
PALEMBANG (wartadigital.id) – Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Dra Maria Ernawati sangat mengapresiasi keberhasilan Kota Surabaya yang mendapatkan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh BKKBN RI. Tidak hanya mendapatkan satu penghargaan tertinggi, Kota Surabaya langsung mendapatkan dua penghargaan tertinggi.
“Khusus Kota Surabaya ini sungguh luar biasa dan membanggakan. Tidak hanya Walikota Surabaya saja yang dapat Penghargaan Manggala Karya Kencana, tetapi Ketua TP PKK Surabaya pun mendapatkannya, ” jelas Erna di sela-sela kegiatan Temu Jawara, Temu Mupen Jawa Sumatera di Jakabaring Spot City, Palembang, Rabu (5/6/2023).
Erna menjelaskan Penghargaan Manggala Karya Kencana ini merupakan penghargaan tertinggi dari BKKBN RI untuk keteladanan, juga untuk pencapaian program Bangga Kencana dan percepatan penurunan stunting yang sangat luar biasa di Kota Surabaya
“Kota Surabaya ini untuk prevalensi stunting paling rendah di Jawa Timur, satu digit saja yaitu 4,8 persen. Harapan kami, apa yang sudah dicapai, kami mohon dukungannya untuk terus dijaga supaya stuntingnya tidak naik, tidak ada kelahiran baru stunting. Kami berharap bisa diturunkan lagi kalaupun tidak bisa maka kami harapan Kota Surabaya bisa mempertahankan prevalensi satu digit,” ungkapnya.
Untuk Program Bangga Kencana, sambung Erna, pihaknya berharap ada pencapaian program-program baik pembangunan kelompok kegiatan, dari sekolah lansia tangguh, sekolah orang tua hebat, Penyuluh KB (PKB), Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), Bina Keluarga Lansia (BKL), dan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) juga bisa dilaksanakan .
Di tempat berbeda, Walikota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan Pemkot Surabaya memiliki komitmen untuk melakukan pembinaan keluarga, menjadikan keluarga lebih baik.
“Program Pemkot Surabaya bisa jalan karena juga didukung oleh PKK, Kader Surabaya Hebat, Kader Lingkungan dan seluruh masyarakat sehingga angka stunting di Kota Surabaya yang pada 2021 sebesar 28.5 persen turun menjadi 4,8 persen pada 2022,” tutur Eri Cahyadi didampingi Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya Rini Indrayani di Palembang, Rabu (5/6/2023).
Eri menegaskan hal yang menjadi kunci keberhasilan Kota Surabaya yaitu kerja secara bersinergi dan semua lapisan masyarakat bergerak. “Inilah yang dicapai Kota Surabaya sehingga mendapatkan penghargaan Manggala Karya Kencana. Bukan saya atau istri yang menerima penghargaan tetapi seluruh masyarakat Kota Surabaya adalah penerima penghargaan ini, ” tegas Eri.
Eri menambahkan Kota Surabaya memiliki 48 ribu Kader Surabaya Hebat yang berada di setiap RT dan RW, selain itu ada Kader Lingkungan sebagai koordinator. Di sanalah, para kader ini berjibaku bersama pemerintah.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Selalu saya sampaikan bahwa sebuah kota tidak akan maju dan sejahtera karena walikotanya bukan karena pemerintahnya tapi bagaimana masyarakatnya memiliki rasa saling menghormati, rasa guyup rukun dan tepo sliro. Itulah yang dilakukan oleh Kader Surabaya Hebat bila ada pendatang di wilayah mereka maka mereka akan mendatangi, mendata dan melihat bagaimana kondisi mereka. Sehingga program-program kami tetap bisa dilaksanakan, “terangnya.
Sebagai Walikota Surabaya, sambung Eri, dirinya dan istri sadar bagaimana keberadaan keduanya bisa bermanfaat dan bermaslahat untuk umat. Sehingga program yang dibangun bukan membangun sebuah bangunan monumental yang bisa dilihat fisik nyatanya tetapi juga membangun sumberdaya manusia (SDM). Untuk membangun SDM yang diperlukan adalah mengubah mindset tidak hanya mindset masyarakatnya saja tetapi juga mindset birokrasinya.
“Selalu saya tegaskan bahwa kita bukan raja atau pejabat tapi kita sama yaitu kita orang Surabaya. Sehingga pembangunan Kota Surabaya harus kita lakukan secara bersama-sama. Bagaimana Surabaya bisa menurunkan stunting? Itu bukan karena saya, tetapi karena seluruh masyarakat Surabaya, ” imbuhnya.
Di tempat yang sama, Ketua TP PKK Kota Surabaya Rini Indrayani menjelaskan dia sangat bersyukur memiliki kader PKK yang militan, para kader ini tetap bekerja dengan sepenuh hati walaupun tidak mendapatkan gaji.
“Kami melaksanakan tugas dengan pendekatan secara psikologis dan dilakukan secara door to door terhadap keluarga berisiko. Bahkan kami akan turun langsung ke keluarga yang memiliki banyak putera. Saat kami berhasil melakukan pendekatan psikologis dan mereka mau ber-KB maka hari itu juga dilaksanakan. Kami takut mereka akan berubah pikiran bila ditunda, “jelas Rini.
Bahkan, sambungnya, saat kegiatan turun untuk menyapa langsung para keluarga berisiko yang mendampingi tidak hanya kader tetapi juga Ketua TP PKK kelurahan bahkan lurah serta tenaga kesehatan dari puskesmas atau dinas kesehatan ikut terlibat. sis