Berkat Dukungan BI, Usaha Teh Gambyong Kemuning Makin Naik Pamor

Pemilik Teh Gambyong, Eko Wuryanto Wicaksono memberikan penjelasan ke media, Selasa (6/10/2026).

KARANGANYAR (wartadigital.id) – Promosi menjadi salah satu andalan setiap usaha untuk memperkenalkan produk ke masyarakat. Hal itu juga dirasakan oleh kalangan UMKM. Sayangnya tak semua UMKM  melakukan atau mendapat kesempatan promosi secara tepat.

Produsen Teh Gambyong dari kawasan Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah termasuk salah satu UMKM yang merasakan dasyatnya promosi secara tepat hingga berimbas pada penjualan produk yang dirintisnya.

Bacaan Lainnya

Pemilik Teh Gambyong, Eko Wuryanto Wicaksono menceritakan usahanya kian dikenal setelah dia ikut pameran Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) di Surabaya yang difasilitasi oleh Bank Indonesia (BI) sejak dua tahun lalu.
“Saya dapat order malah bukan dari Surabaya, tetapi dari Wonosobo. Jadi  kami dipertemukan pertama kali justru di Surabaya, padahal sama-sama tinggal di Jawa Tengah,” katanya kepada rombongan Capacity Building Media yang diselenggarakan Bank Imdonesia Jatim, Selasa (6/10/2026).

Dia mendapat order sekitar Rp 6 juta per hari. Permintaan itu masih terus berlanjut hingga sekarang.  Berkat aktif ikut pameran, dia merasakan sendiri penjualannya makin naik pesat, produknya makin dikenal di luar Jawa Tengah.

Inovasi Produk
Seiring waktu, Eko juga melakukan berbagai inovasi produk untuk menghadirkan teh berkualitas menyesuaikan dengan selera masyarakat.
“Inovasi produk yang kami lakukan menyesuaikan selera masyarakat yang terus berkembang,” katanya.

Eko ingin semua produknya bisa dinikmati semua kalangan, mulai kalangan bawah hingga menengah atas. Juga bisa dinikmati semua usia, mulai anak-anak hingga dewasa.

Diceritakan Eko, pengembangan usahanya selama ini mendapat dukungan BI melalui program pembinaan UMKM sejak 2019. BI memberikan bantuan berupa sarana produksi dan peralatan pengolahan yang ikut mendorong peningkatan kemampuan produksi.
“Pembinaan berupa dukungan sarana dan pelatihan mampu meningkatkan kapasitas produksi sekitar 30-40 persen dibandingkan sebelumnya,” katanya.

Eko bercerita awal merintis usahanya. Dia mengungkapkan, usaha ini mulai dirintis sejak 2014 dengan modal awal Rp 8 juta. Ia menjelaskan, ide awal muncul dari pengalamannya melihat wisatawan yang datang ke Kemuning.
“Awal mula melakukan usaha di tahun 2014, berawal dari keinginan wisatawan yang datang ke Kemuning. Mereka melihat kebun teh banyak, tapi saat ingin membeli teh tidak ada. Dari situ saya berpikir ini peluang untuk membuat usaha,” ujarnya.

Nama Gambyong sendiri diambil dari salah satu tarian tradisional Jawa yang kerap menjadi penyambutan sebuah acara. Dia ingin teh produksinya bisa dinikmati kapan saja.

Ia menambahkan, filosofi nama tersebut sejalan dengan konsep produknya sebagai teh penyambutan. Keunikan Teh Gambyong terletak pada cita rasanya yang memiliki aroma kopi, meskipun tidak dicampur kopi dalam prosesnya.
“Cita rasanya memang berbeda, ada aroma kopi. Tapi bukan dicampur kopi, melainkan dari bahan baku teh yang ditanam dan dipetik di kawasan Kemuning sehingga menghasilkan aroma tersebut,” kata penyuka budaya Jawa ini.

Teh Gambyong kini mengolah teh hijau, teh hitam, teh putih, dan teh oolong, dengan sekitar 16 varian rasa. Varian tersebut antara lain melati, jahe, rempah, serah, leci, dan markisa.

Eko menyebut kapasitas produksinya terus berkembang. Dari awalnya sekitar 50 kilogram, Teh Gambyong kini mampu menghasilkan hingga 6 ton teh setiap bulan dengan omzet rata-rata tembus Rp 300 juta per bulan.
Peningkatan produksi seiring meningkatnya permintaan pasar dan bertambahnya jaringan petani.

Bangun Kemitraan

Petani tengah memetik teh di kawasan Kemuning.

Eko menyebut sejak 2015, pihaknya membangun kemitraan bersama petani setempat dalam pengembangan usaha. Selain itu juga berkolaborasi dengan pemerintah daerah.

Kerjasama tersebut diarahkan untuk menjamin ketersediaan bahan baku sekaligus memperkuat produksi dari sisi hulu.
“Saya bekerja sama dengan warga sekitar Kemuning mulai tahun 2015. Jadi 2014 saya merintis usaha, terus 2015 kita berkumpul dengan para petani, dengan kelompok tani untuk membahas bagaimana mereka bisa menyuplai bahan bakunya,” kata Eko.

Kemitraan itu kini melibatkan sekitar 26 petani yang tergabung dalam satu gabungan kelompok tani (gapoktan). Lahan yang menjadi bagian dari kemitraan tersebut mencapai sekitar 50 hektare.

Saat ini, Teh Gambyong telah dikenal di berbagai wilayah di Indonesia meski belum terlalu besar. Banyak wisatawan yang membawa produk ini sebagai oleh-oleh saat datang ke Jawa Tengah, sehingga membantu memperluas jangkauan pemasaran secara alami. nti

Pos terkait