
SURABAYA (wartadigital.id) – Kendati Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat bergejolak sepanjang 2026, namun minat investasi masih tinggi. Pasar modal Indonesia masih kukuh atau resiliens di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan global.
Dari rapat bulanan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebutkan, stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih terjaga. Persoalan ini tak lepas dari bauran kebijakan fiskal dan moneter untuk meredam tekanan eksternal.
Data dari OJK, jumlah investor pasar modal bertambah 1,21 juta hingga akhir Juni 2026 secara bulanan atau month to month. Sedangkan selama tahun berjalan atau year to date (y-t-d) sudah mencapai 28,96 juta, bertambah 42,22 juta investor.
Sejauh ini pasar modal Indonesia masih menjadi tulang punggung pembiayaan korporasi. Pada semester pertama 2026, penghimpunan dana (fundraising) mencapai Rp112,67 triliun.
Dana itu bersumber dari sejumlah aksi korporasi, mulai dari tujuh penawaran umum saham (IPO), 12 penawaran umum terbatas (PUT), sembilan penawaran efek bersifat utang dan atau sukuk (EBUS), hingga 98 penawaran berkelanjutan EBUS.
OJK juga masih mencatat 11 rencana penarawan umum dalam pipeline dengan indikatif mencapai Rp15,84 triliun.
Selama Juni 20256, IHSG bergerak fluktuatif akibat ketidapastian global ditutup pada level 5.643,19 atau terkoreksi 7,9 persen m-t-m, sebelum turun 34,74 persen secara year to date. Tekanan ini akibat net sell investor asing di pasar saham mencapai Rp19,63 triliun pada Juni 2026.
Namun demikian, likuiditas perdagangan saham tetap terjaga. Di mana rata-rata bid-ask spread di level 1,75 persen. Sedangkan rata-rata transaksi harian mencapai Rp22,23 triliun.
Kontradiktif terlihat dari Surat Berharga Negara (SBN) yang tetap positif. Selama Juni 2026, investor asing membukukan net buy Rp22,43 triliun di pasar obligasi. Sedangkan Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup pada level 429,85 atau terkoreksi 1,69 persen m-t-m.
OJK juga mencatat nilai Asset Under Management (AUM) tembus Rp1.011,81 triliun. Sedangkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp652,90 triliun, turun 4,79 persen secara bulanan. Ditambah investor reksa dana membukukan net redemption Rp23,75 triliun.
Untuk layanan securities crowdfunding (SCF), terdapat 22 efek baru dan enam penerbit baru sepanjang Jui 2026, dengan dana terhimpun Rp39,14 miliar. Secara kumulatif, nilai penghimpunan SCF sudah mencapai Rp1,98 triliun. Pencatatan transaksi bursa karbon sudah mencapai 1,98 juta ton CO₂ atau setara dengan Rp93,81 miliar dari 155 pengguna. edt, *





