wartadigital.id
Headline Surabaya

Cukup Tunjukkan KTP, Mulai 1 April Warga Surabaya Bisa Mendapatkan Layanan Kesehatan

Walikota Surabaya Eri Cahyadi saat melakukan MoU dengan BPJS Kesehatan Kantor Cabang Surabaya, Selasa (16/3/2021).

SURABAYA (wartadigital.id) – Pemkot Surabaya membuat terobosan inovatif di bidang layanan kesehatan. Per 1 April 2021, seluruh warga KTP Surabaya bisa mendapatkan layanan kesehatan di seluruh rumah sakit yang bekerjasama dengan Pemkot Surabaya.

Kebijakan itu terkait kesepakatan bersama yang telah ditandatangani antara Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kantor Cabang Surabaya dengan Pemkot Surabaya. Penandatanganan ini terkait kerjasama program Jaminan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage) untuk warga Kota Surabaya.

Walikota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, penandatanganan nota kesepakatan bersama ini untuk memastikan bahwa saat ini pendataan warga Surabaya pemegang jaminan kesehatan yang masuk sudah mencapai 90 persen lebih. Dengan demikian, maka ke depan seluruh warga Surabaya secara otomatis apabila ingin mendapatkan layanan kesehatan cukup menggunakan KTP.

“Insya Allah mulai 1 April 2021, seluruh warga KTP Surabaya di manapun rumah sakit yang bekerjasama dengan pemerintah kota, cukup dengan menunjukkan KTP warga sudah bisa dilayani kesehatannya,” kata Cak Eri seusai acara yang berlangsung Lobi Lantai II Balai Kota Surabaya, Selasa (16/3/2021).

Dia menjelaskan, bahwa dalam program Universal Health Coverage (UHC) itu sendiri, apabila pemegang jaminan kesehatan pada sebuah kota sudah mencapai 95 persen, maka warga yang sakit cukup menunjukkan KTP untuk mendapatkan layanan kesehatan. Di sisi lain, program ini juga untuk memastikan masyarakat mendapatkan akses pelayanan kesehatan tanpa harus menghadapi kesulitan finansial. “Sehingga untuk mendapatkan layanan kesehatan, warga KTP Surabaya tidak perlu lagi menggunakan surat keterangan miskin,” ujarnya.

Di samping itu, dalam program tersebut, kata Cak Eri, apabila warga sebelumnya membayar BPJS secara mandiri kelas satu, kemudian tiba-tiba tidak sanggup membayar, maka otomatis bisa dimasukkan kelas tiga dan menjadi tanggung jawab pemkot pembayarannya.

“Misal ada warga Surabaya sakit di (BPJS) kelas satu, tiba-tiba dia tidak mampu membayar, kemudian dia berubah ke kelas tiga. Nah, ketika mau pindah ke kelas tiga secara otomatis langsung (biaya) dikaver oleh pemerintah kota,” terang dia.

Ia menyatakan, bahwa Pemkot Surabaya juga siap menanggung pembayaran BPJS Kesehatan warga Surabaya apabila sudah non aktif ketika warga itu resign atau tidak lagi bekerja di perusahaan yang menanggung biaya BPJS. “Dengan kebijakan ini saya berharap tidak ada lagi warga Surabaya yang sakit dan sedih karena tidak dilayani kesehatannya,” tutur dia.

Optimalisasi layanan kesehatan rupanya tak hanya dilakukan Pemkot Surabaya dari sisi pembiayaan. Sebab, saat ini pemkot sedang menyiapkan SOP batas waktu maksimal pelayanan di puskesmas, mulai dari mendaftar hingga menerima obat.

“Nah, ini yang kita ingin memberikan betul jaminan kesehatan kepada masyarakat. Jangan sampai ada (warga) nanti datang berobat 15 menit, menunggunya 2 jam. Sehingga nanti pelayanannya bisa lebih cepat,” tegas dia.

Sementara itu, Deputi Direksi Wilayah Jawa Timur I Made Puja Yasa dalam sambutannya mengapresiasi upaya Walikota Surabaya bersama jajarannya dalam mengawal proses pendataan kepesertaan jaminan kesehatan di Kota Surabaya. Apalagi, kata dia, jaminan kesehatan nasional adalah program yang wajib diikuti sebagai upaya proteksi kesehatan finansial.

“Ini menunjukkan bahwa komitmen yang luar biasa terkait kehadiran pemerintah di dalam memastikan jaminan kesehatan di wilayah Kota Surabaya,” kata I Made Puja.

Dia mengungkapkan, saat ini jumlah penduduk yang sudah terkaver dalam program ini secara nasional sebanyak 222 juta jiwa atau sekitar 82 persen dari total penduduk di Indonesia. Sedangkan di Jatim, jumlah penduduk yang sudah terkaver program ini sebanyak 30,9 juta jiwa  dari 41 juta jiwa. Artinya, 75 persen dari total penduduk di Jatim yang sudah terkaver.

“Sedangkan posisi Surabaya sendiri, saat ini penduduk yang sudah terkaver ada 2,5 juta dari sekitar 2,9 juta jiwa penduduk. Jadi kurang lebih sudah terkaver 84,4 persen. Saat ini Kota Surabaya sudah di atas rata-rata nasional,” ungkap dia.

Menurutnya, meski Surabaya menjadi kota/kabupaten dengan penduduk terbanyak di Jatim, namun jumlah peserta jaminan kesehatan juga paling tinggi. Tentunya untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan komitmen dan kerja keras yang tinggi. “Jadi ini prestasi yang cukup luar biasa. Terlebih Bapak Walikota juga menyampaikan bahwa warga (Surabaya) yang menunggak pembayaran (BPJS), itu juga langsung dimasukkan menjadi peserta yang dibiayai pemerintah daerah. Artinya ini merupakan komitmen yang luar biasa,” pungkasnya.  sis, ary

Related posts

8 Kandidat Ketua IKA UNAIR Bakal Bersaing di Kongres X

redaksiWD

Pemkab Bojonegoro Gelontorkan BKD Rp 452 Miliar, Waspadai Penyelewengan

redaksiWD

Tim Spektronics ITS Pertahankan Juara Chem-E-Car Internasional

redaksiWD