Tekan Angka Kematian Ibu, TP PKK Nganjuk Evaluasi Kinerja Kader Pendamping SIBS

Ny. S. Wahyuni Marhaen pimpin evaluasi di Pendopo Sosrokoesoemo untuk memperkuat deteksi dini risiko kehamilan dan nifas

NGANJUK (wartadigital.id) – Tim Penggerak PKK Kabupaten Nganjuk melakukan evaluasi kegiatan pendampingan kader SIBS (Sambang Ibu Bayi Sehat) Tahun 2026 di Pendopo KRT Sosrokoesoemo, Rabu (9/9/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin Ketua TP PKK Kabupaten Nganjuk, S. Wahyuni Marhaen Djumadi, dan diikuti kader SIBS dari berbagai desa/kelurahan di Kabupaten Nganjuk.

Bacaan Lainnya

Evaluasi ini menjadi bagian penting untuk melihat capaian pendampingan sekaligus memperkuat peran kader dalam membantu pemerintah menekan angka kematian ibu dan bayi. Dalam arahannya, S. Wahyuni menekankan upaya tersebut membutuhkan keterlibatan bersama, termasuk PKK, kader, tenaga kesehatan, serta masyarakat.

“Berbagai usaha sudah kita lakukan bersama-sama untuk menekan terjadinya kematian ibu dan bayi,” ujar S. Wahyuni.

Ia menyampaikan, berdasarkan evaluasi hingga Agustus 2026, angka kematian ibu di Kabupaten Nganjuk masih menjadi perhatian serius. Angka tersebut tercatat meningkat dari 106,28 per 100.000 kelahiran hidup pada 2025 menjadi 203 per 100.000 kelahiran hidup pada Agustus 2026.

TP PKK Nganjuk melakukan evaluasi kegiatan pendampingan kader SIBS di Pendopo KRT Sosrokoesoemo, Rabu (9/9/2026)

Hingga Agustus 2026, tercatat 15 ibu meninggal dunia. Penyebab terbanyak meliputi perdarahan sebesar 26,7 persen, penyakit penyerta pada ibu hamil sebesar 26,7 persen, serta preeklamsia sebesar 13 persen. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan deteksi dini dan pendampingan bagi ibu hamil maupun ibu setelah melahirkan.

Dalam pelaksanaan SIBS, dari 284 desa/kelurahan yang telah mendapatkan pelatihan, sebanyak 204 desa telah mengirimkan laporan hasil pendampingan. Selama periode Mei hingga Agustus 2026, kader telah mendampingi 1.545 ibu nifas dan 1.587 bayi.

Dari pendampingan itu, sebanyak 75 ibu nifas dan 13 bayi telah dirujuk untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Sementara itu, tercatat dua ibu nifas dan sembilan bayi meninggal dunia selama periode pelaporan itu.

Selain SIBS, TP PKK Kabupaten Nganjuk juga menjalankan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, di antaranya Peniti PKK, Pelita Biru PKK, serta GEMA SI BATUR yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita melalui pendampingan sekaligus pemberian bantuan telur.

S. Wahyuni juga menyampaikan capaian Gerakan Berbagi Telur Kita. Dalam periode Juli 2025 hingga Agustus 2026, sebanyak 7.704 telur telah dibagikan di 14 kecamatan. Bantuan tersebut diberikan kepada 102 ibu hamil, 53 ibu menyusui, dan 348 balita.

Evaluasi hingga Agustus 2026, angka kematian ibu di Kabupaten Nganjuk masih menjadi perhatian serius

Menurutnya, berbagai capaian itu menunjukkan, masyarakat bersama kader PKK telah bergerak membantu pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, termasuk dalam upaya menurunkan kematian ibu dan bayi serta stunting. Namun, masih diperlukan penguatan kesadaran masyarakat, khususnya pasangan usia subur, terhadap pentingnya perencanaan kehamilan yang sehat.

“Jika Kescatin ini sudah dilaksanakan, ibu yang ingin hamil benar-benar layak untuk hamil sehingga akan melahirkan generasi yang sehat, berkualitas, dan menghindarkan terjadinya kematian ibu dan bayi,” kata dia.

Untuk itu, S. Wahyuni mengajak seluruh kader dan masyarakat turut menyebarluaskan pentingnya skrining kesehatan melalui Kescatin (Kesehatan Reproduksi bagi Calon Pengantin dan Pasangan Usia Subur), terutama bagi pasangan yang akan menikah maupun pasangan usia subur yang berencana memiliki anak kembali.

Ketua TP PKK Nganjuk juga memberikan apresiasi kepada para kader SIBS yang selama ini telah melakukan pendampingan meskipun belum mendapatkan honor. Ia berharap 80 desa yang kader SIBS-nya belum aktif melakukan pendampingan dapat segera berproses dan mengikuti desa-desa lainnya.

“Terima kasih kepada TP PKK Kecamatan yang sudah menggerakkan TP PKK desa, khususnya Pokja IV desa, untuk melakukan pendampingan ibu nifas meskipun tidak ada honornya,” ungkapnya.

Ia berharap penguatan peran kader SIBS dapat terus berjalan secara berkelanjutan sehingga pendampingan terhadap ibu dan bayi semakin optimal. “Mari kita terus bergerak bersama meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Nganjuk,” kata dia. juk

Pos terkait