Komisi IX DPR RI  Sebut Stunting Menghambat Pembentukan SDM Unggul

Kegiatan Promosi dan KIE Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting di STAI Al Ustmani Bondowoso, Sabtu (15/10/2022).

 

BONDOWOSO (wartadigital.id) – Percepatan penurunan stunting menjadi masalah dan tanggungjawab bersama untuk menyelesaikannya. Sinergi berbagai sektor diperlukan, salah satunya sinergi BKKBN Provinsi Jawa Timur dengan Komisi IX DPR RI untuk melakukan edukasi kepada masyarakat terkait percepatan penurunan stunting. Salah satunya yang dilaksanakan melalui Promosi dan KIE Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting di STAI Al Ustmani Bondowoso, Sabtu (15/10/2022).

Bacaan Lainnya

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Dr Nihayatul Wafiroh MA dalam acara tersebut menyampaikan Sumber Daya Manusia adalah kunci dalam pembangunan dan stunting adalah salah satu persoalah yang menghambat pembentukan SDM unggul.  Masyarakat harus paham betul berkaitan dengan hal ini, mulai dari merencanakan pernikahan, merencanakan kehamilan dan kelahiran dengan baik sehingga anak-anak yang dilahirkan dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga tercipta SDM unggul ke depan.  “Komisi IX DPR RI telah mengawal bagaimana persoalan stunting ditangani dengan benar dan sungguh-sungguh oleh pemerintah,” katanya.

Lebih jauh Nihayatul Wafiroh menyampaikan saat  ini masih ada pandangan masyarakat bahwa banyak anak banyak rejeki. Meninggalkan generasi penerus yang kuat atau berkualitas itu jauh lebih penting daripada sekadar jumlah yang banyak. Orangtua memiliki tanggung jawab mendidik anak-anak agar menjadi anak yang berkualitas, yang tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Dalam kegiatan ini Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur yang diwakili Koordinator Bidang Dalduk Uni Hidayati ST, MM menjelaskan penurunan dan pencegahan stunting harus dimulai dari hulu, dari remaja, calon pengantin, dan PUS serta terutama ibu hamil dan keluarga baduta.

Pemahaman masyarakat tentang pentingnya masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) diharapkan akan mengubah perilaku menuju pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan gizi yang optimal di masa awal kehidupan tersebut. Selain peran ibu, peran ayah dan keluarga lainnya sangat dperlukan dalam mencegah dan menurunkan stunting, ayah dan keluarga lainnya harus berperan dalam pengasuhan terutama pada ibu hamil sampai anak usia 5 tahun.  “Pemeriksaan kehamilan dengan baik, pemberian ASI Eksklusif, pemberian ASI dan makanan pendamping ASI sampai anak usia 2 tahun sangat penting dalam rangka mencegah stunting,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial PPKB Kabupaten Situbondo Anisatul Hamidah MSi melalui Kepala Bidang Kependudukan dan KB Dinas Sosial PPKB menyampaikan salah satu penyebab stunting di Bondowoso adalah masalah pernikahan dini yang merupakan bagian dari budaya masyarakat setempat. Kehamilan tidak diinginkan (KTD) terutama di usia remaja juga merupakan salah satu penyebab stunting.

Pemkab Bondowoso menerapkan strategi salah satunya dengan menggandeng konsorsium perguruan tinggi untuk melakukan kampanye perubahan perilaku untuk menyelesaikan masalah stunting dari hulu hingga hilir. Salah satunya dengan pembentukan SSK (Sekolah Siaga Kependudukan), pengembangan Kelompok PIK R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja). Untuk para orangtua balita ada program SOTH (Sekolah Orangtua Hebat) agar para orangtua cerdas dan terampil dalam mengasuh anak balitanya untuk mendapatkan generasi penerus berkualitas. Program-program lain untuk mendidik dan memberdayakan perempuan juga terus digalakkan di Kabupaten Bondowoso untuk meningkatkan bargaining power perempuan terhadap tekanan menikah di usia dini. Apa yang dilakukan pemerintah Bondowoso memerlukan dukungan dari tokoh agama dan tokoh masyarakat agar turut berperan mengedukasi masyarakat terutama dalam hal mengurangi pernikahan dini. sis