
JAKARTA (wartadigital.id) –Kementerian Agama (Kemenag) berkomitmen untuk memajukan pesantren di Indonesia dengan menaikkan anggaran pengembangannya sebesar 240%. Kebijakan ini berlaku untuk tahun anggaran 2025 dan 2026, sebagai bentuk perhatian serius terhadap kesenjangan antara pendidikan umum dan pendidikan pesantren.
“Saya periksa anggaran untuk pesantren, ternyata masih sangat sedikit. Maka, saya putuskan untuk menaikkan anggaran sebesar 240 persen, baik untuk tahun ini maupun tahun depan,” kata Menag Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dikutip, Rabu (25/6/2025).
Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal itu, kondisi pesantren saat ini masih memprihatinkan jika dibandingkan dengan sekolah negeri. Ia menyoroti perbedaan mencolok dalam hal fasilitas dan kesejahteraan tenaga pendidik. “Gaji di sekolah negeri bisa sampai Rp 4 juta. Sedangkan gaji guru di sebelahnya (pesantren) ada yang hanya Rp 200 ribu. Banyak guru di pesantren yang gajinya hanya Rp 200 ribu,” tegasnya.
Nasaruddin pun menggambarkan bagaimana banyak pesantren masih bergantung pada tanah milik yayasan dan minim fasilitas, termasuk perpustakaan yang kadang harus berbagi dengan milik pribadi kiai. Meski begitu, Menag mengaku bangga karena banyak alumni pesantren yang berhasil menembus kampus-kampus terbaik di Indonesia. “Kami dapat laporan, di ITB dan UGM, alumninya ada yang hafal Al-Quran dan menjadi sarjana fisika. Mereka adalah lulusan pesantren,” ujarnya.
Nasaruddin optimistis bahwa jika para santri mendapatkan dukungan fasilitas dan sarana yang layak, pesantren akan semakin berkembang. Ia pun mencontohkan keberhasilan MAN Insan Cendekia Serpong yang menurutnya menjadi sekolah paling unggul di Indonesia dengan anggaran yang lebih kecil dibanding sekolah-sekolah unggulan lainnya.
Atas dasar itu, Menag mengajak para kiai dan pengasuh pesantren untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan agar mampu mencetak insan kamil atau manusia paripurna yang menguasai ilmu agama, sains, dan memiliki spiritualitas tinggi.“Mereka adalah para insan kamil yang menjadi panutan bagi umat Islam,” ujarnya.
Menag pun menyebut nama-nama ulama besar seperti Jabir bin Hayyan, Ibnu Rusyd, Al-Biruni, Al-Khawarizmi, dan Ibnu Sina sebagai contoh. “Maka, sebagai Menag, mohon berikanlah kami masukan dan bimbingan, sehingga bisa melahirkan insan-insan kamil seperti para ulama abad pertengahan,” demikian Nasaruddin. rmo




