
MOJOKERTO (wartadigital.id) – Di tengah padatnya aktivitas warga Desa Kauman, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, sebuah peristiwa kecil namun bermakna kembali mengingatkan akan pentingnya keseimbangan alam. Tiga ekor burung Serak Jawa (Tyto alba) ditemukan bersembunyi di plafon rumah seorang warga.
Burung-burung malam yang dikenal sebagai predator alami tikus itu pertama kali diketahui oleh Dio Mahendra bersama keluarganya pada Minggu pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Keberadaan satwa tersebut menimbulkan ketidaknyamanan karena suara dan aktivitasnya terdengar dari plafon rumah.
Atas kesadaran sendiri, Dio melaporkan peristiwa ini melalui Sarwendah Yuni A. kepada Tim Matawali Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Mojokerto.
Mendapat laporan tersebut, tim segera bergerak pada Minggu malam untuk melakukan evakuasi. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ketiga Serak Jawa masih berusia anakan sehingga belum siap dilepas kembali ke habitat alaminya.
Untuk memastikan keselamatan dan pemulihan perilaku alaminya, satwa tersebut kemudian dibawa ke Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Jawa Timur di Sidoarjo.
Meski tidak termasuk dalam daftar satwa dilindungi, Serak Jawa memiliki peran penting bagi ekosistem pertanian. Burung ini dikenal sebagai pengendali alami hama tikus, sehingga keberadaannya sangat bermanfaat bagi para petani.
“Serak Jawa adalah sahabat petani. Ia membantu membasmi tikus yang kerap merusak tanaman padi, sehingga dapat mengurangi kerugian tanpa harus menggunakan pestisida. Dengan begitu, ekosistem tetap seimbang,” kata Ferdinan Sabastian, Penyuluh Kehutanan BBKSDA Jawa Timur, Selasa (2/9/2025).
Kepada pemilik rumah, tim juga memberikan edukasi dan arahan mitigasi sederhana. Antara lain dengan memasang genteng kaca atau membuat rubuha (rumah burung hantu) di sekitar lahan persawahan. Langkah ini memungkinkan Serak Jawa tetap dapat bersarang di lokasi yang tepat, sekaligus mengurangi potensi gangguan bagi kenyamanan rumah tinggal.
BBKSDA Jawa Timur menegaskan, upaya konservasi tidak hanya dilakukan di hutan belantara, tetapi juga di lingkungan sekitar manusia. Setiap penemuan, penyelamatan, hingga edukasi kepada masyarakat merupakan bagian dari ikhtiar menjaga harmoni antara manusia, satwa liar, dan alam.
Kisah sederhana dari Mojokerto ini menjadi pengingat bahwa melestarikan satwa bukan hanya soal melindungi spesies, tetapi juga merawat keseimbangan hidup bersama di bumi yang sama. jok, jtm
