Potensi Muncul Gelombang Ketiga, Pemerintah Diminta Jangan Terburu-buru Cabut  Aturan PPKM

Ilustrasi virus Corona. WHO saat ini sedang memantau perkembangan virus corona bernama Mu.

 

JAKARTA (wartadigital.id) – Pemerintah diminta tidak terburu-buru untuk mencabut peraturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ( PPKM ).  Ancaman gelombang ketiga Covid-19 masih bisa saja terjadi. Selama ini, pemerintah menerapkan kebijakan PPKM untuk pengendalian Covid-19 di Tanah Air.

Bacaan Lainnya

“Penentu kebijakan harus konsisten, jangan cepat-cepat mencabut peraturan PPKM-nya, jangan cepat-cepat, harus hati-hati,” kata Ketua Satuan Tugas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban dikutip dari media sosial pribadinya, Minggu (17/10/2021).

Sebab, kata dia, ancaman lonjakan kasus penyebab gelombang ketiga Covid-19 masih bisa terjadi. Meskipun, kasus Covid-19 di Tanah Air saat ini sedang landai, namun potensi terjadi kenaikan kasus masih bisa terjadi kapan saja.

“Kenyataannya dari data sekarang ini kondisi itu (gelombang ketiga, Red) amat mungkin terjadi. Pertanyaannya adalah kapan terjadinya itu yang sekarang menjadi perbedaan di antara para ahli,” kata Zubairi.

Apalagi, pergerakan masyarakat untuk melakukan aktivitas di luar rumah cukup sering dan cukup padat. “Sehingga ada risiko penularan,” paparnya.

Menurut dia, gelombang ketiga Covid-19 bisa terjadi tergantung dari masalah perilaku-perilaku masyarakat. Dia menilai gelombang ketiga tidak akan terjadi jika masyarakat mau disiplin potokol kesehatan.

Kemudian, tambah Zubairi, adalah perilaku mutasi virus Covid-19. “Sekarang (menyebar) cepat sambil selalu mutasi terus. Dan muncul 1, 2 mutasi yang mungkin berbahaya di kemudian hari. Jadi yang menyebabkan bahwa bisa muncul gelombang ketiga,” ujarnya.

Prediksi Februari-Maret

Zubairi  memprediksi gelombang ketiga Covid-19 akan terjadi pada Februari atau Maret 2022. Perkiraan itu lebih lambat dibanding prediksi sebagian besar ahli epidemiologi yang memprediksikan gelombang ketiga Covid-19 akan terjadi pada akhir tahun ini atau awal tahun depan.

“Kalau saya sendiri sambil harap-harap cemas, itu mungkin masih Februari atau Maret. Tentu yang harapan dan doa-nya yang paling baik adalah tidak timbul gelombang ketiga,” katanya.

Menurutnya, ada banyak faktor yang menjadi penyebab munculnya potensi gelombang ketiga Covid-19. Salah satunya yakni angka kasus Covid-19 di negara tetangga yakni Malaysia, Singapura, Thailand, juga Filipina saat ini mengalami kenaikan signifikan.

“Pertama, Indonesia kan juga terkait dengan banyak negara lain. Negara tetangga kita kan Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina sekarang rangkingnya naik setiap hari kasusnya banyak banget melebihi kasus harian Indonesia,” kata Zubairi.

Kedua, kata Zubairi, akibat adanya mutasi virus yang bisa muncul kapan saja. “Tadi itu kalau melihat tetangga kita begitu tinggi, kemudian ada varian-varian baru yang muncul,” katanya.

Ketiga, potensi klaster Covid-19 akibat pembukaan aktivitas. Zubairi mengatakan, pembukaan sekolah tatap muka juga ternyata menyebabkan beberapa klaster. Ditambah lagi penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua yang mendeteksi adanya 83 orang positif Covid-19 yang bisa menimbulkan klaster penularan. “Belum lagi tempat pariwisata dibuka, sekarang bayangin saja yang ke Puncak itu banyak banget,” kata Zubairi.

Meski begitu, Zubairi berharap agar tidak terjadi gelombang ketiga di tahun depan namun akan berubah dari pandemi Covid-19 menjadi endemi. “Semoga tahun depan bukan gelombang ketiga, namun endemi. Artinya hanya ada di satu daerah, di provinsi kemudian nanti hilang, kemudian muncul lagi di tempat lain. Itu harapan dan doa kita agar pandemi yang ketiga, gelombang ketiga ini tidak muncul, namun semoga menjadi endemi,” katanya. sin, set