Orangtua adalah Partner Tumbuh Bersama Anak

Kepala.BKKBN.Jatim bersama Tokoh Intelektual Muslim Indonesia Sabrang Mowo Damar Panuluh sebelum Podcast Serunya Bercerita Bersama (Serasa) Perwakilan BKKBN Provinsi Jatim

 

SURABAYA (wartadigital.id) – Orangtua memiliki peran penting dalam proses tumbuh kembang anak. Sayangnya di era digital ini, masih banyak orangtua yang belum mengerti bagaimana harus menjadi orangtua bahkan masih banyak orangtua yang merasa masih memiliki otoritas penuh terhadap anak.

Bacaan Lainnya

Tokoh Intelektual Muslim Indonesia Sabrang Mowo Damar Panuluh  mengungkapkan bagi dirinya keluarga adalah tempat untuk pulang dengan meletakkan semua topeng-topeng tanpa akan mendapatkan penghakiman. Keluarga merupakan tempat untuk menjadi diri sendiri, bebas berekspresi, mengeluarkan pendapat tanpa takut akan adanya penghakiman.

“Keluarga adalah tempat melepaskan topeng maka orangtua harus bisa memberi ruang bagi anak untuk berbicara apa adanya dan melakukan kesalahan apa saja namun tetap diomongkan,” kata Sabrang dalam sebuah Podcast Serunya Bercerita Bersama (Serasa) Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur dalam keterangannya, Jumat (26/7/2024).

Pria yang lebih dikenal sebagai Neo Letto, Vokalis Band Letto ini menambahkan anak itu harus diberikan ruang untuk mencoba limit dan kadang harus merasakan sebuah efek dari kesalahan yang dilakukan. Namun hal itu tidak akan terjadi di dalam keluarga yang selalu memberlakukan sistem judge atau menghakimi dalam mendidik anak.

“Biarkan anak berproses dan melakukan kesalahan. Orangtua tidak boleh punya full otoritas terhadap anak. Namun orangtua harus menjadi partner dalam tumbuh bersama bagi anak mereka,”tegas putra pertama dari budayawan Emha Ainun Nadjib ini.

Alumnus Universitas Aberta,Kanada ini menjelaskan secara usia, orangtua memang lebih dewasa namun di era digital saat ini, orangtua tidak dapat dipastikan bahwa mereka lebih berpengalaman terhadap digitalis yang saat ini menjadi kebutuhan primer bagi anak-anak.

“Ayah tidak pernah memperlakukan saya sebagai murid atau sebagai orang yang harus dikontrol tapi lebih menerapkan saya sebagai teman diskusi,”ungkap pria yang lebih dikenal dengan nama Neo Letto.

Sabrang membeberkan salah satu contoh yang dilakukan oleh sang ayah Emha Ainun Najib ,saat sang ayah tahu kalau dirinya akan menabrak sesuatu maka dibiarkan saja sama sang ayah. Hal itu bertujuan agar saya pernah merasakan bagaimana menabrak dan konsekuensi yang akan saya terima. Maka dalam mendidik anak,

Sabrang pun menerapkan pola didik yang sama. Salah satu contohnya saat mengetahui anak akan naik pohon yang basah dan licin, maka besar kemungkinan bahwa sang anak akan jatuh. Namun dirinya membiarkan saja tindakan sang anak yang penuh dengan resiko tersebut.

Tujuannya agar anak pernah merasakan jatuh namun sebagai orangtua tentunya dirinya akan memastikan saat anak jatuh sebagai dia bisa menangkap dan meminimalisir terjadinya trauma atau kerusakan permanen yang akan dialami ketika terjatuh.

“Saya pernah ngomong, mumpung masih kecil lakukan kesalahan sebanyak mungkin karena efeknya juga kecil tapi kalau sudah dewasa melakukan kesalahan maka efeknya akan lebih besar,”imbuhnya.

Di era digital ini, sambung Sabrang, seyogyanya para orangtua mulai belajar tentang digital, salah satu contoh mengenal dan belajar bermain game yang biasa dimainkan sang anak, misal roblok .

Bahkan, orangtua tidak perlu gengsi atau malu untuk bertanya ke anak ketika mereka tidak tahu. Tentunya hal itu akan semakin meningkatkan komunikasi keluarga, membangun komunikasi orangtua dan anak yang paling penting,anak akan sangat senang karena merasa orangtua mereka memahami mereka dan keterbukaan antar keluarga akan bisa terjalin. sis

Pos terkait