SEGTA 2025 – FTMM Unair, Menumbuhkan Kesadaran Energi Terbarukan kepada Siswa Gili Iyang

Pelatihan mobil listrik ke siswa SMPI Nurul Iman Gili Iyang.

 

Unair menggelar pengabdian masyarakat bertajuk Sustainable Energy and Green Technology Application (SEGTA) 2025 di Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep.

Bacaan Lainnya

 

Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (Unair) melalui program pengmas internasional menggelar 6 kegiatan di Kabupaten Sumenep. Salah satu rangkaian kegiatan SEGTA 2025 bertema “Education Outreach: Empowering Students through Electric Mobility and Renewable Energy Education”.

Dalam kegiatan yang berlangsung di Pulau Gili Iyang, Sumenep, Minggu (10/8/2025) itu, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Unair memberikan edukasi dan pelatihan kepada para siswa SMPI Nurul Iman Gili Iyang.

Sementara rombongan Unair yang mengikuti kegiatan ini adalah mahasiswa dan tenaga pendidik dari 11 lintas negara yakni Malaysia, Thailand, Filipina, China, Palestina,  Bangladesh, Sudan, Yaman, Burkinabe, Pakistan, dan Gambia.

Wakil Dekan 3 Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian Masyarakat dan Kerjasama FTMM Unair Prof Dr Ir Retna Apsari MSi mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep energi terbarukan kepada siswa. “Kegiatan ini juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya teknologi ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Kegiatan ini lanjut Prof Retna juga mendukung berbagai tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), antara lain SDG 4: Quality Education, SDG 7: Affordable and Clean Energy, serta SDG 17: Partnerships for the Goals.

Sebanyak 91 partisipan ikut dalam SEGTA 2025. Mereka terdiri dari mahasiswa dan staf asing lintas 11 negara.

Dosen Teknik Elektro FTMM Unair Yoga Uta ST, MT selaku pembicara memberikan materi mengenai energi terbarukan. Khususnya, tentang solar cell dan mobil listrik yang ramah lingkungan.

Yoga menjelaskan kepada peserta dan siswa tentang bagaimana teknologi solar cell dan kendaraan listrik dapat membantu menciptakan masa depan yang lebih bersih dan efisien. Dijelaskan Yoga, kendaraan listrik menjadi salah satu solusi inovatif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan polusi udara yang semakin mengkhawatirkan.

Dengan menggunakan tenaga listrik sebagai sumber penggeraknya, mobil listrik menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil. ‘Penggunaan mobil listrik tidak hanya mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas udara sehingga menjadikan lingkungan lebih bersih dan sehat,” jelas Yoga.

Salah satu kegiatan utama dalam acara ini adalah praktik langsung, di mana siswa memiliki kesempatan untuk merakit mainan mobil bertenaga solar cell.  Kegiatan ini bertujuan untuk memberi mereka pengalaman langsung dalam merakit dan memahami cara kerja energi terbarukan.

Setelah mobil selesai dirakit, diadakan perlombaan untuk menguji seberapa jauh mobil dapat melaju menggunakan tenaga matahari sebagai sumber energi. Perlombaan ini menjadi puncak acara yang menambah kegembiraan para siswa.

Peserta dari luar negeri, bersama dengan pembicara, memandu siswa selama proses perakitan dan memberikan arahan tentang teknologi yang digunakan.

Siswa tidak hanya belajar tentang energi terbarukan, tetapi juga dapat berinteraksi dengan peserta asing yang memberikan perspektif berbeda dalam pembelajaran mereka. Antusiasme siswa sangat terlihat, terutama saat mereka berhasil merakit mobil dan berkompetisi dalam race.

Melalui kegiatan ini, FTMM berharap siswa memperoleh pengetahuan yang lebih luas tentang teknologi energi terbarukan dan mobil Listrik. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk menginspirasi siswa untuk berpartisipasi dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan, dan ijut menjaga agar Gili Iyang tetap menjadi pulau dengan kadar oksigen terbesar kedua di dunia.

Sedangkan lima kegiatan lainnya adalah “Solar-Powered Hydroponics: A Solution for Enhancing Food Security and Reducing Reliance on Fossil Fuels”.  “Coconut Tree Planting to Preserve Oxygen Quality in Gili Iyang”. Lalu “Real-Time Air Quality Monitoring: Toward Green Sustainable Gili Iyang Island”, dan Drone Applications, Green Technology, and Policy for Supporting Sustainable Tourism. Terakhir, “Maintaining Solar Shelters to Ensure Renewable Energy Quality in Gili Iyang”.  Keseluruhan SDGs yang disasar pada SEGTA ini adalah SDGs 2, 4, 7, 8, 9, 11, 13, 15, 17. nti*

 

Enam Produk Inovasi dan Hilirisasi Sumbangsih FTMM

SEGTA 2025 tahun ini memfokuskan 6 kegiatan pengabdian masyarakat (community development) di Sumenep.  Lima kegiatan dipusatkan di Pulau Gili Iyang, Sumenep. Sedangkan satu kegiatan digelar di Kalianget.

Edukasi dan pelatihan kepada siswa-siswa SMPI Nurul Iman Gili Iyang.

Selain menggelar “ Education Outreach: Empowering Students through Electric Mobility and Renewable Energy Education” di Pulau Gili Iyang, FTMM Unair menggelar 5 pengmas (pengabdian masyarakat) lainnya yang dilakukan secara bersamaan pada Minggu (10/8/2025).

 Jaga Kualitas Oksigen dengan Tanam Pohon Kelapa

Koordinator pengmas bertajuk “Coconut Tree Planting to Preserve Oxygen Quality in Gili Iyang”  Tahta Amrillah SSi, MScm, PhD menjelaskan 25 bibit pohon kelapa ditanam di Green Island  Gili Iyang. Green Island Gili Iyang merupakan lahan baru seluas 1 hektare yang menjadi lokasi proyek pengembangan wisata hijau. “Kelapa dipilih karena punya manfaat ekologis sebagai penahan angin dan abrasi, sekaligus manfaat ekonomis yang tinggi melalui berbagai produk turunannya,” kata Tahta yang juga Dosen Prodi Rekayasa Nanoteknologi FTMM.

Transformasi Pariwisata Berkelanjutan dengan Drone dan Teknologi Ramah Lingkungan

Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Drone Applications, Green Technology, and Policy for Supporting Sustainable Tourism” bertujuan untuk mengenalkan penggunaan teknologi dalam mendukung pariwisata berkelanjutan.

Dalam kegiatan ini ada pembelajaran lapangan yang berfokus pada penggunaan drone dalam industri pariwisata. Peserta dapat belajar cara mengoperasikan drone dengan mengikuti prosedur keselamatan dan peraturan udara yang berlaku.

Muhammad Aldo Setiawan SSi, MSc (Eng), selaku pembicara sekaligus Dosen Prodi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan FTMM , menjelaskan bagaimana drone dapat menjadi alat yang efektif untuk mendokumentasikan objek wisata tanpa merusak lingkungan sekitar. Dia juga menekankan pentingnya mengikuti kebijakan yang mendukung pariwisata berkelanjutan menggunakan teknologi hijau.

Pemantauan Kualitas Udara Secara Real Time

Pada pengmas bertajuk “Real-Time Air Quality Monitoring: Toward Green Sustainable Gili Iyang Island”, tim comdev Dr Agus Mukhlisin ST, MT menerapkan teknologi pemantauan kualitas udara secara real time yang dapat mengukur kadar oksigen dan karbondioksida.

“Monitoring kadar oksigen sangat penting untuk mengetahui data real time sehingga kadar oksigen di lingkungan Gili Iyang dapat terukur secara pasti. Dengan mengetahui kadar oksigen maka masyarakat dapat menyadari untuk menjaga lingkungan sehingga kadar oksigen bisa tetap terjaga tinggi,” jelas Dosen Prodi Teknik Elektro FTMM.

Monitor kadar oksigen terpasang di Puskesmas Pembantu Bancamara Gili Iyang. Teknologi yang dipasang mampu menampilkan konsentrasi oksigen (%vol) dan karbon dioksida (ppm) secara langsung.

Pemeliharaan Solar Shelter

Dalam pengmas bertajuk  “Maintaining Solar Shelters to Ensure Renewable Energy Quality in Gili Iyang”,  Dosen Prodi Teknik Elektro FTMM  Muhammad Syahril Mubarok PhD melakukan pemeliharaan solar shelter untuk memastikan kualitas energi terbarukan.

Dalam kegiatan ini, peserta ikut terlibat memelihara solar shelter yang telah dibangun FTMM untuk warga di Pantai Ropet, Pulau Gili Iyang. FTMM membangun solar shelter ini pada tahun 2022. Alat ini berfungsi untuk mengisi daya baterai gawai dan sepeda listrik, memanfaatkan sel surya sebagai sumber energi terbarukan.

Solar shelter ini membantu warga mengurangi penggunaan listrik di rumah mereka. Hal ini karena listrik di pulau ini hanya tersedia mulai pukul 17.00 hingga 05.00 WIB. Peserta ikut melakukan pemeliharaan solar shelter dan mengisi checklist pemeliharaan. Peserta menguji parameter pada solar panel, baterai, solar charge controller, inverter, soket 220 V, soket USB 5 V, dan konstruksi.

Tingkatkan Ketahanan Pangan dan Pertanian Berbasis Energi Terbarukan

Dalam mewujudkan program ketahanan pangan dan memajukan pertanian berbasis  energi terbarukan, FTMM melaksanakan kegiatan pengmas bertajuk “Solar-Powered Hydroponics: A Solution for Enhancing Food Security and Reducing Reliance on Fossil Fuels” di Desa Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep.

Pada kesempatan ini, Dosen Prodi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan FTMM Rizki Putra Prastio SSi, MT menyampaikan materi terkait pemanfaatan panel surya untuk pertanian hidroponik. Selain itu mengulas pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) untuk memaksimalkan hasil pertanian. nti*

 

APA KATA MEREKA

Ahyak Ulumuddin

Ketua Pokdarwis Gili Iyang

Ahyak Ulumuddin

Fokus Memaksimalkan Potensi Pertanian dan Pariwisata

Setelah aktif mengembangkan pariwisata berkelanjutan di Pulau Gili Iyang, tahun ini Unair dan seluruh komponen di sana konsentrasi pada pengembangan pertanian dan alga.

Ahyak Ulumuddin selaku Ketua Pokdarwis Gili Iyang mengatakan untuk mewujudkan hal itu dia telah menyumbangkan lahan 1 hektare miliknya untuk digunakan Unair dalam pengembangan green island Gili Iyang, termasuk tourism.

“Saya berharap kolaborasi dengan Unair terus berlanjut untuk memaksimalkan pertanian di Pulau Gili Iyang, selain yang sudah ada. Seperti pengembangan tanaman kelor dan pohon aren dan juga pemupukan lahan ,” katanya.

Tahun ini dirintis pengembangan kelapa hibrida di Pulau Gili Iyang, dan itu ada alasannya. Menurut Ahyak, kelapa memiliki manfaat sebagai penahan angin dan abrasi di tepi pantai. Juga memiliki manfaat ekonomis yang tinggi melalui berbagai produk turunannya seperti minyaknya, sabut kelapanya, daunnya. Selain itu, kelapa hibrida dikenal memiliki kemampuan untuk berbuah lebih cepat dan produktivitasnya lebih tinggi dari kelapa lokal.*

Suhrawi

Plt  Kepala Desa Kalianget Barat

Suhrawi

Transfer Ilmu dan Budaya

Kedatangan Unair di Desa Kalianget Barat disambut gembira warga di sana. Untuk pertamakalinya, desa yang terletak sekitar 11 km dari ibukota Kabupaten Sumenep ini menjadi lokasi tujuan pengabdian masyarakat kampus. “Ini kegiatan pertama bagi desa kami, tentu kami senang,” katanya.

Suhrawi mengatakan dengan kedatangan tim Unair, warga desa bisa belajar tentang manfaat IoT,  solar energi dan pemasaran digital produk-produk pertanian. Ilmu ini menjadi bekal warga desa untuk meningatkan hasil pertaniannya.

“Kami siap berkolaborasi dengan Unair di bidang teknologi pertanian. Kami berharap ada transfer ilmu secara berkelanjutan,” katanya.

Zuhrawi mengatakan tak hanya belajar ilmu teknis, kehadiran tim Unair di desanya bisa belajar budaya warga setempat. Dia menjelaskan warga Desa Kalianget memiliki banyak tradisi dan ritual yang masih dilestarikan hingga kini, menunjukkan kekayaan budaya setempat yang berakar pada nilai gotong royong dan semangat kekeluargaan.Di acara SEGTA ini disajikan Tari Moang Sangkal dan Tari Topeng  sebagai wujud penghormatan warga desa kepada seluruh tamu Unair dalam acara SEGTA 2025. *

Pos terkait