
SURABAYA (wartadigital.id) – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi akhir-akhir ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat akan keselamatan perangkat elektronik di rumahnya. Menanggapi hal tersebut, dosen Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dedet Candra Riawan ST MEng PhD mengimbau masyarakat agar mengenali langkah-langkah preventif untuk melindungi perangkat elektronik rumah tangga.
Mayoritas piranti rumah tangga saat ini digerakkan oleh komponen sirkuit elektronik yang sangat sensitif terhadap fluktuasi kelistrikan. Dedet menjelaskan jika elektronik mengalami siklus mati dan menyala secara berulang dalam rentang waktu yang sangat singkat, komponen elektroniknya akan mengalami stress voltage (tegangan stres). “Meski setiap elektronik dirancang memiliki ambang batas ketahanan tertentu, tetap ada titik kerentanan jika dihadapi dengan transisi drastis secara masif,” terangnya dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2026).
Secara teknisnya, Dedet memaparkan bahwa terdapat dua tipologi kerugian akibat pemadaman, yakni kerusakan fisik perangkat dan kegagalan proses. Pada skala rumah tangga, frekuensi pemadaman yang rapat akan memangkas jangka pakai (lifetime) barang. Namun pada skala produktif, kerugian finansial terbesar dipicu oleh terjadinya komputasi yang bersifat berkelanjutan dan tidak memiliki tombol pause.
Begitu aliran listrik terputus, bahkan jika hanya satu atau dua detik, seluruh rantai kegiatan tersebut langsung terputus dan wajib mengulang dari titik nol persen lagi. “Kedipan listrik selama satu detik saja cukup untuk memutus seluruh algoritma kerja dan memaksa sistem mengulang proses dari titik nol,” ungkap pakar kelistrikan ITS tersebut.
Lebih lanjut, menurut mantan Kepala Departemen Teknik Elektro ITS ini, pada saat terjadi pemadaman listrik, beberapa sektor mungkin memiliki cadangan subtitusi daya seperti generator set (genset). Namun, lanjut Dedet, terdapat miskonsepsi mengenai kualitas daya genset di masyarakat.
Berdasarkan standar regulasi kelistrikan nasional, PT PLN (Persero) diwajibkan menjaga toleransi tegangan di sisi konsumen pada ambang batas ketat, yakni 5 persen hingga 10 persen dari angka nominal 220 Volt. Pada genset berskala besar di kawasan industri, standar presisi tersebut dapat dipenuhi melalui sistem regulasi otomatis.
Namun, masalah serius akan dihadapi pengguna genset berkapasitas kecil yang lazim digunakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Genset kecil memiliki keterbatasan mekanis dalam mengontrol bahan bakar dan regulasi tegangan. “Lonjakan daya pada genset akan mengalami ketidakstabilan tegangan dan frekuensi yang juga memengaruhi performa barang elektronik yang dialiri daya tersebut,” papar Dedet.
Oleh karena itu, bagi sektor usaha vital, Dedet mengklasifikasikan sistem cadangan ke dalam dua level, yakni Backup Standby yang merupakan genset menyala setelah PLN mati dan Backup Running seperti Online UPS yang menjamin suplai daya instan tanpa jeda atau zero downtime. Guna meminimalkan kerugian di tingkat rumah tangga, Dedet menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) sederhana yang dikelompokkan berdasarkan jenis teknologi.
Kelompok motor induksi non-inverter seperti kulkas model lama dan pompa air termasuk dalam kategori risiko tertinggi. Saat listrik menyala kembali, kelompok elektronik ini membutuhkan arus lonjakan awal yang sangat besar untuk memicu torsi. Maka, saat terjadi pemadaman mendadak, langsung cabut kabel dari stop kontaknya.
Untuk kategori elektronik rumah tangga seperti pendingin ruangan (AC) non-inverter, dapat mematikan AC menggunakan remote terlebih dahulu, lalu cabut stekernya dari dinding jika jadwal pemadaman telah diketahui. Saat listrik menyala, biarkan jeda 5-10 menit hingga tegangan stabil sebelum steker ditancapkan kembali.
Dedet mengingatkan masyarakat untuk tidak langsung menancapkan steker saat aliran belum stabil. Sebab, kondisi tersebut akan mengganggu performa kompresor. “Jika kompresor AC langsung terpicu menyala detik itu juga, ia seperti dipaksa berlari kencang saat baru bangun tidur,” jelasnya.
Menariknya, imbuh Dedet, bagi perangkat elektronik berteknologi inverter seperti AC keluaran terbaru, untuk mematikannya cukup lewat remote control dengan posisi standby tanpa perlu repot mencabut kabel. Sistem otak pintar di dalam inverter sudah dibekali peredam kejut aliran listrik otomatis.
Terakhir, Dedet mengingatkan bahwa menyelamatkan aset elektronik di tengah krisis energi bukan perkara seberapa mahal stabilizer yang kita beli. Melalui penjelasannya, Dedet mengingatkan perlunya membangun pemahaman masyarakat terhadap langkah-langkah pencegahan pada kondisi yang sedang terjadi saat ini. “Teknologi memang dirancang makin cerdas, tetapi pada akhirnya sebuah gerakan manual sederhana tetap menjadi pelindung terbaik,” pungkas Dedet.
Melalui langkah kecil yang ditujukan merawat perangkat elektronik saat terjadi pemadaman listrik, bukanlah sekadar untuk melindungi aset pribadi. Lebih dari itu, aksi preventif sederhana tersebut juga merupakan wujud nyata kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Praktik itu mendukung pencapaian SDGs poin ke-7 melalui efisiensi penggunaan energi agar terciptanya energi bersih dan terjangkau. Kemudian juga mendukung poin ke-11 dalam menciptakan kota dan permukiman yang berkelanjutan. Kehidupan yang sehat dan sejahtera juga akan terwujud, sejalan dengan poin ke-3 SDGs. rya





