
PROBOLINGGO (wartadigital.id) – Rangkaian kegiatan Yadnya Kasada 1948 Saka/2026 Masehi resmi dimulai dengan pelaksanaan ritual Mendak Tirta di kawasan Tengger Kabupaten Probolinggo, Jumat (29/5/2026).
Tradisi sakral masyarakat Tengger tersebut menjadi pembuka rangkaian upacara adat yang akan mencapai puncaknya pada 1 Juni 2026 dini hari di Pura Luhur Poten dan Laut Pasir Gunung Bromo.
Ritual Mendak Tirta dilakukan dengan mengambil air suci dari sejumlah sumber mata air yang disakralkan masyarakat Tengger, di antaranya Madakaripura, Goa Widodaren, Sumber Semanik, Merumoyo, Rondo Kuning dan Sumber Pitu. Air suci tersebut kemudian dibawa ke Pura Luhur Poten sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan Yadnya Kasada.
Selain Mendak Tirta, masyarakat Tengger juga melaksanakan ritual Atur Suguh di 35 titik kawasan Tengger sebagai bentuk persembahan dan ungkapan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo Akhmad Arief Hermawan CM mengatakan, Yadnya Kasada merupakan salah satu warisan budaya dan tradisi spiritual masyarakat Tengger yang memiliki nilai luhur serta harus terus dilestarikan.
“Yadnya Kasada pada dasarnya terdiri dari dua rangkaian kegiatan, yaitu kegiatan inti berupa ritual keagamaan masyarakat Tengger sebagai bentuk korban suci dan kegiatan pendukung yang bertujuan memperkuat pelestarian budaya serta memperkenalkan kekayaan tradisi Tengger kepada masyarakat luas,” katanya.
Menurut Arief, setelah pelaksanaan Mendak Tirta dan Atur Suguh, rangkaian ritual akan dilanjutkan dengan Pawedalan Pura Luhur Poten sebelum memasuki puncak Yadnya Kasada pada 1 Juni 2026 dini hari.
“Rangkaian ritual ini bukan hanya memiliki makna spiritual bagi masyarakat Tengger, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, keberlangsungannya harus terus dijaga dan didukung bersama,” terangnya.
Selain kegiatan ritual, Yadnya Kasada 2026 juga akan diramaikan dengan berbagai kegiatan pendukung. Pada 31 Mei 2026 akan digelar resepsi budaya dan pengukuhan lima tokoh sebagai warga kehormatan sesepuh Tengger di Pendopo Agung Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura.
“Pengukuhan warga kehormatan sesepuh Tengger merupakan bentuk penghargaan kepada para tokoh yang selama ini memberikan perhatian dan dukungan terhadap pelestarian budaya serta kehidupan masyarakat Tengger,” ujarnya.
Dalam pengukuhan nanti ada lima tokoh yang akan dikukuhkan sebagai warga kehormatan Tengger. Yakni, Kapolres Probolinggo, Kapolres Probolinggo Kota, Dandim 0820 Probolinggo, Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Probolinggo dan Danyon TP 836/Brahma Yodha.
“Ini menjadi simbol kuatnya sinergi antara masyarakat adat dengan berbagai unsur pemerintah dan aparat,” lanjutnya.
Dalam kegiatan resepsi tersebut juga akan ditampilkan beragam kesenian tradisional khas Sukapura dan Tengger, mulai dari musik ketimplung, tari Reog Tengger, jathilan, tari Senduk, tari Angguk, tari Andira hingga sendratari Roro Anteng Joko Seger.
Arief menambahkan, upaya pelestarian budaya Tengger juga dilakukan melalui dunia pendidikan. Untuk itu, Disdikdaya Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Universitas Negeri Jogjakarta akan menggelar workshop dan pendampingan pembelajaran berbasis budaya lokal bagi guru dan kepala sekolah SD maupun SMP di Kecamatan Sukapura pada 3 Juni 2026 di SMPN 1 Sukapura.
“Melalui workshop ini kami ingin memperkuat peran sekolah dalam menanamkan nilai-nilai budaya lokal kepada peserta didik. Harapannya generasi muda tidak hanya mengenal budaya Tengger, tetapi juga memiliki rasa bangga dan tanggung jawab untuk menjaga serta melestarikannya di masa depan,” tuturnya. pbo, oli





