
JAKARTA (wartadigital.id)— Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dapat meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK), terutama di sektor manufaktur padat karya.
Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan pelemahan rupiah meningkatkan biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor. Menurut dia, kondisi tersebut mulai berdampak pada sejumlah perusahaan yang melakukan efisiensi hingga menghentikan operasional. “Harga rupiah yang ambruk terhadap dolar juga karena bahan baku impor membelinya pakai dolar, sehingga meningkat ongkos produksinya,” kata Said dalam konferensi pers daring, Senin (25/5/2026).
Namun demikian, Said menilai tekanan terhadap industri bukan hanya dipicu pelemahan rupiah. Dia menyebut konflik geopolitik global juga mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri nonsubsidi yang turut menambah biaya produksi perusahaan. Dia mencontohkan penutupan operasional pabrik elektronik PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat, yang menyebabkan sekitar 350 pekerja terkena PHK.
Menurut dia, kondisi itu dipengaruhi tekanan biaya impor dan melemahnya pasar ekspor. Selain sektor elektronik, Said menyebut tekanan juga terjadi di industri otomotif. Menurut dia, kenaikan harga kendaraan akibat mahalnya komponen impor mulai menekan permintaan pasar. Di Sidoarjo, Jawa Timur, dia menyebut CV Asri yang bergerak di sektor otomotif telah melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerja akibat penurunan penjualan kendaraan. “Akibat harga mobil naik, permintaan untuk membeli mobil dan motor menurun. Mau nggak mau perusahaan melakukan PHK,” ujarnya.
Selain itu, Said mengatakan tekanan juga mulai dirasakan industri tekstil, garmen, dan alas kaki. KSPI memperkirakan potensi PHK di sektor formal industri tersebut dapat mencapai 9.000 pekerja dalam tiga bulan ke depan. Karena itu, KSPI meminta pemerintah melalui Satuan Tugas Mitigasi PHK mengambil langkah antisipatif, termasuk memperluas penyaluran tenaga kerja ke daerah atau sektor industri yang masih berkembang. Said menambahkan pihaknya juga berencana berkomunikasi dengan DPR RI untuk menyampaikan kondisi industri dan ancaman PHK akibat tekanan ekonomi global serta pelemahan rupiah. ins





