Boyong 150 Brand Lokal, Basha Market di TP Diserbu Warga Surabaya

Suasana Basha Market di jam VIP Hours, Jumat (31/5/2024).

 

SURABAYA (wartadigital.id) – Basha Market kembali digelar di Tunjungan Plaza. Sama dengan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, kegiatan yang menghadirkan brand-brand lokal mulai baju, aneka produk kecantikan dll orientasi ekspor ini diserbu warga Surabaya dan sekitarnya, Jumat (31/5/2024). Mayoritas yang datang generasi Z, yang menjadi pasar potensial Basha Market .

Bacaan Lainnya

Dalam momen VIP hours yang berlangsung 3 jam mulai pukul 10.00 – 13.00 dengan mengundang 500 warga pilihan, warga tampak memadati area Convention Centre lantai 6 TP 3 Surabaya yang dijaga ketat petugas keamanan. Bahkan mereka rela antre berjam-jam sebelum area kegiatan dibuka. Tak lupa mereka sudah menyiapkan diri membawa koper baju.

Suasana Basha Market di jam VIP Hours.

 

Basha Market adalah platform serbaguna yang didesain untuk para seniman dan talenta industri kreatif untuk menampilkan karyanya, bertemu dengan konsumen serta berkolaborasi. Basha sudah memasuki tahun kesepuluh dengan 14 kali acara yang diselenggarakan di Surabaya, Jakarta, dan Makassar dan 4 kali event online.

Christie Erin selaku Co-Founder menyebutkan bahwa Basha kini tidak lagi hanya memikirkan tentang event kreatif saja, tapi juga sebuah pergerakan ekonomi. Dia mendapatkan berbagai testimoni dari teman-teman brand lokal dan juga pegiat industri kreatif bahwa semuanya mendapatkan project dari adanya Basha Market. “Itu membuat kami lega dan senang, karena memang ini salah satu tujuan kami. Selain itu kami menjadi saksi dari kerja kerasnya brand-brand lokal yang terlibat di Basha Market. Mereka membuat koleksi-koleksi baru, memperbanyak stok, dan sangat passionate dengan apa yang mereka kerjakan. Ini bukan lagi tentang Basha, tapi tentang 150 brand lokal dari berbagai daerah di Indonesia yang mau datang ke Surabaya dan ingin memberikan usaha yang paling terbaik untuk pencintanya,” jelas Erin.

Walaupun tahun ini sudah memasuki usia kesepuluh, Basha merasa bahwa perjalanan ke depannya pasti akan lebih menantang, sehingga harus siap dengan berbagai amunisi untuk melewatinya. Karena itu kurasi terhadap produk brand lokal terus ditingkatkan. “Sepuluh tahun lalu saat kita memulai ini, brand lokal gak banyak. Sekarang? Mungkin ada ribuan bahkan puluhan ribu di luar sana. Persaingan antar brand lokal semakin tinggi, sehingga kurasinya juga jadi sangat sulit. Itulah kenapa Basha juga selalu mau adaptasi dengan perkembangan hari ini dan bagi kami sudah saatnya kita regenerasi,” ujar Erin.

Erin juga menjelaskan target pasar untuk kegiatan ini adalah generasi Z. Harus diakui kekuatan ekonomi saat ini sedang berada di Generasi Z, dan bagi Erin ini adalah sebuah tantangan baru karena Basha dibuat awalnya dari dan untuk generasi milenial. Jadi, memasuki usia kesepuluh adalah waktu yang tepat untuk Basha melakukan regenerasi serta adaptasi. “Basha Market ini seperti memaksa mereka untuk terus up to date, mencari target pasar baru di luar zona nyaman mereka,” ujar Erin.

Erin juga menilai saat ini kecintaan dan gerakan untuk membeli produk lokal sudah sangat pesat bertumbuh, masyarakat kini menyadari bahwa langkah tersebut juga memiliki arti untuk membantu meningkatkan perekonomian bangsa. Kualitas dari produk lokal saat ini tidak main-main. “Ini peluang yang harus ditangkap brand lokal. Apalagi banyak brand lokal punya keunggulan, menawarkan desain orisinil dan otentik, serta lebih memahami kebutuhan atau preferensi konsumen, karena memiliki kedekatan jarak jika dibandingkan dengan produk global. Inilah yang menjadi daya tarik sehingga brand lokal menjadi unggul saat ini. Di sisi lain dukungan pemerintah melalui gerakan Bangga Indonesia juga mendorong pertumbuhan brand lokal meningkat di berbagai sektor industri, khususnya industri kreatif,” katanya.

Basha Market yang digelar hingga 2 Juni 2024 tahun ini menghadirkan tema Multiverse untuk melambangkan sebuah eksplorasi dan potensi yang tidak terbatas. Konsep Multiverse merupakan kelanjutan dari acara sebelumnya, Planet Z, dan Basha memilih bekerjasama kembali dengan desain studio asal Surabaya, Sciencewerk untuk merealisasikan konsep tersebut.

Selaras dengan konsep Multiverse, Basha Market yang menargetkan 70 ribu pengunjung ini ingin merayakan kekuatan kolaborasi yang sudah ada dan menjadikannya potensi ekonomi yang besar hingga tanpa batas. “Kami berharap akan bisa terus menjadi platform kreatif yang lebih berkembang lagi nantinya. Kami ingin terus menjadi wadah sekaligus saksi dari lahirnya brand-brand lokal yang bagus hingga bisa menembus pasar internasional dan bersaing di sana,” tutup Erin.

Sementara itu Feny (27) warga Pakuwon Indah mengaku gemar berbelanja saat Basha Market. Meski produk lokal, namun kualitasnya tak kalah dengan produk impor. “Kalau saya malah lebih enak belanja di brand lokal, mereka lebih tahu kebutuhan warga lokal,” katanya. nti