TEP ITS Sulap Limbah Pertanian menjadi Biochar Bernilai Guna di NTB

Pelaksanaan bimbingan teknis pengolahan biochar dari limbah pertanian oleh TEP 21 ITS 2026 yang dipimpin oleh Grasianto MSc PhD (paling kanan).

SURABAYA (wartadigital.id) – Pengolahan limbah di tengah potensi pertanian masih menjadi tantangan yang dihadapi oleh masyarakat di Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Untuk itu, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sulap limbah pertanian menjadi biochar di kawasan transmigrasi berbasis Teknologi Tepat Guna (TTG).

Melalui pengembangan biochar, tim yang dipimpin oleh Grasianto MSc PhD itu berupaya mentransformasikan sampah menjadi sesuatu yang bernilai guna. Grasianto menjelaskan bahwa teknologi ini sejalan dengan kondisi masyarakat yang menggantungkan perekonomiannya pada sektor pertanian.

Bacaan Lainnya

Pusat aktivitas masyarakat pada sektor pertanian itu akhirnya menghasilkan berbagai limbah biomassa seperti tongkol jagung, sekam padi, hingga batang tembakau. Untuk itu, jika tidak terolah dengan baik, limbah akan memicu permasalahan lingkungan hingga menghilangkan peluang ekonomi dari pemanfaatan limbah.

Dosen Departemen Kimia ITS itu menerangkan, pengolahan bahan organik tersebut nantinya akan melalui proses pirolisis. Biomassa pertanian akan dipanaskan dalam kondisi oksigen yang terbatas. “Hasilnya berupa biochar itu sendiri yang dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah sekaligus alternatif pemanfaatan limbah ke dalam sistem pertanian yang lebih produktif,” paparnya dalam keterangan resmi, Kamis (15/10/2026).

Untuk mengoptimalkan hasil, tim juga melakukan uji coba alat dengan berbagai variasi bahan baku biomassa, durasi, hingga suhu pembakaran. Hasilnya, lanjut Grasianto, menunjukkan bahwa pada variasi bahan baku tongkol jagung dan sekam padi membutuhkan waktu 3-4 jam dengan suhu sekitar 200-250 derajat celcius.

Namun dalam prosesnya, menurut alumnus doktoral Tohoku University, Jepang ini, timnya menemukan bahwa perlu dilakukan pemantapan proses pirolisis agar suhu pemanasan lebih merata. Langkah tersebut menjadi prioritas guna menjaga kualitas biochar yang dihasilkan bisa lebih konsisten.

Grasianto juga mengungkapkan bahwa transfer ilmu terkait pengoperasian alat bagi masyarakat setempat masih berlangsung hingga akhirnya masyarakat mampu mengolah limbah secara mandiri. “Selain teknologinya, kami berikan pelatihan, pendampingan, hingga penyediaan modul pengolahannya yang digunakan untuk implementasi dan replikasi kegiatan,” tuturnya.

Tak berhenti di situ, tim juga menyusun dokumen pendukung untuk pengembangan program lebih lanjut yang meliputi data dan kajian pemanfaatan limbah pertanian. Selain itu, turut disertakan strategi pengembangan usaha hingga pemasaran agar nantinya warga mendapatkan keuntungan secara ekonomi dari biochar yang diolah. “Karena saat ini, kami memprioritaskan penyediaan teknologi, transfer pengetahuan dan keterampilan sebagai fondasi pengembangan selanjutnya,” imbuh Grasianto.

Guna menjaga keberlanjutan pengembangan yang sudah ada, tim ITS ini menjalin kerja sama dengan Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Penyuluhan Pertanian di Kecamatan Suela. Melalui sinergi itu, Grasianto berharap agar UPT tersebut dapat melakukan pendampingan terhadap kelompok tani sekaligus mengevaluasi pengembangan setelah tim menuntaskan penugasan.

Melalui inovasi ini, tim yang bernama TEP 21 ITS 2026 tersebut berupaya membangun fondasi pemanfaatan limbah pertanian secara berkelanjutan yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada SDG ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Turut tercapai pula SDG ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dengan teknologi tepat guna yang sesuai kebutuhan masyarakat serta potensi lokal di Suela. Kolaborasi antara tim dengan UPT Penyuluhan Pertanian setempat juga mendukung capaian SDG ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. rya

Pos terkait