
BLITAR (wartadigital.id) — Pemprov Jatim terus melakukan penguatan daya beli masyarakat melalui intervensi bahan pangan murah yang dilakukan konsisten di berbagai daerah.
Sejak awal 2026, total kegiatan Pasar Murah telah dilaksanakan sebanyak 118 kali di berbagai kabupaten kota di Jawa Timur. Termasuk yang ditinjau langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Lapangan Brubuh, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Sabtu (5/9/2026). Pasar Murah tersebut ramai diserbu masyarakat untuk mengakses bahan pangan terjangkau dan di bawah harga pasar.
Gubernur Khofifah menuturkan, masifnya pelaksanaan Pasar Murah menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian harga pangan tidak dilakukan secara sporadis. Melainkan upaya berkelanjutan untuk memastikan kebutuhan pokok tetap terjangkau oleh masyarakat. “Pasar Murah ini bukan sekadar operasi harga. Yang ingin kita jaga adalah daya beli masyarakat. Karena ketika harga kebutuhan pokok dapat dijangkau, maka keluarga memiliki ruang yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan lainnya, seperti pendidikan anak, kesehatan, dan kebutuhan rumah tangga,” kata Khofifah.
Menjaga daya beli masyarakat memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar menekan harga sejumlah komoditas. Daya beli yang terjaga akan memberikan ruang bagi keluarga untuk mengatur pengeluaran secara lebih sehat sekaligus menjaga ketahanan sosial ekonomi rumah tangga.
Khofifah menegaskan, pemerintah harus hadir memastikan masyarakat memiliki akses terhadap pangan dengan harga yang wajar, terutama ketika terdapat dinamika harga pada sejumlah komoditas strategis. Kehadiran pemerintah, tidak cukup hanya dilakukan ketika terjadi gejolak harga, tetapi harus melalui langkah antisipatif dengan menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi.
“Di Pasar Murah ini yang dijual adalah sembako yang harganya di bawah standar harga pasar, karena memang ada subsidi dari Pemprov yang diharapkan bisa menguatkan penjangkauan masyarakat, lalu stabilisasi harga dan stabilisasi inflasi di berbagai daerah,” jelas Khofifah.
Menurutnya, intervensi yang dilakukan Pemprov Jatim juga tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari upaya bersama dengan pemerintah kabupaten dan kota. Langkah tersebut diharapkan semakin memperkuat efektivitas pengendalian harga karena setiap level pemerintahan dapat saling melengkapi sesuai kebutuhan dan kondisi di daerah masing-masing.
Pada Pasar Murah di Kabupaten Blitar, masyarakat dapat memperoleh berbagai kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau. Beras premium tersedia dengan harga Rp 14.000 per kilogram, beras medium SPHP Rp 11.000 per kilogram, minyak goreng Rp 13.000 per liter, gula pasir Rp 14.000 per kilogram, serta tepung terigu Rp 10.000 per kilogram.
Komoditas lainnya yang tersedia antara lain telur ayam ras Rp 20.000 per kemasan, bawang putih Rp 6.000 per 250 gram, bawang merah Rp 6.000 per 250 gram, paket cabai Rp 5.000 per 200 gram, serta daging ayam ras Rp 32.000 per kemasan.
Lebih lanjut, Khofifah menjelaskan bahwa Pasar Murah merupakan salah satu instrumen dalam strategi pengendalian inflasi daerah. Upaya tersebut berjalan bersama dengan penguatan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, pemantauan harga, serta komunikasi dan koordinasi lintas sektor.
Menurutnya, titik ke 118 kali di tahun 2026 juga menggambarkan luasnya jangkauan intervensi yang dilakukan Pemprov Jatim untuk memastikan kebijakan stabilisasi harga tidak hanya dirasakan masyarakat di pusat-pusat perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah. “Titik ke 118 kali ini menunjukkan bahwa ikhtiar menjaga keterjangkauan pangan terus kita lakukan dan kita perluas. Ini adalah bentuk komitmen agar manfaat kebijakan pemerintah dapat dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Jawa Timur,” katanya. yek





