Tangguhkan Perjanjian New START, Rusia Tepis Kekhawatiran Pecahnya Perang Nuklir

Moskow menangguhkan perjanjian New START dengan Amerika.

 

MOSKOW (wartadigital.id)  – Penangguhan Moskow atas keikutsertaannya dalam perjanjian New START tidak membawa kedua belah pihak lebih dekat ke konflik nuklir. Hal itu diungkapkan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov di stasiun TV Rusia. “Saya tidak percaya bahwa keputusan untuk menangguhkan Perjanjian New START membawa kita lebih dekat ke perang nuklir,” kata Ryabkov seperti dilansir dari kantor berita Rusia TASS, Kamis (23/2/2023).

Bacaan Lainnya

Menurut diplomat Rusia itu, logika dan interpretasi bisa berbeda. “Apa yang bisa membawa kita lebih dekat ke perang nuklir, bagaimanapun, adalah mereka yang terus meningkatkan situasi, meningkatkan taruhan tanpa menoleh ke belakang, dengan cara yang paling merusak dan tidak bertanggung jawab yaitu AS dan satelitnya. Inilah mereka yang mendorong dunia menuju ambang bencana seperti itu. Kami telah memperingatkan Amerika, kami melakukannya melalui saluran tertutup dan kami melakukannya di depan umum, bahwa kebijakan semacam ini berbahaya,” kata Ryabkov.

Sementara itu, Ryabkov juga menggarisbawahi bahwa penangguhan perjanjian itu dengan sendirinya tidak mengubah sikap Rusia terhadap bagaimana dan dalam situasi hipotetis apa senjata nuklir dapat digunakan. “Tidak ada hubungan langsung. Tapi saya menggarisbawahi sekali lagi bahwa pilihannya adalah bagi orang Amerika untuk menentukan ke mana dunia akan pergi dari sini. Mereka pada akhirnya harus memahami tanggung jawab mereka atas nasib peradaban,” pungkas diplomat senior itu.

Seperti diketahui, Presiden Vladimir Putin pada Selasa lalu mengumumkan penangguhan perjanjian kontrol senjata nuklir itu. Menjelaskan keputusan tersebut, selama pidato penting di Parlemen Rusia, Putin mencatat perjanjian tersebut awalnya dibuat dalam keadaan yang sangat berbeda, ketika Rusia dan AS tidak menganggap satu sama lain sebagai musuh.

Sekarang, bagaimanapun, menurut Putin, AS tidak hanya mengeluarkan ultimatum ke Rusia, tetapi NATO sendiri pada dasarnya telah mengajukan permohonan untuk menjadi bagian dari perjanjian itu juga.

Presiden AS Joe Biden mengutuk keputusan Rusia untuk mundur dari perjanjian kontrol senjata nuklir yang dikenal sebagai perjanjian New START. Menurutnya, Presiden Rusia Vladimir Putin telah membuat kesalahan besar dengan menangguhkan perjanjian pengendalian senjata nuklir AS-Rusia terakhir yang tersisa.

Sementara itu Prancis menyesalkan keputusan Rusia untuk menangguhkan keikutsertaannya dalam perjanjian New START. Ini adalah satu-satunya perjanjian pengendalian senjata yang tersisa antara Rusia dengan Amerika Serikat (AS).

Kementerian Luar Negeri Prancis dalam sebuah pernyataan mengungkapkan keprihatinannya atas pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin, bahwa negaranya siap untuk melakukan uji coba nuklir, jika AS melakukannya.

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Prancis lebih lanjut mengatakan perjanjian New START adalah instrumen penting dari arsitektur internasional pengendalian senjata nuklir, dan stabilitas strategis.

Prancis meminta Rusia untuk bertindak secara bertanggung jawab dan mempertimbangkan kembali keputusannya.

Kementerian Prancis juga menggarisbawahi pentingnya Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT), yang ditandatangani dan diratifikasi Rusia pada 1996. Prancis mengatakan, pihaknya mengharapkan Moskow untuk menghormati moratorium uji coba nuklir sampai diberlakukan, serta menghormati pernyataan P5 3 Januari 2022 tentang pencegahan perang nuklir dan menghindari perlombaan senjata. sin, ins