Festival Mpu Tajum: Kecamatan Ngetos Gelar Peringatan Sejarah Berdirinya Bumi Anjuk Ladang

Hadirkan pergelaran seni budaya, pameran pusaka, dan napak tilas sejarah untuk memeringati Hari Jadi Kabupaten Nganjuk ke-1.089

NGANJUK (wartadigital.id) – Kecamatan Ngetos Kabupaten Nganjuk kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya dan sejarah daerah dengan menyelenggarakan Festival Mpu Tajum Mengawal Sejarah Berdirinya Bumi Anjuk Ladang.

Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 23 April 2026 di Kantor Kecamatan Ngetos, dan akan menjadi salah satu peringatan paling bersejarah dalam rangkaian hari jadi Kabupaten Nganjuk ke-1.089.

Bacaan Lainnya

Kecamatan Ngetos menyimpan salah satu jejak sejarah tertua di Kabupaten Nganjuk, bahkan di Nusantara. Wilayah ini erat kaitannya dengan Prasasti Jayastamba, sebuah prasasti yang menjadi bukti otentik pemberian status tanah swatantra, yakni wilayah yang mendapatkan hak otonomi khusus dari raja kepada daerah yang kini dikenal sebagai Anjuk Ladang.

Peristiwa bersejarah tersebut berlangsung pada masa Kerajaan Mataram Kuno, dan menjadi tonggak awal yang menjadi dasar penetapan hari jadi Kabupaten Nganjuk.

Lebih jauh menelusuri sejarah, nama Mpu Tajum turut tercatat dalam lembar perjalanan panjang peradaban Nusantara. Sosok ini tidak hanya dikenal sebagai tokoh agama yang dihormati pada zamannya, tetapi namanya juga disebut dalam Kitab Pararaton, salah satu sumber sejarah penting yang merekam perjalanan kerajaan-kerajaan besar di Jawa, termasuk masa kejayaan Kerajaan Majapahit.

Hal ini memertegas bahwa kawasan Ngetos dan tokoh-tokoh yang melingkupinya memiliki peran yang tidak kecil dalam panggung sejarah Nusantara.

Camat Ngetos, Nuri Prihandoko, menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar perayaan semata, melainkan upaya nyata dalam menjaga dan mewariskan nilai-nilai historis kepada generasi penerus.

“Kami ingin masyarakat, terutama generasi muda, memahami dan bangga dengan sejarah daerahnya sendiri. Festival Mpu Tajum ini adalah cara kami untuk mengawal sejarah berdirinya Bumi Anjuk Ladang agar tidak terlupakan oleh zaman,” ujar Nuri Prihandoko.

Sebagai pelengkap yang tak kalah istimewa, festival ini juga akan menampilkan pameran tosan aji, koleksi pusaka berupa keris dan senjata tradisional yang merupakan warisan leluhur dengan nilai spiritual dan historis tinggi.

Para pecinta dan kolektor pusaka dari berbagai penjuru diundang untuk menyaksikan langsung koleksi tosan aji pilihan yang dipamerkan dalam acara ini.

Tak hanya pameran, panitia juga merencanakan penyelenggaraan bursa tosan aji, sebuah ajang pertemuan bagi para penggemar, kolektor, dan penjual pusaka untuk saling bertukar, berbagi pengetahuan, serta bertransaksi secara langsung. Kehadiran bursa ini diharapkan menjadi ruang pelestarian sekaligus penghargaan terhadap kekayaan budaya leluhur yang semakin perlu dijaga di era modern.

Terkait pameran dan bursa tosan aji, Nuri Prihandoko menambahkan, kehadiran pusaka dalam festival ini bukan tanpa alasan.

“Tosan aji bukan sekadar benda antik. Ia adalah warisan leluhur yang menyimpan nilai sejarah, spiritual, dan budaya yang sangat dalam. Melalui pameran dan bursa ini, kami ingin masyarakat kembali mengenal dan menghargai warisan yang telah dijaga turun-temurun oleh nenek moyang kita,” kata dia.

Festival yang sarat nuansa budaya ini juga dirancang sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah panjang Kabupaten Nganjuk. Melalui pergelaran seni dan budaya tradisional, masyarakat diajak untuk mengenal lebih dekat akar sejarah berdirinya wilayah yang kini telah berusia 1.089 tahun itu.

“Seluruh warga Nganjuk dan masyarakat umum diundang untuk hadir menyaksikan langsung semarak Festival Mpu Tajum pada 23 April 2026 di Kantor Kecamatan Ngetos,” tutur Nuri.

Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui: Instagram: @kec_ngetos, TikTok: @kecamatan.ngetos, WhatsApp: 0851 8576 9949. juk

Pos terkait