Koperasi Digital Jadi Ujung Tombak Baru Ekonomi Rakyat: Semangat Modernisasi Bergulir dari Lumajang

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Lumajang, Muhammad Ridha

LUMAJANG (wartadigital.id) – Revolusi teknologi bukan hanya milik korporasi besar. Dari Lumajang, Jawa Timur, gerakan koperasi turut melaju dalam arus digitalisasi, menjadikan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-78 sebagai tonggak penting transformasi koperasi menuju era baru yang lebih adaptif dan inklusif.

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kabupaten Lumajang, Muhammad Ridha, menyampaikan bahwa digitalisasi koperasi menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan. Ia menegaskan bahwa koperasi yang tidak membuka diri terhadap teknologi akan tertinggal dan sulit bertahan dalam ekosistem ekonomi yang kian kompetitif.

Bacaan Lainnya

“Hari ini koperasi tidak bisa lagi bergantung pada cara lama. Kunci keberlanjutan koperasi adalah inklusi teknologi, dari pembukuan digital, sistem keuangan berbasis aplikasi, hingga pemasaran daring yang menjangkau pasar lebih luas,” ujar Ridha dalam Tasyakuran Harkopnas ke-78 di Aula Pertemuan RM Pondok Asri Lumajang, Rabu (30/7/2025).

Di Lumajang, semangat ini bukan sekadar wacana. Sejumlah koperasi sudah mulai bertransformasi dengan mengadopsi sistem manajemen berbasis data, pemanfaatan platform keuangan digital, dan aplikasi khusus anggota koperasi untuk akses layanan secara real-time. Ini termasuk sistem simpan pinjam digital dan katalog produk UMKM yang bisa diakses daring.

Salah satu koperasi di Kecamatan Pasrujambe, misalnya, telah menggunakan aplikasi mobile untuk pencatatan transaksi, pelaporan keuangan transparan, dan penyusunan rencana bisnis. Hasilnya, anggota merasa lebih terlibat, kepercayaan meningkat, dan operasional menjadi lebih efisien.

Ridha juga menyebut pentingnya literasi digital koperasi, terutama di kalangan pengurus dan anggota yang selama ini terbiasa dengan pencatatan manual. Pemerintah daerah pun mulai menghadirkan pelatihan khusus digitalisasi koperasi berbasis desa, menggandeng mitra startup teknologi dan akademisi lokal.

“Koperasi digital bukan berarti meninggalkan nilai-nilai gotong royong. Justru lewat teknologi, kita memperkuat prinsip partisipasi, transparansi, dan efisiensi. Ini bukan sekadar alat, tapi jembatan menuju kemandirian ekonomi rakyat,” lanjutnya.

Tak hanya soal keuangan, digitalisasi juga memperluas akses pasar. Produk unggulan koperasi, seperti kopi Lereng Semeru dan hasil olahan susu perdesaan, kini mulai menembus pasar daring lewat e-commerce lokal maupun nasional. Hal ini memberikan peluang baru bagi anggota koperasi, terutama generasi muda, untuk terlibat aktif dalam ekosistem digital.

Lumajang pun mulai dipetakan sebagai salah satu kabupaten percontohan koperasi digital berbasis sektor riil di Indonesia. Pemerintah pusat melalui berbagai skema pembiayaan, inkubasi digital UMKM, dan pelatihan berbasis komunitas, turut mendukung akselerasi ini.

Momentum Harkopnas di Lumajang menunjukkan bahwa koperasi bukan entitas usang, melainkan mesin perubahan sosial ekonomi yang mampu bertumbuh jika diberikan ruang inovasi. Dari desa-desa kecil, gerakan koperasi digital bisa menyebar menjadi kekuatan nasional yang tangguh dan relevan di tengah tantangan zaman. uja

Pos terkait