
JAKARTA (wartadigital.id) – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa alokasi anggaran subsidi BBM tetap tidak akan mencukupi, meskipun harga minyak global turun. Pemerintah pun memilih menaikkan harga BBM mulai hari ini.
Dia menjelaskan bahwa pada tahun ini pemerintah telah menyiapkan anggaran subsidi energi Rp 502 triliun. Total anggaran itu mencakup subsidi serta kompensasi untuk BBM, Liquid Petroleum Gas (LPG), dan listrik. Meskipun anggaran subsidi dan kompensasi energi sudah naik tiga kali lipat dari alokasi awal, dananya ternyata tidak mencukupi kebutuhan. Penyebabnya, kondisi saat ini tidak sesuai dengan asumsi dalam penentuan anggaran subsidi.
Menurut Sri Mulyani, meskipun harga minyak global turun dari kondisi saat ini yang rata-rata di 104,9 dolar AS per barrel, anggaran subsidi tetap tidak akan cukup sampai akhir tahun. Hal tersebut menjdi salah satu alasan pemerintah menaikkan harga BBM. “Angka kenaikan subsidi yang waktu itu sudah disampaikan di media dari Rp 502 triliun tetap akan naik, tidak menjadi Rp 698 triliun, tetapi Rp 653 triliun kalau harga ICP adalah rata-rata 99 dolar AS,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers, Sabtu (3/9/2022).
Anggaran subsidi Rp 502 triliun diperoleh dari asumsi harga minyak 100 dolar AS per barrel dengan kurs 14.700. Jika rata-rata harga minyak menjadi 99 dolar AS, kebutuhan subsidi tetap naik menjadi Rp 653 triliun karena konsumsi pertalite dan solar yang melebihi asumsi.
Lalu, jika rata-rata harga minyak menjadi 85 dolar AS, kebutuhan subsidi tetap naik menjadi Rp 591 triliun. Melesetnya asumsi nilai tukar dan volume konsumsi menyebabkan penurunan harga minyak global tidak akan membuat anggaran subsidi tetap cukup. “Perkembangan dari ICP ini harus dan akan terus kita monitor karena memang suasana geopolitik dan suasana proyeksi ekonomi dunia masih akan sangat dinamis,” kata Sri Mulyani. set, bis