
Polisi mengamankan Hadi Matar dan menetapkannya sebagai tersangka penikaman penulis Salman Rushdie.
NEW YORK (wartadigital.id) – Polisi Negara Bagian New York Amerika Serikat (AS) telah menetapkan seorang pria (24) sebagai tersangka penikaman Salman Rushdie di sebuah acara sastra yang digelar di negara bagian New York barat pada Jumat (12/8/2022) waktu setempat.
“Hadi Matar, dari Fairview, New Jersey, ditahan setelah diduga menyerbu panggung dan menusuk penulis setidaknya sekali di leher dan perut di Institusi Chautauqua,” kata Mayor Eugene J Staniszewski pada konferensi pers Jumat (12/8/2022) sore waktu setempat seperti dikutip dari Independent, Sabtu (13/8/2022).
“Beberapa anggota staf bergegas membawa tersangka dan membawanya ke tanah sebelum polisi negara bagian dan wakil Sheriff Chappaqua County menahannya,” imbuh Staniszewski.
Penulis berusia 75 tahun itu diberi perawatan darurat oleh seorang dokter yang hadir di antara penonton, sebelum petugas tanggap darurat tiba. “Dia diterbangkan ke rumah sakit UPMC Hamot di Erie, Pennsylvania, di mana dia menjalani operasi pada Jumat sore,” ujar Staniszewski.
Matar belum didakwa karena polisi sedang menunggu untuk mengetahui sejauh mana cedera yang dialami penulis buku kontrovesial Ayat-ayat Setan itu. Staniszewski mengatakan mereka tidak mengetahui motif serangan itu dan percaya pelaku bertindak sendiri.
Pelaku diketahui Matar telah membeli tiket ke acara sastra itu. Polisi menyita beberapa barang milik tersangka, termasuk ransel dan perangkat elektronik. Anjing pendeteksi ledakan K9 dari kantor Sheriff Kabupaten Chautauqua memeriksa tas itu.
“Polisi sedang menunggu surat perintah penggeledahan untuk memeriksa barang-barang itu,” ucapnya.
Petugas bekerjasama dengan Kejaksaan Distrik Chautauqua untuk menentukan dakwaan apa yang akan dihadapi tersangka. Seorang korban lainnya, yang berada di atas panggung bersama Rushdie pada saat serangan itu, juga telah dibawa ke rumah sakit karena mengalami cedera kepala ringan.
Presiden Chautauqua Institution Michael Hill mengatakan kepada wartawan bahwa keamanan telah menjadi prioritas utama di acara tersebut, dan mereka melakukan penilaian sebelum semua acara. “Kami akan terus berupaya memberikan keamanan maksimum yang kami bisa. Ini belum pernah terjadi sepanjang sejarah kami. Chautauqua selalu menjadi tempat yang sangat aman. Kami akan terus bekerja untuk mempertahankan tradisi itu,” kata Hill.
Terancam Kehilangan Satu Mata
Salman Rushdie kemungkinan akan kehilangan salah satu matanya dan saat ini menggunakan ventilator setelah dia diserang di atas panggung di sebuah acara sastra di bagian utara New York, Amerika Serikat (AS). “Beritanya tidak bagus,” kata agen penulis berusia 75 tahun itu, Andrew Wylie, kepada The New York Times yang dinukil New York Post, Sabtu (13/8/2022).
“Salman kemungkinan akan kehilangan satu mata, saraf di lengannya terputus dan hatinya ditusuk dan dirusak,” ungkap Wylie.
Rushdie, yang masih belum bisa berbicara, diserang oleh seorang pria saat berbicara di sebuah acara di Chautauqua Institution di Chautauqua New York, sekitar 75 mil selatan Buffalo.
Menurut institut tersebut, dia dijadwalkan untuk berbicara tentang Amerika Serikat sebagai tempat bagi penulis yang diasingkan “sebagai rumah bagi kebebasan berekspresi.” Setelah penikaman, dia diangkut dengan helikopter ke sebuah rumah sakit di Erie, Pennsylvania. “Kami meminta doa Anda untuk Salman Rushdie dan Henry Reese, dan kesabaran karena kami sepenuhnya fokus pada koordinasi dan kerjasama dengan pejabat polisi menyusul insiden tragis di Amphitheatre hari ini,” kata Institusi Chautauqua dalam sebuah pernyataan di situsnya.
Semua program institusi itu telah dibatalkan akibat insiden ini. Seorang saksi yang berada di antara penonton mengatakan kepada New York Post bahwa Rushdie mencoba lari dari panggung, dan kedua pria itu bentrok sebelum penonton bergegas ke atas panggung untuk menangkap pelaku penyerangan.
New York Times melaporkan terduga pelaku penyerangan, Hadi Matar (24), dari Fairview, New Jersey, ditangkap oleh polisi negara bagian di tempat kejadian. Novel kontroversial Rushdie tahun 1988 “The Satanic Verses,” atau Ayat-ayat Setan mendorong pemimpin Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini untuk mengeluarkan fatwa yang menyerukan kematian Rushdie atas apa yang dia klaim sebagai referensi penghujatan terhadap Islam. Penulis yang lahir dalam keluarga Muslim di Mumbai India, hidup dalam persembunyian di bawah perlindungan pemerintah Inggris dari 1989 hingga 2002. sin, ins