
Penulis : Faisol Ramdhoni
Langit Surabaya sore itu seperti kelopak doa yang belum sempat mekar. Matahari menggantung lesu di barat, meneteskan cahaya keemasan di trotoar kota yang sibuk dan letih. Abdullah turun dari bus antarkota dengan langkah pelan, membawa ransel kecil dan segenggam kerinduan.
Fikri, sahabat lamanya semasa kuliah, kini pemilik sebuah kafe elegan di pusat kota. Tempatnya mirip dengan kedai kopi Barat, berdinding kaca, musik lembut mengalun, barista sibuk meracik biji dari Ethiopia atau Flores, Padahal dulu, kopi bukan sekadar minuman. Ia pernah dianggap racun bagi akhlak, pengganggu tertib sosial, bahkan bibit pemberontakan. Di masa Murad IV, Sultan Kekaisaran Ottoman (1623–1640), menyeruput kopi bisa berarti menyerahkan nyawa—karena cangkir dianggap lebih berbahaya dari pedang.
Namun larangan itu karam bersama gelombang cinta manusia pada rasa dan pertemuan. Para ulama, dalam hikmah yang bergumul, akhirnya mengakui: kopi bukan maksiat, melainkan wasilah. Biji-biji kecil berwarna gelap itu pun mengembara, menyusuri jalur Ottoman dan pelabuhan Mocha, lalu menetes ke cangkir-cangkir Eropa.
Sejak itu, kopi tidak hanya menghangatkan tubuh, tapi juga percakapan, pemberontakan, bahkan doa yang diseduh diam-diam di balik sunyi malam. “Kau masih suka lelaku, Dul? Masih puasa sunah, nyepi di makam wali, zikir malam sampai subuh?” tanya Fikri lewat pesan suara.
“Masih,” jawab Abdullah. “Kalau begitu, aku butuh bantuanmu. Kafeku sepi. Aku ingin kau melakukan sesuatu. Semacam ritual. Biar berkah turun, rezeki mengalir.”
Dus, Abdullah datang bukan untuk menikmati espresso atau cappuccino. Ia datang dengan niat yang lebih dalam. Untuk melakukan sesuatu—ritual, lelaku, apapun yang dulu sering mereka diskusikan ketika malam-malam mahasiswa diisi dengan puasa dan zikir, bukan pesta dan bir.
Di antara bau kopi yang harum dan cahaya kuning yang menggantung tenang dari langit-langit, Abdullah duduk lebih awal dari janji yang disepakati. Ia ingin mendengar suara ruang sebelum manusia datang dengan segala bisingnya. Ia ingin membaca getar tak kasatmata yang menempel di dinding dan kursi, ingin menyerap aroma waktu yang mungkin membawa luka, tawa, atau kenangan.
Ia seperti sedang bertapa dalam sunyi modern, di altar robusta dan gayo, kopi khas nusantara, mencari tanda-tanda spiritual di balik gelas-gelas kaca dan mesin penggiling. Dalam diam, ia tahu: di setiap tempat, bahkan yang kelihatannya sekuler sekalipun, Allah tetap bersemayam dalam senyap. Ia menunggu siapa yang datang dengan hati bersih dan doa yang tak disebutkan. Lalu ia melihatnya. Sosok perempuan di seberang meja, yang wajahnya mencuri sepotong ingatan lama. Marmi.
Setahun lalu, selepas ziarah ke makam Sunan Giri, seorang temannya mengajaknya singgah di warung kopi. Tapi bukan kopi biasa. Warung kopi pangku. Tempat di mana kopi disajikan dengan pelayan yang duduk di pangkuan, dengan lampu kelap-kelip seperti doa yang ingin dipadamkan. Ia hampir menolak. Tapi ia ingin tahu, ingin menyaksikan dunia lain yang tidak ada dalam buku fikih. Marmi datang kepadanya malam itu. Duduk di pangkuan Abdullah seperti biasa dilakukan kepada pengunjung lain. Tangan Abdullah gemetar. Bukan karena birahi, tapi karena kasihan pada semesta yang sering salah letak. Abdullah menolak dengan halus,tapi tetap hormat sambil menahan lembut pundaknya. “Saya hanya ingin kopi. Bukan pangkuan.”
Marmi menatap. Tatapannya tidak marah, tidak tersinggung. Justru teduh, seperti sungai kecil yang menunggu muara. “Jarang ada yang menolak,” katanya. “Tapi saya suka yang menolak. Karena mereka biasanya datang dengan cerita, bukan hanya uang.”
Mereka bicara. Sejam lebih. Tentang kedua anak-anaknya. Tentang suaminya yang kabur. Tentang hidup yang tidak semanis gula sachet. Dan tentang taubat yang tak semudah ceramah di televisi. “Saya ini ingin berubah, Mas. Ingin tutup aurat, ingin salat lima waktu, ingin berhenti dari dunia ini. Tapi taubat juga butuh ongkos. Perubahan juga butuh modal.”
“Betul uang bukan segala galanya tapi hari gini segalanya butuh uang “ lanjut Marmi. Abdullah diam. Lalu mengutip pelan ayat dari Ar-Ra’d: “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
“Saya tahu ayat itu, Mas,” ujar Marmi. “Tapi ayat itu juga sering dijadikan tameng oleh para muballigh kaya yang ceramahnya dari balik mobil Alphard dan rumah bertingkat. Mereka bilang, ‘bertaubatlah’, ‘bersabarlah’, ‘tawakkallah’. Tapi mereka tak pernah benar-benar merasakan bagaimana rasanya dompet kosong blong dan ditagih sewa kontrakan, bagaimana rasanya menggendong anak yang demam saat perut lapar”
Mata Marmi menajam. Bukan karena amarah, tapi luka yang sudah lama dibiarkan membuka sendiri. “Mereka ceramah soal ikhlas, tapi sendalnya tidak pernah putus. Mereka bicara soal sabar, tapi AC rumahnya lebih dingin dari kubah masjid. Mereka bilang rejeki dari Allah cukup, tapi uang kuliah anak-anak mereka dari rekening deposito.”
“Jangan kamu pikir aku ini tak percaya janji Allah,” ucap Marmi. “Aku percaya. Tapi uang tak turun dari langit begitu saja. Siapa yang akan ngasih makan anak-anakku jika aku keluar dari sini sekarang?”
Abdullah tak menjawab. Ia hanya mendengar. Kadang, doa paling dalam bukan yang terucap, tapi yang membeku di dada dan menangis diam-diam. “Aku datang ke makam Sunan Giri sebulan sekali,” lanjut Marmi, “Aku menangis. Minta jalan. Tapi jalan itu tidak terbuka begitu saja.”
Malam itu, suara Marmi terdengar seperti pidato Camille Desmoulins, di tahun 1789, yang berdiri di atas meja kedai kopi kuno Café de Foy, menjadi pemicu meledaknya revolusi Prancis, perlawanan melawan monarki. Tapi ini bukan tentang monarki. Ini tentang perempuan yang melawan takdir pahit dengan secuil harapan.
Air mata jatuh perlahan dari pipinya. Di antara remang, Abdullah merasa berada di tengah zikir yang tertahan. Ia tidak menjawab. Hanya mengucap satu kalimat lirih: “Kalau kau ikhlas, Allah akan kirimkan jalannya. Mungkin tidak hari ini. Tapi pasti.”
Dan kini, setahun berlalu. Mata Abdullah kembali menatap perempuan itu. Tapi kini ia berhijab. Langkahnya anggun, seperti alunan doa yang baru saja turun dari langit. Suaranya lembut menyapa pelanggan, seperti ayat-ayat cinta yang dibaca malam hari. Tak ada lagi lampu remang, tak ada pangkuan. Tak ada kerlap-kerlip karaoke yang semu. Yang tersisa hanyalah aroma kopi, senyum ketulusan, dan dzikir yang senyap di sudut waktu.
Saat ia menuang kopi ke gelas pelanggan lain, gerakannya seperti gerakan tangan ibu yang memeluk anaknya. Tercekat. Ada desir aneh di dada. Wajah itu bukan hanya berubah, tapi telah menemukan wajah aslinya. Bukan wajah pramusaji remang, tapi wajah perempuan yang menang di dalam dirinya sendiri.Fikri datang dan ikut menatap.
“Itu baristaku sekarang. Istri dari kenalanku. Dulu dia kerja di tempat yang… yah, kamu tahu. Sekarang dia bantu suaminya kedai makanan di rumahnua saat pagi sekali, dan siang hingga malam jam delapanan bantu di sini juga. Namanya Marmi.”
Nama itu jatuh seperti batu kecil ke dalam danau tenang di dada Abdullah. Riaknya menjalar hingga ke sudut ingatannya yang paling sunyi. Mereka bertemu pandang. Tak ada kata, hanya sepasang mata yang bicara dalam bahasa yang tak pernah diajarkan di sekolah.
Marmi mendekat pelan-pelan, seperti seseorang yang membawa masa lalu dalam nampan sunyi. Ia menunduk sedikit lalu bertanya, suaranya pelan namun tajam mengiris kesadaran, “Masih ingat saya, Mas?”
Abdullah tersenyum. “Iya,” jawabnya pendek, tapi dalam. Sepotong kata itu membawa guguran kenangan yang tak sempat ditebus waktu. Abdullah menunduk. Ada haru yang menyesak di dada. Seolah seluruh kisah yang pernah mereka lalui bersama—zikir yang tak selesai, doa yang belum sempat dibacakan, dan luka yang sempat ditampung dalam gelas kopi murahan—kini sedang dikembalikan oleh Allah dalam rupa yang lebih indah.
Ia ingin menangis. Tapi tak ada air mata. Hanya dada yang sesak, dan hati yang penuh syukur: Allah benar-benar tak pernah tidur. Bahkan kepada mereka yang pernah duduk di ruang remang, Ia tetap hadir sebagai cahaya. “Masih suka ziarah, Mas?” tanya Marmi.
“Selalu. Di sana aku sering ingat kamu. Doa yang belum selesai waktu itu.” Marmi tersenyum, namun matanya menyimpan gurat luka yang telah dijahit waktu dan air mata.
“Doa itu sedang mekar, Mas. Tapi mekar itu tak mudah. Ada duri di setiap kelopak. Dulu saya nabung diam-diam dari sisa-sisa tips pelanggan—seribu, dua ribu—dari tangan-tangan yang tak pernah benar-benar peduli, tapi saya ambil berkahnya. Lalu saya berhenti. Saya pulang. Beberapa hari cuma makan mi dan air putih. Tapi di musholla kampung saya, saya menangis malam-malam, seperti anak kecil yang baru kenal langit.
Lalu datang dia. Lelaki sederhana, penjual tempe di pasar. Dia tak pernah tanya tentang masa lalu saya. Katanya, masa lalu itu cuma jalan setapak. Yang penting sekarang kita sama-sama menuju cahaya.”
Abdullah mengangguk. Di balik rasa, ada cahaya. Di balik luka, ada zikir. Mereka duduk sebentar. Marmi menyuguhkan kopi jahe yang ia racik sendiri. Aromanya tak semewah cafe elite, tapi lebih hangat.
“Saya ingat kata Mas waktu itu: Tuhan akan datang kalau kita sungguh menunggu-Nya. Saya tunggu. Pelan, tapi saya yakin. Dan ternyata benar.” Marmi pun melanjutkan ceritanya dengan mata yang berkaca, bahwa suaminya itu berasal dari Aceh. Ia merekam semua perjuangan menuju masa depan ini dengan menaruh lukisan Teuku Umar di dinding kedai mereka. Teuku Umar dikenal dan dikenang sebagai seorang pahlawan yang pernah menjadikan warung kopi sebagai simbol kemenangan dari perlawanan dan kehormatan.
Marmi pun mengucapkan kutipan yang terpatri di bawah lukisan itu, kutipan yang disalin dari Monumen Teuku Umar di Meulaboh. “Beungoh Singoh Geutanjoe Jep Kupi di Keude Meulaboh atawa Ulon akan Syahid.”
Secangkir kopi bisa menjadi medan perang bagi siapa saja yang berani memperjuangkan cinta dan keselamatan jiwa. Dan warung mereka bukan sekadar tempat menjual makanan dan minuman, tapi tempat merajut hidup baru, seteguk demi seteguk, dengan segenap iman dan keberanian. Langit mulai meredup. Kaca jendela mengaburkan wajah-wajah. Tapi Abdullah tahu: ada cahaya yang dulu ia lihat di makam wali, kini ia temukan di mata Marmi. Dan di hatinya, ia menggumamkan satu kalimat yang telah menjadi kenyataan:
Man Jada Wajadda. Barangsiapa bersungguh-sungguh, akan menemukan jalannya. Maka jalan itu pun terbuka, bahkan dari secangkir kopi, dan dari pangkuan yang telah berubah menjadi sajadah. Dan ketika senja mulai turun di kaki langit, Abdullah menatap sisa kopi yang menggurat di dinding cangkir. Aroma kopi tetap menguar, tapi kini disusupi haru dan rasa syukur yang sunyi. Ia tak lagi sekadar menikmati kopi—ia sedang menyaksikan doa yang tumbuh diam-diam dari luka, dari remang yang perlahan menjadi cahaya.
Lalu terngiang di kepalanya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dikisahkan oleh Abu Hurairah ,Jika selama ini hanya ia dengar di mimbar dan ceramah, tapi kini menjelma nyata di depan matanya:
“Seorang wanita pezina diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan. Si wanita pelacur tersebut lalu melepas sepatunya, dan dengan penutup kepalanya. Lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya ini, dia mendapatkan ampunan dari Allah.” (HR. Al-Bukhari). *
Penulis adalah Aktivis dan Pendiri Nahdliyin Bergerak (NABRAK) Madura dan Kolumnis di Berbagai Media Massa