Hantavirus Merebak di Kapal Pesiar, Pakar Epidemiologi UNAIR Ungkap Risiko Zoonosis Global

Laura Navika Yamani SSi MSi PhD

SURABAYA (wartadigital.id) – Kemunculan klaster dugaan hantavirus pada kapal pesiar MV Hondius baru-baru ini menarik perhatian setelah sejumlah penumpang mengalami gangguan pernapasan berat selama pelayaran lintas negara. Peristiwa tersebut menjadi sorotan isu kesehatan global sekaligus mengingatkan kembali pada risiko penyakit zoonosis di tengah meningkatnya mobilitas manusia.

Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR  Laura Navika Yamani SSi MSi PhD, menjelaskan bahwa hantavirus umumnya tidak muncul secara tiba-tiba di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar. Ia menilai, kondisi tersebut lebih mengarah pada kemungkinan paparan awal sebelum perjalanan atau saat individu berada di wilayah dengan reservoir hewan pengerat. “Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu. Sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi,” jelasnya dalam keterangan resmi, Kamis (7/5/2026).

Bacaan Lainnya

Ia menambahkan bahwa mobilitas lintas negara dalam perjalanan laut berpotensi memperluas jangkauan deteksi kasus tanpa menunjukkan lokasi infeksi awal secara langsung.

Laura menjelaskan bahwa hantavirus menular melalui paparan partikel yang berasal dari urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan tidak memerlukan kontak langsung, melainkan cukup melalui inhalasi partikel yang terkontaminasi. Kondisi ini membuat aktivitas di lingkungan dengan populasi hewan pengerat tinggi berisiko meningkatkan infeksi.

Ia menekankan bahwa sebagian besar hantavirus tidak menunjukkan transmisi antarmanusia. Namun, beberapa strain tertentu seperti Andes virus memiliki kemampuan terbatas untuk menular antarmanusia. Oleh karena itu, ia menilai investigasi epidemiologi dan analisis genomik tetap menjadi langkah penting untuk memastikan pola penularan yang terjadi.

Selain itu, perubahan lingkungan seperti perubahan iklim dan pergeseran habitat hewan juga ikut memengaruhi distribusi reservoir penyakit. “Aktivitas manusia di wilayah baru dan meningkatnya ekowisata memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu,” ujarnya.

Gejala Awal dan Upaya Mitigasi

Dari sisi klinis, Laura menjelaskan bahwa hantavirus memiliki gejala awal yang tidak spesifik, seperti demam, kelelahan, dan gangguan gastrointestinal. Kondisi ini dapat berkembang cepat menjadi pneumonia berat. Kemudian berlanjut ke Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), hingga syok. Pada fase ini, pasien membutuhkan penanganan intensif di fasilitas kesehatan.

Ia menambahkan bahwa bentuk berat infeksi hantavirus, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi. “Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30–50 persen. Terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat,” jelasnya.

Laura menegaskan pentingnya deteksi awal dan penguatan sistem surveilans kesehatan, termasuk surveilans genomik, untuk memahami pola penyebaran virus. Ia juga mendorong penerapan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) UNAIR itu juga menekankan bahwa penguatan sanitasi, pemantauan gejala, serta komunikasi risiko yang efektif menjadi kunci  dalam mencegah penyebaran. “Dalam era mobilitas global yang semakin tinggi, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini sangat diperlukan untuk mencegah eskalasi kasus serupa di masa depan,” pungkasnya. nti

Pos terkait