Bambang Tjahjono,  Kolektor Topi Berbagai Negara 

Bambang Tjahjono dengan koleksi topinya.

 

SURABAYA (wartadigital.id) – Bambang Tjahjono memiliki hobi unik, mengoleksi topi. Tak tanggung-tanggung, koleksi topinya mayoritas dari berbagai negara selain topi produksi dalam negeri. Di kediamannya di kawasan Perumahan Nginden Intan Surabaya, koleksi topinya ada ratusan dengan beragam model. Mulai dari baseball cap, fedora hat, snapback cap, newsboy cap hingga topi cowboy.

Bacaan Lainnya

Mantan Dirut salah satu  BUMN itu menceritakan awal ketertarikannya mengoleksi topi. Diceritakannya, semula dia tak langsung mengoleksi topi. Saat awal bekerja di BUMN yang memproduksi pupuk pada era tahun 1980an, ayah 3 anak ini justru tertarik mengoleksi sabun hotel. Waktu itu dia ingin punya kenang-kenangan saat bepergian kemana saja.  Lama-lama, koleksi sabunnya terlalu banyak dan memakan tempat. “Semula ngoleksi karena  ingin ada kenang-kenangan, akhirnya malah tak pakai sendiri karena jumlahnya terlalu banyak. Sejak itu tak lagi mengoleksi sabun hotel,” kata Bambang yang kini aktif menjadi Ketua Yayasan Sabiilus Salam di Nginden Surabaya ini.

Dia kemudian sempat tertarik mengoleksi gantungan kunci.  Namun juga tak bertahan lama. Pria kelahiran Pacitan ini  ingin mengoleksi sesuatu yang lebih bisa dipakai. Akhirnya pilihannya jatuh pada topi. “Didorong teman-teman golf yang kerap minta oleh-oleh topi jika saya bepergian, akhirnya saya mulai mengoleksi topi. Bagi saya topi lebih bermanfaat,” katanya.

Karena pekerjaannya yang membuatnya kerap bepergian atau sekolah di luar negeri, keinginannya mengoleksi topi terbuka lebar.  Pada tahun 1981, saat disekolahkan instansi tempatnya bekerja ke Jepang, dia tak lupa membeli topi. “Pertama kali saya mengoleksi topi saat sekolah di Jepang,” kata Bambang yang memiliki passion di bidang marketing meski pendidikan resminya berlatar teknik ini.

Kegemarannya terus berlanjut. Dia terus mengoleksi topi dari berbagai negara mulai dari negara-negara di benua Asia, Eropa, Afrika, Eropa, Australia, Amerika Utara hingga Antartika . Maklum lebih separo negara di dunia telah dia datangi, baik saat masih bekerja ataupun setelah purna tugas. “Saya belum punya topi dari negera di Amerika Selatan, karena saya belum pernah kesana. Dengan kondisi saya saat ini, tentu sulit melakukan penerbangan yang memakan waktu sampai 20 jam untuk mengunjungi negara-negara di Amerika Selatan,”kata Bambang yang saat ini menikmati masa purna tugasnya dari salah satu BUMN.

Koleksi topi terakhir yang dibelinya dari Inggris. Sehabis pulang ibadah haji akhir Juli 2024 lalu, Bambang dan istri terbang ke London untuk menghadiri wisuda salah satu anaknya. “Saya sempatkan untuk beli topi di Inggris, tidak untuk diri saya sendiri namun juga untuk oleh-oleh teman golf,” katanya.

Bambang mengaku tentu ada suka duka dalam berburu topi. Misalnya saat berkunjung ke Mesir dan Syiria, tidak ada toko topi, meski dia sudah hunting.  “Apa mungkin saat itu saya nyarinya kurang jauh dari lokasi saya menginap, saya tidak tahu. Tapi setahu saya saat itu, tidak melihat toko topi,” katanya.

Demikian halnya saat di Norwegia, dia juga kesulitan mencari topi. Karena turis di negara itu tidak banyak, sehingga toko-toko yang menjual topi untuk cinderamata sulit didapat. Sebaliknya saat di Denmark mudah mencari topi. “Beli topi biasanya di kawasan tempat turis ngumpul. Di sana banyak toko cinderamata, oleh-oleh termasuk topi,” katanya.

Koleksi topi Bambang Tjahjono berasal dari berbagai negara.

Bambang mengaku tidak ada anggaran khusus untuk membeli topi. Pokoknya suka modelnya, bahannya, dia beli. Topi cowboy buatan Amerika adalah topi termahal yang dia beli pada 1994. Harganya sekitar Rp 5 juta lebih. Sedangkan topi-topi buatan luar negeri seperti Rusia, Australia, Polandia dan negara-negara lainnya harganya juga jutaan.

Dari seringnya membeli topi, Bambang yang punya koleksi mobil kuno ini mengaku bisa membedakan topi buatan lokal dan luar negeri. Atau buatan luar negeri tapi ‘tembakan’. “Kalau topi di luar negeri, harganya murah rata-rata produksi Tiongkok (China) atau Bangladesh. Dari sisi kualitas juga kurang bagus. Tapi kalau produksi di luar dua negara itu, rata-rata kualitasnya bagus. Bahannya kuat, warna tidak cepat pudar, jahitan presisi dan rapi. Kata orang Jawa, ono rego ono rupo,” katanya.

Soal perawatan, Bambang mengaku tidak terlalu merawat koleksi topi-topinya. Dia cenderung membeli dan menaruhnya di tempat khusus di tiang antik di salah satu sudut rumahnya. “Yang membersihkan topi-topi saya, ya istri saya. Saya tinggal pakai,” katanya sembari tersenyum. nti

 

Pos terkait