
SURABAYA (wartadigital.id) – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak mengajak generasi muda untuk terus mengenal, mencintai, menggunakan, sekaligus melestarikan batik dan wastra Jawa Timur sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Arumi saat menghadiri Pameran dan Edukasi Batik Jawa Timur yang diselenggarakan di Gedung Q Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya, Sabtu (12/9/2026).
Menurutnya, pameran dan edukasi batik merupakan ruang untuk memperkenalkan kekayaan batik Jawa Timur kepada generasi penerus. Upaya pelestarian tersebut, lanjutnya, harus dilakukan secara berkelanjutan agar batik tidak hanya hidup dan dikenal oleh generasi saat ini, tetapi juga tetap menjadi bagian dari kehidupan generasi mendatang. “Harapan kami, adik-adik mahasiswa yang saat ini duduk sebagai peserta, suatu saat nanti justru menjadi generasi yang berada di panggung untuk meneruskan dan melestarikan budaya serta wastra batik yang ada di Jawa Timur,” ujarnya.
Arumi juga menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan merupakan tanggung jawab satu pihak, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari perguruan tinggi, komunitas, pemerhati budaya, perajin, hingga masyarakat sebagai konsumen.
Lebih lanjut, Arumi menekankan bahwa batik tidak dapat dipandang sekadar sebagai kain atau produk sandang. Di dalam setiap karya batik terdapat sejarah, filosofi, kearifan lokal, serta identitas bangsa.
Menurutnya, apa yang dikenakan seseorang, termasuk batik dan wastra, merupakan bagian dari identitas yang membedakan Indonesia dengan bangsa lain.
Karena itu, Arumi berharap perkembangan budaya populer di kalangan generasi muda tidak membuat mereka kehilangan kebanggaan terhadap budaya sendiri. “Anak-anak zaman sekarang tentu mengikuti perkembangan zaman. Musiknya bisa K-Pop, tariannya juga berbeda. Tetapi pada momen-momen tertentu, ketika harus memakai batik, harapan kita mereka tidak merasa malu,” tuturnya.
Ia melihat perkembangan tren penggunaan wastra di kalangan anak muda saat ini sebagai sebuah harapan positif bagi keberlanjutan batik dan wastra Indonesia. Batik yang sebelumnya kerap diasosiasikan dengan acara formal maupun pernikahan, kini mulai hadir dalam berbagai desain busana yang mengikuti perkembangan tren dan gaya hidup generasi muda.
Di kesempatan yang sama, Arumi juga menyambut baik keberadaan Batik Corner di Perpustakaan Universitas Kristen Petra. Menurutnya, fasilitas tersebut merupakan bentuk nyata dukungan perguruan tinggi terhadap upaya edukasi dan pelestarian batik.
Batik Corner diharapkan dapat menjadi ruang belajar sekaligus sumber referensi bagi mahasiswa dan masyarakat untuk mengenal batik secara lebih dekat, baik dari sisi sejarah, filosofi, motif maupun perkembangannya. “UK Petra tidak hanya mendukung melalui kegiatan-kegiatan tertentu, tetapi sudah dibuktikan dengan aksi nyata dengan menghadirkan Batik Corner sebagai ruang untuk belajar langsung tentang batik,” ungkapnya.
Ia berharap keberadaan Batik Corner juga dapat dikembangkan menjadi ruang pengalaman bagi mahasiswa untuk mengenal proses dan kekayaan batik secara lebih mendalam.
Selain aspek budaya, Arumi juga menegaskan bahwa Dekranasda Jawa Timur juga terus mendorong agar batik tidak hanya lestari sebagai warisan budaya, tetapi mampu memiliki daya saing sebagai bagian dari industri kreatif dan penggerak ekonomi daerah.
Menurutnya, ekosistem batik membutuhkan penguatan tidak hanya dari sisi kemampuan produksi, tetapi juga dari aspek bisnis, pemasaran, pengembangan pasar, hingga kemampuan membaca tren konsumen.
Dekranasda Jawa Timur, lanjut Arumi, memiliki mandat untuk turut memfasilitasi para perajin dalam menemukan dan memperluas pasar, salah satunya melalui penyelenggaraan pameran dan berbagai kegiatan promosi.
Namun, ia menegaskan bahwa upaya tersebut tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. “Ini bukan pekerjaan satu orang saja, tetapi seluruh pihak dan seluruh lini yang menekuni batik harus bisa berkontribusi,” ujarnya.
Arumi berharap kolaborasi yang terbangun melalui Pameran dan Edukasi Batik Jawa Timur tidak berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi terus berlanjut dalam berbagai kegiatan berikutnya. pri





