Menjaga Nama Baik dari Lereng Semeru

Barisan pohon kopi di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang

LUMAJANG (wartadigital.id) – Sebelum matahari menembus kabut yang menyelimuti lereng Gunung Semeru, Rifki Medianto sudah melangkah di antara barisan pohon kopi di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Keranjang rotan menggantung di pundaknya, sementara embun masih membasahi dedaunan yang menaungi kebun.

Bacaan Lainnya

Di hadapannya, ratusan buah kopi berwarna merah menggantung di setiap ranting. Namun tidak semuanya dipetik.

Beberapa justru dibiarkan tetap berada di pohonnya. “Belum waktunya,” ucap Rifki singkat.

Bagi petani kopi, keputusan itu bukan perkara sepele. Buah yang dipetik sebelum matang sempurna akan memengaruhi cita rasa, aroma, hingga kualitas kopi yang kelak dinikmati para penikmatnya. Dari keputusan-keputusan kecil seperti itulah mutu kopi Senduro dijaga.

Kabut perlahan bergeser ketika cahaya pagi mulai menembus rimbunnya pohon durian, nangka, pisang, manggis, kapulaga, dan vanili yang tumbuh berdampingan dengan tanaman kopi. Lanskap itu menjadi ciri khas perkebunan rakyat di Senduro yang sejak lama mempertahankan sistem tanam tumpang sari.

Pola budidaya tersebut tidak hanya menjaga kesuburan tanah dan kelembapan lahan, tetapi juga menciptakan keseimbangan ekosistem sekaligus memberi sumber pendapatan yang beragam bagi petani. Sejumlah kajian juga menunjukkan kawasan Senduro memiliki kondisi agroklimat yang sangat sesuai bagi pengembangan kopi robusta sehingga menjadi salah satu sentra kopi penting di Kabupaten Lumajang.

Buah yang telah dipetik dijemur hingga kadar airnya sesuai, kemudian digiling menjadi green bean sebelum disangrai dan dihaluskan menjadi bubuk. Setiap tahapan membutuhkan ketelitian karena sedikit saja kekeliruan dapat mengubah karakter rasa yang menjadi identitas robusta Senduro.

Kerja-kerja yang tampak sederhana itu sesungguhnya menjadi bagian dari denyut perkebunan kopi Kabupaten Lumajang. Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lumajang mencatat produksi kopi robusta pada 2025 mencapai 1.832,29 ton dari areal sekitar 4.003,70 hektare, meningkat dibandingkan 2024 yang menghasilkan 1.458,73 ton.

Angka itu menunjukkan bahwa kopi tetap menjadi salah satu komoditas perkebunan strategis yang menopang perekonomian masyarakat di berbagai wilayah, termasuk lereng Semeru.

Di antara ribuan petani itu, Rifki memilih jalan yang tidak selalu mudah. Selain mengelola kebun, ia mengembangkan Djodog Caffe sebagai ruang edukasi sekaligus hilirisasi produk kopi lokal. Baginya, kopi tidak berhenti sebagai hasil panen. Nilainya justru bertambah ketika mampu diolah, dikemas, dipasarkan, dan dikenalkan sebagai identitas daerah.

“Harga kopi bisa berubah mengikuti pasar, tetapi kualitas tidak boleh turun. Kepercayaan pembeli dibangun dari mutu yang konsisten,” katanya.

Prinsip itu membuatnya tidak tergoda memanen buah lebih awal ketika harga kopi sempat melonjak. Baginya, keuntungan sesaat tidak pernah sebanding dengan kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun.

Saat ini harga kopi kering berada di kisaran Rp65 ribu per kilogram, sedangkan kopi basah sekitar Rp10 ribu per kilogram. Pada periode Februari hingga Mei 2026, harga sempat meningkat karena pasokan di tingkat petani menurun. Namun naik turunnya harga tidak mengubah keyakinan Rifki bahwa kualitas tetap menjadi investasi jangka panjang.

Di ruang pengolahan Djodog Caffe, biji kopi yang telah kering mulai disangrai hingga berubah warna menjadi cokelat tua. Dari proses itulah aroma khas robusta perlahan muncul sebelum akhirnya digiling dan siap diseduh.

Menurut Rifki, salah satu kekuatan kopi Senduro terletak pada lingkungan tempat ia tumbuh. Tanaman kopi hidup berdampingan dengan berbagai tanaman buah dan rempah dalam sistem tumpang sari yang masih dipertahankan masyarakat. Pengalaman para petani menunjukkan kondisi tersebut ikut membentuk karakter rasa yang khas.

“Kalau kopi Senduro murni tanpa campuran beras atau jagung. Penikmat kopi sudah tahu kelebihannya. Yang kami jaga adalah kualitasnya,” tuturnya.

Komitmen menjaga mutu itulah yang membawa kopi Senduro melampaui batas daerah. Produk yang dikelola Djodog Caffe dipasarkan ke Surabaya, Malang, Sidoarjo, Tulungagung, Jakarta, Semarang, Bali, Kalimantan, hingga menjangkau Singapura, Malaysia, Dubai, dan Turki.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi juga oleh kemampuan memberi nilai tambah melalui pengolahan, penguatan merek, dan kepercayaan pasar.

Harapan Baru Bernama Liberika

Meski robusta masih menjadi andalan, Rifki tidak ingin kisah kopi Senduro berhenti di sana.

Di sela-sela kebunnya, ia mulai mengembangkan kopi liberika, varietas yang mulai diminati karena karakter rasa dan aromanya yang berbeda.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan terletak pada budidaya, melainkan masih terbatasnya pemahaman petani mengenai karakter setiap varietas sehingga proses panen dan pengolahannya belum sepenuhnya menghasilkan mutu terbaik.

“Jenisnya berbeda, rasanya berbeda, daunnya juga berbeda. Kendalanya, masih banyak petani yang belum memahaminya, padahal kopi ini sangat dicari para pecinta kopi,” ungkapnya.

Baginya, masa depan kopi tidak hanya bergantung pada luas kebun ataupun tingginya harga jual. Masa depan itu ditentukan oleh kemauan untuk terus belajar, berinovasi, dan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian agar manfaat ekonominya semakin besar bagi masyarakat.

Menjelang siang, kabut perlahan menghilang dari lereng Semeru. Aktivitas di kebun belum usai. Keranjang-keranjang rotan masih terus terisi buah merah yang dipilih satu per satu dengan kesabaran.

Esok pagi, Rifki akan kembali menyusuri jalan yang sama. Memanggul keranjang yang sama. Memilih buah yang sama.

Pekerjaan itu mungkin tampak sederhana. Namun dari keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap pagi, nama Senduro terus dijaga.

Sebab di lereng Semeru, kopi bukan sekadar komoditas. Ia adalah kepercayaan yang dipetik, dirawat, lalu dikirim ke berbagai penjuru dunia dalam setiap cangkir yang tersaji.

Dan selama tangan-tangan para petani tetap setia menjaga mutu, nama Senduro akan selalu ikut terseduh bersama aroma robusta yang lahir dari kaki Gunung Semeru. uja, mcl

Pos terkait