
SURABAYA (wartadigital.id) – Sebagai salah satu kampus terkemuka di Indonesia, Universitas Airlangga (Unair) mendukung penuh program pemerintah dalam menurunkan prevalensi stunting. Upaya tersebut dibuktikan dengan raihan penghargaan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional (BKKBN) dalam komitmen mendukung penuh program pengendalian stunting di Indonesia pada Selasa (11/11/2025).
Dalam kesempatan itu Prof Dr Sri Sumarmi SKM MSi menyebut penghargaan tersebut adalah bukti nyata Unair mendukung penanganan stunting melalui kegiatan tridharma perguruan tinggi. Selain itu, penghargaan tersebut semakin menguatkan komitmen Unair dalam terus mendukung implementasi program Sustainable Development Goals (SDGs).
“Selain menjadi bukti komitmen Unair mendukung program penanganan stunting, ajang ini menjadi pembuktian kami dalam mendukung SDGs. Salah satu program unggulan kami yaitu Desa Emas menjadi contoh implementasi poin SDGs diantaranya SDGs 1, SDGs 2, SDGs 3, SDGs 5, SDGs 6, SDGs 10, SDGs 12, dan SDGs 17,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Selasa (18/11/2025).
Prof Sumarmi mengungkapkan bahwa dalam mendukung penanganan stunting, Unair memiliki peran besar sebagai perguruan tinggi. Unair aktif menerjunkan mahasiswa dan dosen dalam kegiatan KKN, PKL, magang dan kegiatan akademik lainnya yang mendukung penanganan stunting. Selain itu Unair ikut mendukung berbagai riset dan penelitian civitas academica dengan topik terkait stunting.
“Dalam berbagai riset, kami menggandeng mitra eksternal seperti BKKBN, pemerintah daerah, NGO serta industri. Selain itu, kami rutin menyelenggarakan pengmas untuk mengimplementasikan hasil riset kami pada masyarakat dan bekerjasama dengan dinas terkait untuk melakukan pendampingan. Kegiatan pendampingan dilakukan di masyarakat maupun di institusi pemerintah untuk meningkatkan kinerja program,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prof Sumarmi menyebut bahwa sumbangsih Unair dalam penanganan stunting di 20 kabupaten/kota di Jawa Timur memberikan kontribusi dalam menurunkan prevalensi stunting dari 17,7 persen ke 14,7 persen. Capaian tersebut sekaligus mendukung Jawa Timur menjadi provinsi dengan prevalensi stunting terendah kedua di Indonesia. nti





