Tak Hanya Menyeduh Kopi, di JCFF 2026 Penonton Bisa Menyeduh Tawa

Live performance finalis Kadung Agus, Sabtu (18/7/2026) malam.

SURABAYA (wartadigital.id) –  Gelaran Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026 tak hanya menghadirkan pelaku UMKM di industri terkait kopi, cokelat dan rempah, juga ada hiburan Stand Up Comedy.

Kelima finalis, melakukan live performance di hadapan penonton dan para juri dalam babak Grand Final di Alun-Alun Kota Surabaya, Sabtu (18/7/2026) malam. Mereka adalah Ayub Budiyanto, Kadung Agus, Ubayd El, M. Wasiur, dan Manzr Asrori.

Bacaan Lainnya

Materi komedi yang dibawakan bertema Nusantara, tiap finalis diberi waktu 7 menit untuk menampilkan kreativitasnya dalam stand up comedy. Misalnya Kadung Agus, mengangkat polah profesi kuli.  Dengan celutukan-celutukan khas Suroboyoan, Agus  merasa sedih dengan imej buruk profesi kuli di masyarakat.

“Profesi kuli itu berat di pekerjaan, juga berat di status sosial. Kuli dibilang kerjaane sedikit, ngopinya yang banyak. Omongane kuli katanya kasar, ya memang pekerjaan kita kasar. Kalau ngomong menye-menye, rekan kita gak paham maksudnya. Mosok kita bilang  ke teman, nyuwun sewu jupukno pasir, nyuwun sewu lepohen daerah sini.. Lah teman yang kita ajak bicara berpikir kita lagi sakit apa lagi  kemasukan ” katanya.

Jajaran BI Jatim menghadiri Grand Final Stand Up Comedy.

Agus juga bercerita tidak PD dengan namanya. Karena nama ini pasaran. Namun dia juga sulit berimprovisasi dengan namanya agar terlihat keren, seperti teman-temannya. “Saya punya teman, biasa dipanggil Fai. Tahu nama aslinya? Fayakun. Ada juga teman saya dipanggil Sam, keren kan? Tahu nama aslinya? Samsul. Ada juga teman saya dipanggil Rok, terlihat sangar. Tahu nama aslinya? Rokim. La kalau saya, masak mau panggil Ag atau Us, lak gak pas,” katanya.

Finalis lain, Masur Rozaq memilih materi tukang parkir dari Madura, Lewat celutukannya, Rozag menyoroti ulah parkir dari Madura yang jago ngeyel, tidak mau kalah. “Tapi pengalamanku, gak hanya tukang parkir Madura yang ngeyel, akeh orang Madura ngeyelan,” katanya.

Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim mengatakan dalam gelaran  JCFF 2026 pihaknya ingin menyajikan kegiatan terintegrasi. Tak hanya transfer pengetahuan, perluasan pasar bagi UMKM kopi, cokelat dan rempah, juga ada hiburan untuk mereka. “Filosofinyadi ajang  JCFF 2026 kita tak hanya menyeduh kopi tapi juga bisa menyeduh tawa lewat gelaran stand up comedy,” katanya.

Ibrahim juga menyoroti, profesi Barista dan Komika memiliki kesamaan. Barista adalah  profesional yang ahli dalam seni penyajian kopi. Sedangkan Komika pelawak yang membawakan lawakannya sendirian, biasanya di depan pemirsa langsung. “Sama-sama menyajikan, satu menyajikan kopi dan satunya menyajikan pengalaman hidup atau peristiwa di sekitar kita. Penyajiannya yang professional  akan diterima masyarakat. Untuk Komika pemilihan kata, intonasi dan kreativitas meramu kata per kata sangat penting,” katanya.

Sebelum live performance Stand Up Comedy, penonton dihibur dengan penampilan grub band BI Jatim, Jatim Wani Band. Vokalis dan pemain band adalah karyawan BI Jatim. Mereka membawakan sejumlah lagu populer di masyarakat.

Penampilan Jatim Wani Band.

Untuk diketahui, Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026 diselenggarakan sebagai high level event tahunan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jatim yang diarahkan untuk memperkuat eksposur, nilai tambah, serta rantai nilai komoditas kopi, cokelat, dan rempah dari Jawa sebagai komoditas unggulan nasional dan potensial ekspor.

Pada tahun 2026, JCFF mengusung tema “Java Coffee: From Local Flavours to Global Horizons” dan dilaksanakan pada 17-19 Juli 2026 di Alun-Alun Surabaya dan Hotel Kampi Surabaya. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, JCFF tidak hanya menjadi ruang promosi produk, tetapi juga sarana penguatan ekosistem usaha, kolaborasi, dan perluasan akses pasar bagi pelaku UMKM. nti

Pos terkait