
JENEWA (wartadigital.id) – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan kekerasan di Sudan terus berlanjut di wilayah Darfur Utara dan Kordofan. Seperti diberitakan Xinhua, Selasa (11/11/2025), hal ini memerburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung sejak lama di negara itu.
Situasi di Darfur Utara kian memburuk setelah kota El Fasher direbut Pasukan Dukungan Cepat (RSF) pada Oktober 2025. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyatakan bentrokan menyebabkan warga sipil terjebak dan bantuan kemanusiaan sulit disalurkan.
Analisis dari Universitas Yale menunjukkan indikasi pembuangan massal jenazah di El Fasher. Selain itu, jalur pelarian utama yang sebelumnya digunakan warga untuk melarikan diri telah ditutup.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan sekitar 89 ribu telah mengungsi dari El Fasher dan desa-desa sekitarnya. Sebagian besar dari mereka mencari perlindungan di wilayah Tawila, Melit, dan Saraf Omra.
IOM bersama PBB berupaya menyediakan bantuan berupa makanan, air bersih, layanan sanitasi, perawatan kesehatan, dan dukungan psikososial. Namun, kebutuhan di lapangan masih jauh melebihi kapasitas yang tersedia.
Sejumlah pengungsi dari El Fasher dilaporkan melarikan diri ke arah barat menuju Tina, dekat perbatasan Sudan dan Chad. Relawan lokal menyatakan lebih dari 3.000 pengungsi di sana sangat membutuhkan bantuan makanan, tempat tinggal, dan layanan medis.
Di sisi lain, komunitas lokal di Chad bagian timur sudah kewalahan menampung pengungsi dari Sudan. Padahal, wilayah itu kemungkinan bakal kedatangan gelombang pengungsi tambahan dari negara tetangganya.
Sementara itu, OCHA kembali mendesak penghentian segera atas semua bentuk kekerasan di Sudan. Lembaga tersebut juga meminta perlindungan bagi warga sipil dan pekerja kemanusiaan.
OCHA menekankan pentingnya akses yang aman dan tanpa hambatan bagi penyaluran bantuan. Bantuan itu diharapkan dapat menjangkau seluruh wilayah Sudan yang masih terdampak konflik. rai, sda





