wartadigital.id
Ekbis Headline

Berkat BNI, Kopwan Srikandi Berhasil Ekspor Gula Semut dan VCO ke Berbagai Negara

Ketua Kopwan Srikandi Sri Susilowati SE membagikan cerita sukses usahanya dalam webinar bertema Peran Perbankan dalam Ekosistem Digital UMKM Masa Depan yang digelar oleh MikroForum – Forwada, Kamis (23/9/2021).

 

SURABAYA (wartadigital.id) – Kerja keras dan keberuntungan memayungi Koperasi Wanita  (Kopwan) Srikandi Purworejo. Kopwan Srikandi menjadi salah satu koperasi yang mampu  menembus pasar ekspor dengan produk turunan dari kelapa seperti gula semut atau gula kristal dan VCO (Virgin Covonut Oil).  Tak tanggung-tanggung Kopwan ini mampu menaklukkan pasar AS dan sejumlah negara di Eropa.

Koperasi yang awalnya hanya bergerak di simpan  pinjam alias KSP ini pun sejak 2020 sudah memiliki PT (Perseroan Terbatas ) dan meluncurkan produk terbarunya, berupa Coconut Nectar Syrup yang siap ekspor ke  AS.

Ketua Kopwan Srikandi Sri Susilowati SE mengakui, keberhasilan Kopwan Srikandi ini selain karena kegigihan para anggotanya, juga tak lepas dari dukungan perbankan, khususnya PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. “BNI adalah bank pertama  yang mendukung kami untuk berkembang lebih besar dengan menfasilitasi pembiayaan  untuk pembelian kantor Kopwan Srikandi. Awalnya kami kan ngontrak, namun karena  didukung BNI pada akhir 2015, kami bisa memiliki kantor sendiri,” ujar Sri Susilowati membagikan cerita sukses usahanya dalam webinar bertema Peran Perbankan dalam Ekosistem Digital UMKM Masa Depan yang digelar oleh MikroForum – Forwada, Kamis (23/9/2021).

Tak hanya itu kata Sri, setahun kemudian tepatnya pada 2016, BNI juga menfasilitasi  pembelian pabrik atau Central Processing Unit Kopwan Srikandi di Kelurahan Cangkrep  Kidul Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo. “Awalnya kami juga ngontrak, sekarang  dengan memiliki pabrik sendiri, kami bisa lebih efisien dan percaya diri dalam produksi dan  ekspansi bisnis,” ungkap Sri.

Sri pun mengakui selama berhubungan dengan BNI selama ini, pelayanan yang diberikan BNI sangatlah bagus dan mempermudah UMKM yang ingin maju berkembang.Komunikasinya bagus dan lancar. “Saat pandemi, kami juga diberikan pendampingan dan  bimbingan sekaligus mendapatkan relaksasi kredit dari BNI. BNI lah yang pertama kali  membantu kami selaku UMKM yang ingin lebih maju dan berkembang,”tambahnya.

Sri Susilowati pun berkisah tentang uniknya Kopwan yang ia pimpin. Pada awalnya, Kopwan  Srikandi adalah sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kartinem pada 2004, yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dan anak.

Menurutnya, pemilihan nama Kartinem bukanlah tanpa alasan. Ada keinginan meneruskan  perjuangan Kartini saat itu. “Awalnya memang akan dinamai Kartini, tetapi rasanya kok  berat karena belum tentu bisa seperti Kartini, ” kenangnya.  Maka dipilihlah nama Kartinem yang menurutnya lebih memasyarakat. “Jadi memang  inspirasi utama saya adalah Kartini. Beliau adalah anak bupati yang mau mengikhlaskan diri  untuk berbakti,” imbuhnya.

Berkiprah di LSM tidaklah mudah. Untuk mendanai segala aktivitas organisasi, ia merogoh  kantong pribadi. Inovasi pun muncul dengan mendirikan Kelompok Usaha Bersama (KUB)

Mitra Sejahtera yang bergerak di bidang produksi minyak goreng kelapa murni. Sri bercerita,  saat pertama jualan minyak goreng itu banyak tantangan. “Dengan telaten saya plastiki, keliling, menitipkan ke PKK, kelompok wanita dengan pembayaran bulan depannya,” ujarnya.

Bersamaan dengan pendirian KUB, Sri Susilowati pun menyiapkan satu wadah koperasi sebagai target, karena ia sadar dengan memiliki Badan Hukum (BH) maka semakin  mudah untuk berkembang.

Maka pada 2007 menjadi pra koperasi dengan nama  Srikandi. Saat itu baru bergerak di bidang simpan pinjam.  Upaya KSP Srikandi mengembangkan diri tidaklah mudah. Penuh perjuangan dan  kesabaran. Namun, berbekal tekad Susilowati, modal Rp 10 juta yang dimiliki mampu meyakinkan puluhan perempuan yang menjadi anggotanya. “Saat itu saya pancing dengan Rp 10 juta. Saya berpikir bagaimana agar uang tersebut  tidak habis dan akhirnya modal itu digulirkan untuk simpanan pokok anggota,” lanjutnya.

Unit simpan pinjam berjalan. Untuk menjaga stabilitas koperasi, Sri mengajak seluruh  anggota membudayakan menabung. Masing – masing anggota dihadiahi sebuah kaleng.

Dalam tiap pertemuan, tabungan dibuka dan dimanfaatkan untuk menyetor simpanan wajib  Rp 2.000. “Setiap bulannya rata-rata anggota dapat menabung Rp 20.000 sampai Rp  100.000. Bagi mereka tidak terasa, tabungan itu bisa untuk bayar simpanan wajib dan  simpanan sukarela,” jelasnya.

Terobosan itu membuat modal koperasi semakin kuat, simpan pinjam sehat, jumlah anggota  pun terus meningkat menjadi 208 orang. Kopwan Srikandi lalu merambah bidang produksi gula kristal, minyak goreng, dan VCO. “Setelah didorong oleh pemerintah, akhirnya kami mengurus legalitas dan resmi berbadan hukum pada 2014,” jelas Sri.

Sejak saat itu Kopwan Srikandi memantapkan diri untuk menjadi agen pemberdayaan  masyarakat berbasis sumber daya lokal. Selain konsentrasi menyejahterakan anggota,  koperasi juga berorientasi memberdayakan para petani kelapa yang tersebar di sejumlah  kecamatan. Tidak hanya di Kabupaten Purworejo, melainkan juga Kabupaten Kebumen,  Kabupaten Ciamis(Jawa Barat), Kabupaten cilacap dan Kabupaten Wonosobo. “Sekarang  kami sudah memiliki 2.750 petani kelapa bersertifikasi Organik EU dan USDA-NOP,” jelasnya.

Saat ini rata-rata per bulan Kopwan Srikandi dapat memproduksi 225 ton gula semut, 5 ton  VCO, 10 ton minyak goreng dan Gula Kelapa Syrup 12 ton. Pemasarannya menjangkau  berbagai wilayah di Indonesia dan mancanegara. Bersama Kopwan Srikandi, impian Sri  terwujud. Dalam waktu yang singkat, ribuan petani kelapa di berbagai kecamatan dan  kabupaten, terberdayakan.

Produk-produk yang dihasilkan, berupa VCO dan gula semut  pun mampu menembus pasar ekspor. Negara tujuan ekspor nya pun terus bertambah luas. Jika selama ini pasar Australia , Srilanka, India, Rusia dan Belanda. Sementara di Benua Amerika juga mencapai Kanada.

Ekspornya dalam bentuk curah dan tak lama lagi produk turunan dari kelapa ini masuk pasar Amerika Serikat, setelah merampungkan beberapa persyaratan administrasi untuk  bisa masuk ke negeri Paman Sam. “Saat ini kami sedang komunikasi ke USFDA (United Stated of Food and Drug  Administration) agar kami menjadi member Amazon yang akan menjualkan produk kami di pasar Amerika Serikat. Kami sudah impor botol sebanyak 28.500 buah, sehingga ketika ada pesanan kita sudah siap,” tambah Sri. nti

Related posts

PPKM Darurat Berakhir, Sejumlah Jalan di Surabaya Akan Tetap Ditutup

redaksiWD

Arumi Minta FPPI Jadi Organisasi Pembela Hak Perempuan

redaksiWD

Satpolairud Polres Sampang Kawal 2.000 Dosis Vaksin ke Pulau Mandangin

redaksiWD