wartadigital.id
Headline Surabaya

Peran di Dunia Keteknikan Makin Diakui, Enam Dosen ITS Terpilih Menjadi Anggota Baru AIR-AIPI

Enam dosen dari ITS telah terpilih dan dipercaya menjadi anggota baru pada Akademi Ilmu Rekayasa (AIR) – Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).

SURABAYA (wartadigital.id) – Enam dosen dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) telah terpilih dan dipercaya menjadi anggota baru pada Akademi Ilmu Rekayasa (AIR) – Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Hal ini semakin membuktikan bahwa peran ITS pada dunia keteknikan telah diakui secara nasional.

AIPI sendiri dibentuk sebagai lembaga ilmuwan yang berwenang memberikan pendapat, saran, dan pertimbangan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi pada pemerintah dan masyarakat. AIPI dikenal sebagai lembaga mandiri yang menghimpun para ilmuwan terkemuka Indonesia.

Selain bertugas sebagai pemberi usul pada pemerintah dan masyarakat, organisasi yang diinisiasi oleh mendiang Bacharuddin Jusuf Habibie ini memiliki tugas memacu perkembangan ilmu pengetahuan dan keunggulannya. Yakni melalui konferensi ilmiah dan forum diskusi kebijakan, publikasi, serta hubungan nasional dan internasional. Dengan tugas sebesar itu, tak heran keanggotaan AIPI dianggap sangat eksklusif.

Diresmikan melalui Undang-Undang No. 8 Tahun 1990, organisasi ini beranggotakan para ilmuwan terkemuka Indonesia. Anggota AIPI dipilih berdasarkan rekam jejak keunggulan ilmiahnya dan merupakan pengakuan kehormatan tertinggi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Di dalam AIPI sendiri para ahli dikategorikan menjadi lima komisi bidang ilmu pengetahuan, yakni dasar, kedokteran, rekayasa, sosial dan budaya.

Semenjak berdiri pada 1990, Prof Ir I Ketut Aria Pria Utama MSc PhD atau akrab disapa Prof IKAP merupakan anggota pertama AIPI yang berasal dari ITS yang dilantik pada 2015 lalu. Lima tahun berselang, sebuah pencapaian luar bisa diraih oleh ITS dengan terpilihnya enam sosok baru yang akan menghiasi keanggotaan AIR-AIPI.

Disebutkan oleh Sekretaris AIR-AIPI yang juga salah satu Vice President RINA Regional Asia ini, keenam nama tersebut adalah Prof Ir Priyo Suprobo MSc PhD, Prof Ir Eko Budi Djatmiko MSc PhD, Prof Dr Ketut Buda Artana ST MSc, Prof Ir I Nyoman Pujawan MEng PhD, Prof Dr Ir Gamantyo Hendrantoro PhD, dan Dr Muhammad Nur Yuniarto ST.

Keenam wajah baru AIR-AIPI dari ITS ini memiliki torehan yang luar biasa. Pertama, Prof Ir Priyo Suprobo MSc PhD merupakan sosok ahli di bidang struktur yang menjadi Guru Besar Teknik Sipil ITS pada saat usianya yang masih 43 tahun dan menjabat sebagai Rektor ITS pada 2011.

Kedua, Prof Ir Eko Budi Djatmiko MSc PhD yang merupakan dosen di Departemen Teknik Kelautan ITS yang bergelut di dunia hidrodinamika bangunan laut yang telah melanglang buana di Indonesia. Eko berpengalaman menjadi anggota Tim Evaluasi Stabilitas Kapal yang ditunjuk oleh Kementerian Perhubungan, ketua Tim Peninjauan dan Verifikasi Desain FPSO Belanak ditunjuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dan masih banyak terlibat dalam tim-tim di skala nasional dan internasional lainnya.

Nama ketiga yakni Prof Dr Ketut Buda Artana ST MSc merupakan sosok di balik Automatic Identification System ITS (AISITS) yang merupakan sistem aplikasi peringatan terhadap bahaya-bahaya yang mungkin terjadi pada instalasi laut yang telah banyak dipakai di Indonesia. Keempat, ada Prof Ir I Nyoman Pujawan MEng PhD yang merupakan profesor teknik rantai pasok (supply chain) di ITS dan juga merupakan Presiden International Supply Chain Education Alliance (ISCEA) serta Institut Supply Chain dan Logistik Indonesia (ISLI).

Kelima adalah Prof Dr Ir Gamantyo Hendrantoro PhD yang merupakan ahli telekomunikasi yang meneliti sistem komunikasi nirkabel, jaringan, dan radar. Gamantyo adalah guru besar termuda di ITS saat itu, di mana ia dikukuhkan pada usia 37 tahun pada 2008. Nama terakhir ialah Dr Muhammad Nur Yuniarto ST seorang dosen di bidang teknik mesin yang kurang lebih satu dekade mengembangkan kendaraan listrik yang hemat energi dan ramah lingkungan. “Terpilih menjadi anggota AIPI bukanlah hal yang mudah,” ucap IKAP dalam siaran resminya, Selasa (2/3/2021).

Hal ini lantaran AIPI tidak hanya memerlukan ilmuwan yang hanya bermodalkan puluhan penelitian atau jurnal ilmiah terindeks Scopus. Lebih dari itu, AIPI mencari sosok-sosok ilmuwan yang kiprahnya berperan dalam pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia. Selain itu, periode pemilihan anggotanya pun cukup lama, saat ini masih di kisaran lima tahun sekali dalam merekrut anggota baru.

Pakar teknik perkapalan ITS tersebut menyambut dengan baik kedatangan enam dosen baru ITS ini dalam keanggotaan AIR-AIPI. Torehan keenam dosen ITS tersebut membuktikan bahwa kapasitas dan kontribusi ITS dalam bersaing di kancah nasional hingga internasional. “Dan dengan bertambahnya anggota AIPI dari ITS juga mengartikan bahwa pengakuan akan dampak yang ITS berikan juga meningkat,” tegasnya bangga. ary

 

Related posts

Bupati dan Wabup Sampang Tinjau Pelaksanaan SKD CPNS Tahun 2021

redaksiWD

Puncak Kenaikan Kasus Covid-19 Diprediksi Akhir Juni, Daerah Diminta Siaga

redaksiWD

Cita Citata Dikonfirmasi KPK, Sebut Tak Tahu Sumber Dana Honor Manggung

redaksiWD