ditetapkan 10 pasang atau 20 orang sebagai finalis pada 14 Oktober 2026,” ujarnya.

Para finalis, lanjutnya, mendapatkan pembekalan selama masa karantina. Materi yang diberikan meliputi personal branding, public speaking, pembuatan konten kreatif, bahasa Inggris, serta pengetahuan kepariwisataan dan ke-Ponorogo-an.
“Tujuannya meningkatkan kemampuan komunikasi, kreativitas, dan wawasan finalis dalam menjalankan peran sebagai duta wisata Ponorogo,” tuturnya.
Dia menegaskan ajang pemilihan Kakang – Senduk Ponorogo yang berlangsung dua tahun sekali bukan sekadar perebutan gelar. Para finalis secara otomatis menjadi bagian dari Paguyuban Kakang – Senduk yang aktif dalam berbagai kegiatan kepariwisataan.
Setiap finalis juga memiliki advokasi sesuai minat dan kepedulian masing-masing. Mulai bidang pendidikan, promosi wisata melalui media sosial, hingga pembuatan konten kreatif. “Selain itu, setiap angkatan juga memiliki program kerja bersama untuk paguyuban,” ujarnya.
Oki mengungkapkan, selama masa tugas dua tahun, Kakang Senduk berperan sebagai representasi Ponorogo untuk memperkenalkan potensi destinasi wisata, budaya, religi, hingga wisata minat khusus. Penugasan itu tidak hanya berlaku di tingkat kabupaten, namun juga berbagai kegiatan di luar daerah.
“Melalui berbagai kegiatan itu, Kakang – Senduk turut membawa nama Ponorogo sekaligus memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat di luar wilayah kabupaten,” lanjutnya.
Sementara itu, Pemilihan Duta Wisata Kakang – Senduk Ponorogo 2026 mengambil tema “Digdaya Pramanaraga” yang berangkat dari refleksi terhadap jati diri Ponorogo. Pramana raga bermakna kekuatan yang tumbuh dari olah diri, keteguhan batin, dan kemampuan menempatkan diri. ono


