Sejarah Larungan Telaga Ngebel, Sempat Ganti Nama tapi Tetap Tak Ubah Makna

Sejarah penting terjadi pada 1992 bersamaan Pemerintah Kecamatan Ngebel mengoordinasikan Larungan Telaga Ngebel

PONOROGO (wartadigital.id) – Keberadaan Telaga Ngebel merupakan berkah tersendiri sehingga masyarakat setempat menggelar larungan sebagai bentuk syukur. Sebelum Larungan Telaga Ngebel menjadi prosesi besar seperti sekarang ini, empat warga desa di sekitar telaga menjalankan upacara adat secara parsial.

“Tradisi yang sudah berlangsung lama dan turun temurun di lingkungan warga Desa Wagir Lor, Desa Ngebel, Desa Sahang, dan Desa Gondowido,” kata Fibi Chandra, sekretaris panitia Larungan Telaga Ngebel 2026.

Bacaan Lainnya

Seiring perjalanan waktu, tradisi itu berkembang menjadi kegiatan bersama yang melibatkan seluruh masyarakat di kawasan Telaga Ngebel. Sejarah penting terjadi pada 1992 bersamaan Pemerintah Kecamatan Ngebel mengoordinasikan Larungan Telaga Ngebel.

“Prosesinya hampir sama dan pelaksanaanya tetap bulan Suro. Larungan akhirnya juga masuk rangkaian Grebeg Suro,” kata Fibi.

Larungan juga sempat mengalami beberapa perubahan penyebutan. Mulai dari Larung Sesaji hingga Larung Risalah Doa. Setelah melalui sejumlah pertimbangan dan masukan dari para sesepuh, nama Larungan Telaga Ngebel yang digunakan.

Fibi menegaskan makna yang terkandung dalam tradisi larungan tetap sama, yakni ungkapan rasa syukur masyarakat atas keberadaan Telaga Ngebel karena memberikan manfaat bagi warga.

Bertepatan pergantian Tahun Hijriah, Larungan Telaga Ngebel juga menjadi sarana refleksi diri

“Tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga mendukung sektor pertanian dan perikanan melalui hasil bumi, ikan, kesuburan tanah, serta sejumlah potensi ekonomi yang lain dari sektor pariwisata,” urainya.

Karena itu, beragam hasil bumi disusun dalam bentuk buceng kemudian dipersembahkan secara simbolis sebagai ungkapan syukur kepada Sang Pencipta atas rezeki dan keberkahan yang telah diberikan.

“Sebagian rezeki yang diperoleh masyarakat dikembalikan kepada Sang Pencipta. Kalau istilah orang Jawa, dikembalikan kepada pemiliknya. Itu makna utama dari larungan,” ujar Fibi.

Dengan memilih waktu bertepatan pergantian Tahun Hijriah, Larungan Telaga Ngebel juga menjadi sarana refleksi diri. Puncak prosesi ditandai dengan melarung Buceng Agung ke tengah telaga. Gunungan utama itu terbuat dari campuran nasi dan ketan agar tetap kokoh selama prosesi berlangsung.

Fibi menyebut ada rangkaian upacara adat yang dilakukan pada malam 1 Muharam atau 1 Suro. Di antaranya, jamasan wedus kendit yaitu kambing berkulit hitam yang memiliki garis putih melingkar pada bagian perut menyerupai sabuk.

Puncak prosesi ditandai dengan melarung Buceng Agung ke tengah telaga

“Wedus kendit memiliki filosofi tentang keterhubungan dan kesinambungan. Garis putih yang tidak terputus menjadi simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat yang hidup di sekitar Telaga Ngebel. Hubungan kemasyarakatan yang tidak terputus antara wilayah-wilayah yang mengelilingi Telaga Ngebel,” ungkapnya.

Setelah jamasan, upacara berlanjut dengan larung rudiro, pembuatan cok bakal yang akan ditanam di sejumlah titik di sekeliling Telaga Ngebel. Prosesi berlanjut dengan Lampah Ratri, tradisi berjalan mengelilingi telaga sembari membawa obor sebagai simbol doa dan harapan masyarakat. “Jumlah obor menyesuaikan bilangan Tahun Saka, kalau tahun ini 1960,” tutur Fibi.

Masih kata Fibi, masyarakat Ngebel memandang seluruh rangkaian prosesi larungan sebagai warisan budaya yang memuat nilai sejarah, spiritualitas, gotong royong, dan rasa syukur. Tradisi yang patut diwariskan dari generasi ke generasi.

“Yang paling penting bagaimana tradisi ini tetap berjalan dan tidak terputus. Karena di dalamnya ada nilai-nilai luhur yang harus terus dijaga,” ujarnya. ono

Pos terkait