
SURABAYA (wartadigital.id) – Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1446 Hijriyah/2024, Masjid Sabiilus Salam di kawasan Nginden Intan menggelar khitanan massal, Sabtu (14/9/2024) pagi. Sebanyak 30 anak yang berasal dari sekitar Nginden ikut dalam kegiatan tersebut.
Ketua Panitia Bambang Tjahyono menjelaskan kegiatan sosial yang didukung PT Petrokimia Gresik ini merupakan program Yayasan Sabiilus Salam untuk membantu keluarga kurang beruntung untuk mengkhitankan anaknya.
“Acara kami gelar secara sederhana di masjid, semangatnya saling berbagi, meringankan beban masyarakat yang memerlukan bantuan. Semoga bisa menambah barokah,” kata mantan Dirut PT Pupuk Kujang ini.

Ketua Yayasan Sabiilus Salam HR Moh Faried SH dalam sambutannya mengatakan pada hakikatnya, khitan telah disyariatkan jauh sebelum Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah untuk umat muslim di seluruh muka bumi. Disebutkan dalam sebuah riwayat, Nabi Ibrahim AS merupakan salah satu utusan Allah SWT yang diberi syariat atas khitan.
Hal itu kemudian dilanjutkan dengan terus dilakukan hingga umat Nabi Muhammad SAW sebagaimana adanya perintah bagi umat Islam agar mengikuti tata cara ritual Nabi Ibrahim AS. Sebab, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 123. ” Ayat tersebut dijadikan dasar hukum khitan bagi laki-laki dalam agama Islam,” kata mantan Bupati Lamongan dua periode ini.

Dijelaskan Faried, selain diwajibkan dari sisi syariat agama Islam, dari sisi medis banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh orang yang menjalani proses sunat. Selain itu sunat lebih utama dilakukan saat usia anak-anak karena memang lebih mudah dilakukan ketika masih anak-anak. “Ini yang mendasari yayasan menggelar khitanan massal untuk anak-anak,” katanya.
Dalam melayani 30 peserta khitanan massal, Yayasan Sabiilus Salam menggandeng tim medis PT Sukses Mulia Bersama. Khitan digelar menggunakan metode sunat menggunakan ring, yang dikenal minim sebabkan pendarahan pada pasien. “Perawatan pasca sunat juga lebih mudah, tidak ada pantangan makan, bisa tetap beraktivitas, tidak membutuhkan jahitan,” kata dr Setiawan dari PT Sukses Mulia Bersama.

Pelaksanaan khitan dilakukan di dalam masjid. Ditemani orangtua masing-masing, satu persatu masuk menunggu giliran masuk dalam ruangan yang telah disekat-sekat dengan tirai. Beberapa anak yang dikhitan tampak tenang, mayoritas ibu mereka mengalihkan ketakutan sang buah hati dengan memberinya handphone untuk bermain. Meski demikian ada yang menangis sambil berteriak-teriak meski sudah diberi handphone untuk mengalihkan perhatian.
Dea, ibunda Yofa (5) mengatakan anaknya sendiri yang meminta untuk dikhitan. Mendengar Masjid Sabiilus Salam menggelar khitan massal, dia mendaftarkan anaknya. Gratis, tak ada biaya. Karena niatnya sudah kuat, saat dikhitan pun anaknya tak rewel. Sebagai orangtua dia juga tak khawatir. “Saat disunat dia tenang, gak nangis. Sibuk main handphone. Saya lega,” kata warga Nginden tersebut. nti