wartadigital.id
Headline Nasional

Renovasi Ruang Kerja Capai Rp 5 Miliar, Nadiem Makarim Banjir Kecaman

Nadiem Makarim

 

JAKARTA (wartadigital.id)  – Belum reda soal kebijakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang jadi kontroversi, Menteri Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi Nadiem Makarim kembali membuat heboh masyarakat.  Itu karena ruang kerja Nadiem bakal direnovasi dengan anggaran yang cukup besar, mencapai Rp 5 miliar.

Rencana ini pun menuai polemik, sebab kehidupan masyarakat saat ini masih bergelut dengan kesulitan akibat pandemi Covid-19. Rencana tersebut membuat Nadiem dinilai tidak punya rasa keprihatinan atas kondisi masyarakat yang mayoritas saat ini mengalami kesulitan ekonomi.

Atas dasar itulah, Partai Amanat Nasional mendesak Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) membatalkan rencana renovasi ruang kerja dan ruang rapat itu.

Juru Bicara Muda PAN Dimas Prakoso Akbar, menyebut Nadiem Makarim seharusnya lebih sensitif terhadap situasi pandemi yang saat ini belum berakhir. Apalagi pendidikan adalah salah satu sektor yang paling terdampak Covid-19.

“Menteri Nadiem seharusnya lebih sensitif, orangtua sibuk karena anak-anak harus belajar di rumah karena pandemi. Bahkan masih banyak yang tidak punya handphone apalagi laptop untuk belajar. Renovasi ruangan sampai 5 miliar ini harus dibatalkan!” tegas Dimas lewat keterangannya, Jumat (10/9/2021).

Dijelaskan Dimas pendidikan adalah sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19, sedang renovasi ruang kerja bersifat pribadi dan tidak ada manfaat apapun kepada masyarakat di sektor pendidikan.

Founder Ruang Sandi ini menambahkan, PPKM masih diberlakukan dan perkantoran belum beroperasi dalam kapasitas penuh, sehingga renovasi ruang kerja dan ruang rapat sama sekali tidak memiliki urgensi. Hal ini menurut Dimas menjadi catatan rentetan kontroversi Kemendikbud di era Nadiem.

“Kemendikbud di era Nadiem cenderung menuai kontroversi dibanding inovasi. Belum lama ini ramai pembubaran BSNP, kemudian Permendikbud tentang Dana BOS, lalu sekarang tentang anggaran renovasi ruang rapat dan ruang kerja,” ujarnya.

Sebagai perwakilan generasi milenial di kabinet, publik sangat menanti Menteri Nadiem menerapkan kebijakan inovatif ala milenial, bukan malah bernuansa kolonial.

Sementara itu Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahardiansyah juga mengkritisi kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset Teknologi merenovasi ruang kerja Mendikbud Ristek Nadiem Makarim seharga Rp 5 miliar.

Trubus menilai, kebijakan itu sangat kontra produktif dan tidak seharusnya dilakukan di masa sulit seperti sekarang ini.

Padahal, kata dia, anggaran tersebut dapat digunakan untuk program yang lebih bermanfaat, sebagai contoh memberikan beasiswa kepada sejumlah siswa yang terdampak pandemi Covid-19.

“Kebijakan yang kontra produktif, artinya anggaran sebesar itu lebih baik untuk mereka anak-anak yang terpaksa ditinggal orangtuanya meninggal karena terserang Covid dan mereka masih dalam sekolah, maksudnya memberikan beasiswa kepada mereka-mereka semua,” kata Trubus.

Trubus mengatakan, renovasi ruangan kantor tidak penting untuk dilakukan di masa sulit seperti ini.

Lebih lanjut ia mengatakan tidak ada sense of crisis terkait renovasi yang akan dilakukan pada ruang private atau ruang Nadiem, semi private, ruang public dan service tersebut. “Sense of crisis itu kan harusnya dia peduli pada masyarakat yang lagi kesusahan karena pandemic  Covid dan sebagainya,” ungkapnya.

Publik juga memberikan kritikan pedas atas rencana renovasi itu. Banyak di antara mereka yang menilai bahwa rencana dari Nadiem itu hanya menimbulkan ketimpangan sosial belaka, mengingat rakyat sedang kesusahan akibat dampak pandemi Covid-19.

Oleh sebabnya, warganet pun menilai bahwa Nadiem Makarim merupakan Menteri Pendidikan terburuk sepanjang sejarah bangsa Indonesia. “Nadiem ini bakal jadi menteri pendidikan terburuk dalam sejarah kita,” kicau sebuah akun.

Warganet lainnya mengatakan bahwa Nadiem memanglah sosok yang cerdas tapi tidak memiiki kepedulian terhadap orang yang sedang kesusahan. “Sepertinya dia enggak paham dengan apa yang dia kerjakan saat ini, pinter iya. Tapi sense of crisis bukan soal brain,” timpal warganet lain.

“Karena sedari kecil enggak pernah merasakan susah kali ya? Atau minimal bergaul dengan kaum di bawahnya,” tutur netizen. “Bisa karena enggak pernah tersentuh lingkungan yang bisa membangkitkan sense atau memang bawaannya,” balas akun lainnya. set, rmo

Related posts

Penyekatan di Jrengik, Satu Warga Bangkalan Reaktif Langsung Diputar Balik dengan Kawalan Petugas

redaksiWD

Dampingi Menparekraf Tinjau KEK Singhasari, Wagub Emil Minta Percepatan Realisasi Sektor Industri Kreatif

redaksiWD

Emil Dardak Sebut Terlambat ke RS Jadi Penyebab Tingginya Angka Kematian Covid-19  di Jawa Timur

redaksiWD