
Surabaya (wartadigital.id) – Sebanyak 500 orang peserta zoom meeting dan 200 orang peserta link Youtube mengikuti Seminar Nasional 100 Profesor Bicara Stunting dengan tema Cegah Stunting melalui Penguatan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang digelar dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional ke -28 di Tahun 2021.
Tujuan seminar nasional ini diharapkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan SDM baik internal dan petugas Lini Lapangan Program Bangga Kencana serta mitra kerja dalam upaya percepatan penurunan stunting di Indonesia.
Laporan Ketua Panitia Seminar Nasional 100 Profesor Bicara Stunting di Provinsi Jawa Timur, Sukamto SE, MSi mengatakan dasar pelaksanaan kegiatan ini sebagai tindak lanjut BKKBN yang mendapatkan mandat dari Presiden Jokowi untuk menjadi Ketua Pelaksana Program Percepatan Penurunan stunting, serta sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kehamilan dan pola asuh baduta dalam 1000 HPK.
“Cegah Stunting Melalui Penguatan 1000 HPK tema Seminar Nasional hari ini, diikuti oleh 500 peserta melalui zoom meeting dan lebih dari 200 peserta melalui link YouTube, yang berasal dari internal BKKBN yaitu SDM Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, SDM Lini Lapangan Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur (PKB/PLKB), eksternal BKKBN yaitu mitra kerja, jajaran OPD-KB Kabupaten/Kota se-Jatim, Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta, TP-PKK Provinsi dan Kabupaten/Kota, Penyuluh KB non PNS, Kader KB/Poktan/IMP, remaja dan mahasiswa” kata Sukamto, Koordinator Bidang Latbang Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur dalam laporannya pada acara Seminar Nasional 100 Profesor Bicara Stunting, Senin (5/7/2021), di Kantor Latbang Perwakilan BKKBN Jatim.
Hadir secara virtual Kepala BKKBN RI Dr (HC) dr Hasto Wardoyo, SpOG (K). Dia mengatakan stunting di Indonesia masih cukup tinggi yaitu sebesar 27,67% pada 2020 amanat Presiden Republik Indonesia dalam Rapat Kabinet Terbatas pada akhir Januari lalu adalah memberikan tugas kepada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional sebagai ketua pelaksana program percepatan penurunan stunting dengan target angka stunting sebesar 14% pada 2024.
“Ada lima negara yang berhasil menurunkan angka stunting yaitu Peru, Senegal, Nepal, Ethiopia, dan Kyrgyz Republic. Dari lima negara tersebut sebagai percontohan, saya kira hasil ini nanti bisa menjadi bagian kajian menarik sekali. Contoh Peru berhasil menurunkan angka stunting hingga 30 persen dalam waktu singkat, padahal standar WHO dalam penurunan stunting ada di angka 20 persen”, jelas Pak Hasto.
Dia menjelaskan secara umum yang telah dilakukan Senegal, dan 4 negara lainnya dalam rangka penurunan angka stunting secara signifikan dengan berbagai macam cara. Salah satu yang mereka lakukan adalah Improvement Maternal Nutrition and Newborn Outcome yang di Indonesia juga dilakukan. “Ini bisa menjadi referensi yang menarik bagi kita semua dalam menyajikannya karena memang keterbatasan literatur yang sifatnya review secara statistic, review penelitian-penelitian yang sama metodenya itu sangat sedikit sehingga strategi review yang kami dapat di antaranya untuk percepatan penurunan stunting adalah ini,” paparnya.
Hasto berharap nantinya kajian-kajian itu menjadi bagian dari referensi yang baik untuk membuat suatu kebijakan. Adanya para profesor lintas sektor ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memberikan masukan dari berbagai pertimbangan sesuai disiplin ilmu dengan tujuan untuk menyempurnakan ikhtiar untuk menurunkan angka stunting pada 2024.
Sementara itu, Deputi Bidang Lalitbang BKKBN RI Prof drh Rizal Damanik MRepSc, PhD menuturkan hasil sensus penduduk 2020 jumlah penduduk Indonesia saat ini telah berjumlah sebanyak 270,20 juta jiwa. Jumlah penduduk yang besar merupakan aset jika diimbangi dengan kualitas yang baik karena jumlah penduduk yang besar dengan kualitas rendah dan pertumbuhan yang cepat akan memperlambat tercapainya kondisi yang ideal sebuah negara. Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana atau yang disingkat dengan Bangga Kencana dan berbagai kegiatan prioritas di dalamnya senantiasa diarahkan untuk mewujudkan SDM Indonesia unggul, peningkatan kualitas SDM adalah bagian yang strategis untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju dan makmur dengan tersedianya SDM berkualitas.
“Percepatan penurunan stunting ini sangatlah memerlukan kolaborasi multisektor baik dari pihak pemerintah maupun mitra swasta untuk bersama-sama bersinergi khususnya dalam acara ini berkolaborasi dengan Asosiasi Profesor Indonesia yang diharapkan dapat memberikan pandangan ilmiah dari berbagai latar belakang disiplin ilmu dan dapat diaplikasikan di tingkat lini lapangan. Saya berharap acara 100 profesor bicara stunting ini dapat menambah informasi dan pengetahuan bagi keluarga-keluarga di Indonesia terutama dalam upaya pencegahan stunting di Indonesia,” pungkasnya.
Khususnya di wilayah Jawa Timur, Drs Sukaryo Teguh Santoso MPd, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur dalam sambutannya menyampaikan bahwa untuk mendukung upaya percepatan penurunan stunting menuju 14% pada akhir 2024, BKKBN telah menyusun strategi untuk pencegahan kelahiran bayi stunting baru melalui model Pendampingan Keluarga, khususnya keluarga yang memiliki risiko tinggi stunting, termasuk calon pengantin, yang dilakukan oleh para Kader KB, PKK, dan Tenaga Kesehatan.
“Model inkubasi terhadap keluarga 1000 HPK dan Calon pengantin, diharapkan para keluarga memiliki kesiapan dalam mewujudkan keluarga berkualitas dan mampu melaksanakan pengasuhan selama 1000 HPK dengan baik dan benar, termasuk melaksanakan KB Pasca Persalinan sehingga menghasilkan anak-anak yang sehat dan cerdas,” jelasnya.
Ada empat narasumber dan pembahas dalam Seminar Nasional ini, yaitu Prof Dr Sri Sumarmi SKM, MSi dengan materi Penguatan Gizi Dan Kesehatan Reproduksi Pada Masa Prakonsepsi, Prof Dr H Hendy Hendarto dr, SpP OG (K) dengan materi Pemantauan dan Pendampingan Ibu Hamil Mengurangi Resiko Stunting, Prof Dr Irwanto dr SPA (K) dengan materi Deteksi dan Penanganan Sejak Neonatus hingga Balita Terindikasi Stunting, serta Pembahas Prof Dr Razak Thaha dari Universitas Hasanuddin dan Asosiasi Profesor Indonesia. sis