Indonesia Bisa Jadi Kiblat Fesyen Muslim Global

Foto bersama usai pemberian cinderamata kepada empat pembicara yang dihadirkan dalam talkshow Halal Modest Fashion : Sinergi Industri, Kreativitas dan Kesadaran Konsumen di Ballroom Al Marwah Masjid Akbar, Sabtu (13/9/2025).

SURABAYA (wartadigital.id) –  Indonesia kini memimpin di sektor fesyen muslim dunia. Posisi Indonesia sebagai kiblat fesyen muslim global menjadi bukti bahwa produk kreatif berbasis budaya dan nilai Islam mampu bersaing di kancah internasional.

Pendiri dan pemilik brand fesyen muslim ‘Alur Cerita’ Natasha Rizky mengatakan produk fesyen muslim Indonesia saat ini diterima pasar internasional. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia memimpin fesyen muslim dunia. Selain itu harga produk Indonesia mampu bersaing dengan produk luar negeri, produk fesyen Indonesia dikenal halal, baik dari proses pembuatan bahan baku, model dan bahan sesuai syariat Islam.

Bacaan Lainnya

“Jadi jangan takut berkompetisi, baik dengan kompetitor di dalam atau luar negeri. Para perancang busana fesyen muslim silakan berkreasi sesuai dengan syariat Islam. Saya yakin Indonesia bisa jadi kiblat fesyen muslim global,” kata wanita yang akrab dipanggil Acha saat menjadi pembicara dalam talkshow Halal Modest Fashion : Sinergi Industri, Kreativitas dan Kesadaran Konsumen di  Ballroom Al Marwah Masjid Akbar, Sabtu (13/9/2025).

Talkshow ini merupakan rangkaian kegiatan FESyar 2025 Regional Jawa yang dihelat Bank Indonesia di Masjid Al Akbar mulai 12-14 September 2025.

Acha sendiri dikenal juga mengeluarkan fesyen muslim. Bahkan dia sendiri menjadi model koleksinya, menawarkan busana syar’i yang nyaman, simple alias tak banyak ornamen dan tetap mengikuti tren kekinian. “Produk saya mulai jilbab dan baju mengusung konsep minimalis tapi tetap mengikuti tren kekinian,” kata mantan istri komedian dan presenter Deddy Mahendra Desta ini.

Perancang busana muslim dari Bandung, Anggiasari Mawardi juga menyebut peluang fesyen muslim Indonesia sangat terbuka luas. Dia pernah mengikuti event pameran di luar negeri, sambutan masyarakat internasional atas produk fesyen muslim Indonesia sangat tinggi. Untuk diketahui  Anggia Handmade, produk fesyen Anggi beberapa kali ikut Paris Fashion Week dan mendapat sambutan hangat pasar internasional. “Kalau di pasar internasional, pesaing kita Turki. Namun tetap Indonesia memiliki keunggulan karena harga lebih terjangkau dengan kualitas produk yang bisa bersaing,” katanya.

Kepekaan Anggi terhadap pasar lahir bukan dari riset berbasis angka semata, tapi dari interaksi langsung dan pengalaman personal. “Saya tidak mengikuti tren, tapi saya mengerti apa yang dibutuhkan dan berusaha menjawabnya lewat desain,” tutur Anggi.

Ia menyadari bahwa busana muslim bukan sekadar pakaian, melainkan cerminan jati diri dan kepercayaan. Maka, setiap detail mulai dari pemilihan bahan hingga potongan, ditentukan dengan mempertimbangkan fungsi, kenyamanan, serta rasa estetika yang halus dan semuanya tetap sesuai syariat Islam.

Antusiasme peserta mendengarkan paparan empat nara sumber yang dihadirkan.

Anita Yuni Kholilah, desainer fesyen muslimah dari Banyuwangi ini koleksinya juga dikenal di kalangan internasional.  Ada dua jenis produk fesyen yang Anita tekuni. Aksesori muslim dan busana batik muslimah syar’i. Ciri khas fesyen-nya selalu mengambil sisi feminin dengan warna pastel yang soft. Ia ikut serta dalam pergelaran fashion show di Moslema in Style International Fashion Forward (MISIFF) di Kuala Lumpur, Malaysia. “Dan kita bisa lihat produk fesyen muslim Indonesia mendapat respon bagus dari masyarakat internasional,” katanya.

Sedangkan desainer Melie Indarto mengatakan industri fesyen di Indonesia semakin menunjukkan kesadaran akan peduli lingkungan. Banyak brand yang kini berlomba menghadirkan produk ramah lingkungan sesuai tuntutan konsumen, mulai dari penggunaan bahan daur ulang hingga pendekatan produksi yang lebih etis.

Namun tak dipungkiri, di tengah tren sustainable atau berkelanjutan ini masih ada tantangan yang perlu dihadapi. Seperti dominasi bahan impor yang dianggap lebih unggul, dibandingkan serat-serat lokal. “ Indonesia memiliki kekayaan serat alam yang tak kalah berkualitas, seperti rami, serat nanas, dan sutra. Saya yakin penggunaan produk-produk alami ini makin dilirik para desainer termasuk fesyen muslim,” katanya.

Untuk diketahui brand KaIND, sebuah brand fesyen yang tidak hanya menawarkan estetika, tetapi juga mengusung keberlanjutan dan mengangkat potensi lokal. Melalui KaIND, Melie ingin membuktikan bahwa bahan-bahan alami dari Indonesia dapat bersaing di industri fesyen global, sekaligus menjadi solusi bagi lingkungan. nti

 

 

 

Pos terkait