Waspada, 3 Kasus Varian Delta Plus Ditemukan di Indonesia

Dok
Juru Bicara Kemenkes Siti Nadia Tarmizi

JAKARTA (wartadigital.id) – Masyarakat diminta jangan lengah mengendorkan protokol kesehatan dan terus waspada terkait ancaman virus SARS-CoV-2. Sebab ancaman varian Delta yang mengganas belum usai, kini muncul lagi varian Delta Plus. Varian ini sudah ditemukan di beberapa negara. Salah satu kasusnya bahkan sudah ditemukan di Indonesia.

Juru Bicara Covid-19 dan Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi membenarkan bahwa varian Delta Plus sudah masuk ke Indonesia. Sedikitnya sudah ditemukan tiga kasus di Tanah Air. “Iya betul, sudah terdeteksi ada 3 kasus,” katanya, Rabu (28/7/2021).

Bacaan Lainnya

Ketiga kasus itu terdiri dari 2 kasus di Jambi dan 1 di Sulawesi Barat. Menurut Nadia, gejalanya sama dengan varian Delta sebelumnya. Dan untuk menemukan varian ini, pemerintah terus melakukannya dengan tes Whole Genome Sequencing. “Itu untuk memonitor surveilens. Pencegahan tetap protokol kesehatan,” katanya.

Indonesia kata Nadia juga telah melaporkan varian lokal dengan nama B.1466.2. Varian tersebut masuk ke dalam kelompok Alert For Further Monitoring dan pemantauan WHO. “Indonesia melaporkan varian lokal dengan nama B.1466.2 yang saat ini masuk ke dalam alert WHO untuk pemantauan lebih lanjut,” ujarnya.

Nadia menuturkan bahwa varian tersebut masih dalam pemantauan WHO. Sehingga belum ditetapkan WHO sebagai varian baru. “Ini baru monitor saja ini tidak masuk VOC (Varian of Interest) ataupun VOI (Varian Of Concern),” tutur Nadia.

Ia menuturkan, sampel pertama pada pemeriksaan WGS (Whole Genome Sequencing) varian B.1446.2 dilaporkan Indonesia sejak 2020. Sampai saat ini sudah ditemukan sebanyak 923 kasus. “Sampai saat ini ada 923 kasus sejak November 2020,” ucap Nadia.

Untuk diketahui, beberapa varian Corona berbahaya yang sudah masuk Indonesia adalah varian Corona Delta (B1617.2), Delta Plus (AY.1), varian Alpha (B117), varian Beta (B1351).

Sebelumnya Ahli Spesialis Penyakit Dalam yang juga Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban menjelaskan dalam kicauannya baru-baru ini, varian Delta dari India bisa berubah atau bermutasi lagi menjadi varian Delta Plus. Apakah varian Delta Plus berbahaya atau lebih berbahaya dari varian India saat ini?

“Varian Delta yang sangat menular dari SARS-CoV-2 telah bermutasi lebih lanjut untuk membentuk varian Delta Plus atau AY.1. Diketahui, Delta Plus ini tahan terhadap terapi antibodi monoklonal yang baru saja disahkan di India. Semoga kita terhindar dan bisa memitigasinya,” katanya lewat kicauannya.

Dikonfirmasi Prof Zubairi menjelaskan para ahli belum mengetahui apakah Delta Plus akan lebih berbahaya atau lebih menular daripada varian Delta sebelumnya. Meski begitu ia tetap mengingatkan masyarakat untuk terus waspada. “Sebetulnya varian Delta Plus ini belum menjadi Varian Of Concern, jadi belum terlihat dampak buruknya yang lebih jelek dari varian Delta yang sebelumnya,” kata Prof Zubairi.

Ia mengingatkan siapa saja agar untuk jangan lengah melakukan protokol kesehatan ketat, 5M. Sebab penularan varian India tersebut begitu cepat hingga 80 persen dibandingkan varian aslinya. set, ren, jpc