
MALANG (wartadigital.id) — Universitas Brawijaya (UB) merasa kecolongan atas tindakan RR, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) Malang, yang nekat menjatuhkan diri dari lantai enam gedung di Fakultas Pertanian UB, Kamis (10/9/2026).
Sekretaris Universitas Brawijaya (UB) Tri Wahyu Nugroho mengatakan Pimpinan UB merasa sangat prihatin dengan kejadian kemarin. “Itu di luar dugaan kami,” ujarnya Jumat (11/9/2026).
Sebelumnya, dia menegaskan, UB sudah memperketat di Tim Divisi Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Universitas Brawijaya (K3L) yang ada di universitas. Bahkan semua fakultas sudah memiliki ahli K3L. “Itu sudah ada disiapkan untuk mengecek masing-masing gedung fakultas dan mereka juga memberikan report kepada kami,” ucapnya.
Namun dia mengakui, UB mungkin kecolongan. Pihaknya sudah berusaha maksimal, tetapi kejadian RR yang nekat menjatuhkan diri dari lantai enam gedung Fakultas Pertanian UB terjadi. “Tentu kami prihatin dan ini menjadi bahan evaluasi bagi kami untuk lebih memperketat lagi pada khususnya untuk akses-akses gedung yang tinggi,” ujarnya.
Dia menegaskan, UB nantinya akan sangat lebih ketat untuk akses-akses ke gedung yang lebih tinggi. Terkait penanganan masalah psikologis dan lainnya, dia meyakinkan, di setiap fakultas itu ada konseling. Begitu juga di tingkat universitas juga ada Satgas yang menangani hal itu. “Walaupun kalau masih terjadi berarti memang kami harus selalu mengevaluasi. Kami akan ada evaluasi lagi secara menyeluruh, baik dari aspek penanganan masalah kesehatan mental maupun juga aspek K3L,” ucapnya.
Dia meyakinkan, UB merencanakan akan modifikasi jendela di gedung-gedung tinggi. Tetapi mungkin untuk tahun anggaran tahun depan.
Ketua Program Studi Kedokteran FK UB, Hanif, menegaskan FK berkoordinasi dengan Rektorat, dengan fakultas lainnya, dan juga dengan Rumah Sakit Dr Saiful Anwar untuk memantau perkembangannya RR. Secara umum dapat disampaikan, pada Kamis (10/9/2025), sudah dilakukan tindakan oleh tim di RSSA dari berbagai spesialis sudah dilakukan rangkaian operasi yang dibutuhkan. “Kemarin sekitar 17.00 WIB kalau tidak salah itu operasinya sudah selesai. Kemudian mahasiswa kami mendapat perawatan lebih lanjut di ICU RSSA,” ucapnya.
Dijelaskannya secara umum RR dalam kondisi stabil. “Tetapi karena saya bukan tim medis yang menangani di RSSA, maka saya tidak dapat menjawab secara detail,” katanya.
Menurutnya, pihak keluarga sudah hadir, sudah ada. FK sudah berkomunikasi, begitu juga terkait langkah-langkah yang sudah dilakukan dan yang akan dilakukan ke depan. “Saat ini kami dalam posisi menunggu kabar lebih lanjut dari tim dokter yang menangani,” ujarnya.
Menurut, FK UB memitigasi atau pencarian informasi adalah pada bidang institusi pendidikan. FK tidak dalam rangka mencari informasi lain di luar itu. Terkait ada narasi-narasi yang dikaitkan dengan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PK2MABA), pihaknya tengah menelusurinya. Hasilnya, pihaknya memastikan berita itu tidak benar. Terkait dugaan ada tekanan selama PK2MABA, baik di universitas maupun di fakultas, ada masalah ketidaklulusan, tidak benar. “Dapat kami sampaikan di sini, mahasiswa kami tersebut (RR), memang pada tahun lalu ada tidak masuk pada saat PK2MABA, ada ketidakhadiran, dan itu sudah diganti. Bukan mengulang PK2MABA, tetapi hanya mengganti ketidakhadiran. Dan itu sudah clear, sudah selesai, yang bersangkutan dinyatakan lulus PK2MABA, dan tidak ada kaitan apa pun dengan itu. Kami tidak melihat ada indikasi terkait dengan sesuatu dengan PK2MABA,” ucapnya.
Dia juga mengonfirmasi bahwa keputusan nekat RR tidak terkait dengan masalah akademik. Dari sisi akademik, perjalanan akademik yang bersangkutan, prestasinya, kehadirannya, dan sebagainya itu semua dalam kondisi baik. “Tidak ada hal yang mengarah kepada sesuatu kesulitan maupun tekanan. Apalagi dari kakak kelas atau dari dosen dan sebagainya, tidak ada. Kami konfirmasi RR dalam kondisi sehari-hari dalam kondisi kuliah yang baik, kehadiran baik, prestasi baik. IPK-nya RR ini 3,8,” ujarnya.
Dia meyakinkan, RR bukan mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam pendidikan. Karena itulah, dalam hal akademik, pendidikan, maupun kemahasiswaan yang bersangkutan tidak ada masalah. “Di luar itu, kami mohon maaf kami rasa bukan wewenang kami untuk menyampaikan itu, dan kami berusaha untuk menjaga privasi baik dari yang bersangkutan maupun keluarga. Itu merupakan ranah penyelidikan pihak kepolisian. Saya rasa nanti dari kepolisian yang akan menyampaikan,” ujarnya. sin, bis, ins





