wartadigital.id
Headline Nasional

Selain Tak Punya Empati, Mensos Risma Juga Egois Paksakan Tunarungu Bicara

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini ramai disorot setelah memaksa penyandang disabilitas tunarungu berbicara di depan publik.

 

JAKARTA (wartadigital.id)  – Aksi Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharani yang memaksa seorang tunarungu untuk berbicara di depan umum, mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Kecaman terhadap Risma dinilai wajar, sebab mantan Walikota Surabaya itu terlihat sama sekali tidak mempunyai empati dan tidak memahami keterbatasan seorang tunarungu.

“Tanpa empati, Risma cenderung memaksakan kehendaknya. Celakanya, hal yang dipaksakannya itu dianggapnya sesuatu yang benar. Ia cenderung mengabaikan kebenaran di pihak lain. Di sinilah terlihat egoisnya seorang Risma,” kata pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul M  Jamiluddin Ritonga dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (4/12/2021).

Menurut Dosen Universitas Esa Unggul ini, Risma seharusnya paham, tunarungu merasa lebih nyaman menyampaikan sesuatu dengan isyarat (lambang non verbal), bukan dengan cara bicara.

Namun yang terjadi sebaliknya. Risma menunjukkan sikap tidak menerima meski sudah diingatkan. “Di sini terlihat Risma memang sosok yang sulit menerima masukan dari orang lain. Risma terkesan sudah terbiasa one man show, sehingga mengabaikan masukan dari pihak lain,” demikian Jamiluddin.

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini ramai disorot setelah memaksa penyandang disabilitas tunarungu berbicara di depan publik.  Risma menjelaskan alasannya memaksa anak penyandang disabilitas itu untuk berbicara.

Aksi Risma itu terjadi pada Rabu, 1 Desember 2021, di gedung Aneka Bhakti Kemensos, yang juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kemensos RI.  Acara ini merupakan peringatan Hari Disabilitas 2021.

Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) merasa tersinggung oleh tindakan Risma tersebut. “Kami merasa tersinggung, bahkan merasa heran karena omongan Ibu Risma itu mencerminkan pelanggaran UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas,” tulis Gerkatin dalam keterangan tertulis, Kamis (2/12/2021).

Gerkatin mengingatkan soal pasal penghormatan terhadap penyandang disabilitas tuli, termasuk pelanggaran hak berekspresi mereka. “Intinya, ada pasal penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas rungu/tuli, hak berekspresi dan hak memperoleh informasi dan komunikasi,” lanjutnya.  rmo, set

Related posts

Tak Lolos Tes Wawasan Kebangsaan, Novel Dkk Dikabarkan Dipecat

redaksiWD

Peserta KLB Demokrat Kubu Moeldoko Buka Kartu, Diimingi Rp 100 Juta Cuma Dapat Rp 5 Juta

redaksiWD

Eijkman Dilebur ke BRIN, Pemerintah Jangan Terlantarkan Nasib Vaksin Merah Putih

redaksiWD