Lonjakan Gila Minyakita di Berbagai Daerah Rapor Merah Zulkifli Hasan

Harga Minyakita di berbagai daerah saat ini mengalami kenaikan di atas HET.

JAKARTA (wartadigital.id) – Wacana kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng subsidi, Minyakita menjadi sorotan tajam. Kenaikan minyak goreng yang tak terkontrol akan menjadi wujud kegagalan pemerintah, khususnya para menteri yang berkutat di sektor pangan.

Pengamat politik Citra Institute Efriza secara khusus menyoroti sepak terjang Zulkifli Hasan (Zulhas), pencetus Minyakita saat masih menjadi Menteri Perdagangan. Zulhas terkesan lepas tangan, padahal posisinya kini menjadi Menteri Koordinator Bidang Pangan.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, kebijakan yang diambil Zulhas kontraproduktif dan semakin mencekik ekonomi rakyat. Padahal, Indonesia menyandang status sebagai salah satu produsen sawit terbesar di dunia. “Zulhas semakin mempersulit ekonomi masyarakat. Kegagalan Zulhas menunjukkan ironi atas status Indonesia sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar dunia,” tegas Efriza, Minggu (10/5/2026).

Berdasarkan pantauan pasar hingga 10 Mei 2026, harga Minyakita di tingkat pedagang telah melampaui HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 15.700 per liter. Di beberapa wilayah, harga bahkan sudah menembus angka psikologis Rp 20.000.

Di Jakarta, misalnya, sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Cijantung dan Rawamangun mematok harga Minyakita menyentuh Rp2 2.000 per liter. Lalu di Pekanbaru Riau, harga dilaporkan melonjak drastis hingga Rp 20.000 sampai Rp 23.000 per liter jauh melampaui harga minyak goreng premium.

Pantauan lain terjadi di Bekasi dan daerah lain di Jawa Barat. Rata-rata harga di tingkat pengecer berada di kisaran Rp 18.500 – Rp 20.000 per liter.

Secara nasional, data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) menunjukkan rata-rata nasional berada di angka Rp 16.000 – Rp 17.500, namun stok di lapangan seringkali langka atau dijual dengan sistem bundling.

Rapor Merah Tata Niaga Pangan

Menurut Efriza, persoalan utamanya bukan pada ketersediaan bahan baku, melainkan pada karut-marutnya distribusi dan lemahnya pengawasan. Ia menyebut kenaikan HET sebagai “jalan pintas” yang tidak menyelesaikan akar masalah. “Kapasitas Zulhas dalam menjaga kestabilan harga minyak goreng domestik justru terlihat karut-marut,” cetusnya.

Lebih lanjut, ia mendorong pemerintah untuk memperkuat pengawasan distribusi dan menindak tegas para penimbun maupun pedagang nakal, ketimbang mengubah aturan harga.  “Bukan malah memilih menaikkan HET Minyakita. Itu menunjukkan kegagalan pemerintah, sementara yang harus menanggung dampaknya adalah rakyat,” sindir Efriza.

Efriza pun menyimpulkan bahwa lonjakan harga yang tak terkendali ini menjadi bukti nyata lemahnya manajemen pangan di bawah komando Zulhas. “Naiknya HET Minyakita bukan solusi, tetapi bukti kegagalan kerja Zulhas sebagai Menko Pangan,” demikian Efriza. rmo

Pos terkait