Respons Isu Lingkungan, FTMM Unair Tanam Pohon Kelapa di Pulau Gili Iyang

Penanaman bibit pohon kelapa dalam kegiatan comdev SEGTA di Pulau Gili Iyang, Sumenep, Minggu (10/8/2025).

SUMENEP (wartadigital.id) –  Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (Unair) melalui program SEGTA melakukan gerakan tanam pohon kelapa di Pulau Gili Iyang, Sumenep, Minggu (10/8/2025). Bibit pohon kelapa ini ditanam di lahan seluas 1 hektare, yang termasuk wilayah kemitraan dengan Unair di pulau kecil kaya oksigen yang terletak di timur Sumenep, Madura ini.

Wakil Dekan 3 Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian Masyarakat dan Kerjasama  Prof Dr Ir Retna Apsari MSi yang memimpin rombongan menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk merespons terhadap isu-isu lingkungan seperti degradasi lahan, abrasi pantai, serta menurunnya kualitas tanah. Sehingga, kegiatan ini dapat membantu menjaga penggunaan ekosistem daratan secara berkelanjutan demi mewujudkan Green Island Gili Iyang.

Bacaan Lainnya

“Kegiatan ini sekaligus kontribusi aktif Unair dalam mendukung SDGs khususnya poin ke-13, 15, dan 17. Penanaman pohon kelapa ini merupakan merupakan satu dari enam topik pengabdian masyarakat di Sumenep dan Gili Iyang,” katanya.

PIC penanaman pohon Dr Tahta Amrillah MSi menjelaskan  setelah  tanam pohon, rombongan memberi pupuk pada bibit pohon kelapa yang telah tertanam. Kegiatan ini menggunakan biofertilizer hasil penelitian oleh tim riset Prof  Ni’matuzahroh, dosen biologi sekaligus Plt Dekan FTMM.

Rombongan FTMM Unair berdiskusi usai melakukan gerakan tanam pohon bibit pohon kelapa di Pulau Gili Iyang.

Dijelaskan Tahta, sebanyak 25 bibit pohon kelapa ditanam dalam rangka rehabilitasi lahan kritis dan penguatan ekonomi masyarakat lokal. FTMM memilih kelapa karena memiliki manfaat ekologis sebagai penahan angin dan abrasi. “Ada manfaat ekonomis yang tinggi melalui berbagai produk turunan pohon kelapa,” katanya.

Proses penanaman pohon kelapa ini melibatkan peserta SEGTA 2025 yang terdiri dari berbagai universitas luar negeri, dosen dan tendik FTMM, serta warga lokal. Dengan bibit hibrida, FTMM berharap pohon kelapa dapat tumbuh lebih cepat dalam kurun waktu 4-5 tahun. “Melalui penanaman kelapa ini, kami tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam masa depan masyarakat pesisir. Kami siap bermitra dengan Unair agar mampu mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan,” ujar  Ayhak, salah satu warga Gili Iyang yang juga Ketua Pokdarwis setempat.

Foto bersama rombongan FTMM Unair usai penanaman bibit pohon kelapa dalam kegiatan comdev SEGTA di Pulau Gili Iyang, Sumenep.

Inovasi lain yang diusung SEGTA adalah pemanfaatan biofertilizer, pupuk hayati berbasis mikroorganisme alami yang hasil dari fermentasi limbah organik. Biofertilizer ini berfungsi untuk mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus meningkatkan kesuburan tanah secara alami, tanpa bahan kimia berbahaya. Tim SEGTA juga memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang cara pembuatan dan aplikasi biofertilizer mandiri, sehingga mereka dapat menerapkannya di lahan pertanian mereka sendiri.

Pemeliharaan Solar Shelter dan Education Outreach

Yoga Uta ST, MT, selaku pembicara  dan sekaligus Wakil Ketua SEGTA pada kegiatan education outreach, memberikan materi mengenai energi terbarukan. Khususnya, tentang solar cell dan mobil listrik yang ramah lingkungan.

Mahasiswa dan dosen FTMM melakukan pemeliharaan solar shelter di Pulau Gili Iyang untuk memastikan kualitas energi terbarukan.

Yoga yang juga dosen FTMM Unair menjelaskan kepada peserta dan siswa tentang bagaimana teknologi solar cell dan kendaraan listrik dapat membantu menciptakan masa depan yang lebih bersih dan efisien. Siswa-siswa yang hadir pada kegiatan ini berasal dari SMPI Nurul Iman Gili Iyang, yang terdiri dari 22 orang, yang sangat antusias mengikuti sesi pelatihan ini.

Dalam kegiatan SEGTA 2025) di Pulau Gili Iyang, Dungkek, Sumenep,  mahasiswa dan dosen FTMM melakukan pemeliharaan solar shelter untuk memastikan kualitas energi terbarukan.

Sebelumnya solar shelter telah dibangun FTMM untuk warga di Pantai Ropet, Pulau Gili Iyang. FTMM membangun solar shelter ini pada tahun 2022. Alat ini berfungsi untuk mengisi daya baterai gawai dan sepeda listrik, memanfaatkan sel surya sebagai sumber energi terbarukan. Solar shelter ini membantu warga mengurangi penggunaan listrik di rumah mereka. Hal ini karena listrik di pulau ini hanya tersedia mulai pukul 17.00 hingga 05.00 WIB.

Mereka melakukan pemeliharaan solar shelter dan mengisi checklist pemeliharaan. Peserta menguji parameter pada solar panel, baterai, solar charge controller, inverter, soket 220 V, soket USB 5 V, dan konstruksi.

Salah satu peserta, Aqil Zahwan bin Razadi, mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat membantunya dalam memberikan pengalaman. Sebagai mahasiswa tahun pertama jurusan Electronic Engineering di FTMM Unair, dia biasa bekerja dengan elektronik untuk board, sehingga kegiatan hands-on ini memberinya pengetahuan baru tentang struktur dan pemeliharaan solar shelter. “Kegiatan ini sangat bagus, karena memberikan pengalaman baru yang menyenangkan dan membuat saya merasa berguna serta lebih dekat dengan alam,” ujarnya. nti

 

Pos terkait