
BINTAN (wartadigital.id) – Permasalahan yang seringkali dihadapi nelayan adalah proses pengawetan hasil tangkapan. Hal ini akan berpengaruh pada penghasilan dan peningkatan kualitas ikan untuk penjualan. Kasus tersebut jamak dialami pula oleh masyarakat Nelayan Desa Pengudang, Kec. Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.
Menurut pengakuan Syamsu Hilal SE, selaku Plt Kepala Desa Pengudang, mayoritas masyarakat setempat berprofesi sebagai nelayan, karena kondisi geografis di pesisir dan memiliki potensi laut yang melimpah. Hal ini, juga didukung oleh bibir pantai yang memiliki nilai jual sebagai objek pariwisata. Selain pantai, Desa Pengudang juga memiliki kawasan hutan bakau yang mampu mendongkrak sektor pariwisata.
“Potensi desa ini sangat tinggi, masyarakat setempat melalui Pokdarwis sangat kompak menjaga alam namun masih mengalami kendala dalam mengoptimalkan tangkapan ikan,” ungkapnya, Rabu (22/6/2022).
Karena itu dalam kegiatan Airlangga Community Development Hub (ACDH) ini, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) yang menjadi satu klaster dengan Teknologi Perikanan dengan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK ) Unair menawarkan solusi.
FTMM Unair memberikan fasilitas sekaligus pelatihan alat pengering ikan berteknologi advance, Solar Dryer Dome. Seperti penggunaan panel surya pada alat pengering ikan ini akan meringankan dari segi pembiayaan listrik, serta turut mendukung pemanfaatan energi baru terbarukan.
Bantuan FTMM Unair ini disambut antusias Syamsu Hilal. “Kami sangat senang akan kehadiran FTMM dengan teknologinya. Mereka memberikan fasilitas sekaligus pelatihan alat pengering ikan berbasis tenaga surya,” katanya.
Sementara itu, Wakil Dekan III FTMM Unair Prof Dr Retna Apsari MSi menjelaskan bahwa FTMM fokus pada teknologi EBT. Hal ini mengingat di Pengudang dan Bintan masih sangat jarang pengoptimalan EBT, terlebih dengan potensi yang melimpah.
“Eman-eman (sayang sekali, Red), potensi ini bisa dan harus dimaksimalkan. Mulai dari hal kecil seperti pemanfaatan sinar matahari untuk menunjang berbagai keperluan masyarakat dan akan terus diinovasi hasil-hasil riset yang bersinergi dengan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Dijelaskannya sebenarnya, sebelum survey pada Maret 2022 pihaknya merencanakan pembangunan kendaraan listrik untuk mendukung pariwisata. Namun, ketika di lapangan ternyata keluhan masyarakat pada pengeringan hasil tangkapan, maka topik Pengmas ACDH ini fokus membantu keperluan nelayan di Desa Pengudang. “ Ke depan potensi EBT di masyarakat Desa Pengudang, dapat terus ditingkatkan untuk memenuhi keperluan masyarakat,” kata Prof Retna.

Maka dari itu FTMM berimprovisasi untuk membangun alat ini. Solar Dryer Dome bukan sekadar alat pengering ikan biasa, melainkan teknologi tepat guna yang mudah pengoperasiannya. Alat tersebut hasil Kerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Unair melibatkan UMRAH untuk memaksimalkan desain alat dan pengoperasional alat yang berkelanjutan.
“Harapannya masyarakat cocok dengan alat kami. Pemakaiannya sangat simpel, masyarakat akan sangat terbantu dengan alat ini,” tandasnya.
FKP dalam kegiatan ACDH ini fokus pada pengeringan ikan dengan spinner dan paparan terkait dengan Surimi yaitu pemanfaat jenis-jenis ikan yang melimpah untuk dijadikan produk setengah jadi (Intermediate produk), disertai dengan demo pembuatan surimi dan nuget ikan. Produk surimi dapat dijadikan sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan ekonomi keluarga dan hasil olahan perikanan khas Pengudang. nti