
JAKARTA (wartadigital.id) – Sinovac adalah vaksin corona yang paling banyak dipakai di Indonesia. Namun, imunogenisitas (hasil kadar imun) vaksin Sinovac disebut turun 6 bulan usai seseorang disuntik penuh dan efikasinya baru mencapai 65%. Hal ini merupakan riset yang dilakukan di dua negara. Yakni Tiongkok dan Indonesia.
Jubir Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi mengakui fakta tersebut, tetapi ia memastikan vaksin Sinovac masif efektif untuk memerangi virus corona. “Penurunan (imunogenisitas) terjadi, tapi masih efektif sampai saat ini,” kata Nadia, Rabu (28/7/2021).
Karena itu saat ini booster vaksin atau vaksinasi tahap tiga sudah mulai diberikan kepada tenaga kesehatan menggunakan vaksin Moderna yang memiliki efikasi cukup tinggi dibanding Sinovac, yaitu 94,1 persen. Sebagai sasaran vaksinasi nasional tahap pertama, mayoritas nakes sebelumnya telah divaksin Sinovac dosis penuh sejak Januari 2021.
Booster vaksin bertujuan untuk memberikan perlindungan ekstra bagi mereka yang tengah berjuang di garda depan menangani lonjakan pasien Covid-19. Terlebih apabila mengingat imunogenisitas vaksin Sinovac turun setelah 6 bulan.
Kendati demikian, Nadia memastikan hingga saat ini belum ada rencana untuk memberikan booster vaksin corona kepada masyarakat umum. Ia menegaskan pencapaian target vaksinasi dosis pertama dan kedua bagi 208 juta penduduk RI masih menjadi prioritas utama.
“Kepada umum sampai saat ini tidak kita berikan, ya. WHO sendiri tetap merekomendasikan untuk percepatan vaksinasi yang mendapatkan dosis 1 dan 2 di tengah keterbatasan vaksin, dibandingkan pemberian vaksin ketiga,” jelas Nadia.
Nadia menyebut semakin banyak orang yang telah mendapatkan vaksin lengkap dua dosis maka laju penularan dan pandemi dapat dikendalikan.
Sejumlah penelitian terkait vaksin Sinovac akhir-akhir ini telah menunjukkan fakta terbaru. Imunogenisitas seseorang yang telah divaksinasi sebanyak dua kali dengan Sinovac akan memudar setelah 6 bulan.
Indonesia merupakan salah satu negara yang menggunakan Sinovac sebagai vaksin Covid-19. Vaksin produksi China ini sendiri menurut BPOM memiliki efikasi sebesar 65 persen. Sekitar awal Januari 2021 lalu, pemerintah mulai memberikan vaksin Sinovac kepada para tenaga kesehatan yang dianggap paling berisiko tertular.
Sebelumnya, penurunan imunogenisitas vaksin Sinovac diungkap oleh Guru Besar FK Universitas Padjadjaran Prof Kusnandi Rusmil. Oleh sebab itu, kata Prof Kusnandi, penyuntikan ulang atau suntikan ketiga nantinya dianjurkan untuk dilakukan terhadap para penerima vaksin ini. “Sinovac setelah 6 bulan (imunogenisitas) itu turun, sehingga memang rencananya setelah 6 bulan harus disuntik ulang apalagi di tengah lonjakan kasus seperti saat ini,” kata Prof Kusnandi .
Hanya saja, rencana ini menurut Prof Kusnandi sebaiknya dilakukan apabila mayoritas masyarakat sudah mendapatkan vaksin. Sementara kini baru sekitar 21 persen penduduk dari total target yang telah mendapatkan setidaknya vaksin dosis pertama.
Selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan di Bandung tersebut, penelitian dari Tiongkok baru-baru ini juga mengatakan hal yang sama. Hasil penelitian ini didapatkan dari pengecekan sampel darah orang dewasa sehat berusia 18-59 yang dibagi menjadi dua kelompok dengan peserta masing-masing lebih dari 50 orang. Hasilnya, tak sampai dari separo peserta yang memiliki antibodi di atas ambang batas. set, kpr