
SURABAYA (wartadigita.,id) – Lima tahun pasca merger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, transformasi pengelolaan terminal peti kemas terus diarahkan pada standardisasi layanan, peningkatan efisiensi, serta penguatan kapasitas dan kualitas pelayanan. PT Pelindo Terminal Petikemas menyebut transformasi tersebut telah mendorong peningkatan produktivitas sekaligus memangkas waktu singgah kapal dan barang berada di pelabuhan.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan transformasi sejak merger pada 2021 telah mendorong produktivitas terminal lebih dari 70 persen. “Alhamdulillah, produktivitas meningkat lebih dari 70 persen. Dengan meningkatnya produktivitas, dampaknya pelanggan mendapatkan value yang lebih baik. Port stay juga jauh berkurang sehingga mereka menjadi lebih efisien,” kata Widyaswendra dalam keterangan resmi, Jumat (2/10/2026).
Menurut dia, transformasi dilakukan melalui standardisasi, sistematisasi, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Dari 32 terminal yang dikelola, hampir seluruhnya mulai menunjukkan perbaikan. “Karena merger sudah dilakukan sejak 2021, peningkatan kompetensi dan knowledge secara otomatis distandardisasi. Dari total 32 terminal, hampir semua perbaikannya sudah terlihat secara nyata,” katanya.
Transformasi juga mencakup optimalisasi peralatan. Merger memungkinkan peralatan dari terminal yang memiliki kecukupan alat dialihkan ke terminal lain yang lebih membutuhkan. “Beberapa terminal sebelumnya punya masalah terkait alat. Dengan merger, ada terminal yang kami modernisasi. Alat yang ada sebelumnya bisa diberikan kepada terminal yang membutuhkan,” jelasnya.
Langkah tersebut turut berdampak terhadap port stay dan cargo stay. “Dampaknya, port stay dan cargo stay menjadi lebih baik,” katanya.
Peningkatan produktivitas juga membuka peluang kerja sama dan pengembangan rute baru. “Dari situ kami melihat banyak peluang, mulai dari pengembangan bisnis dengan kerja sama antarkorporasi sampai pembukaan rute-rute atau service baru. Banyak rute baru yang diperoleh karena produktivitas masing-masing terminal sudah tinggi,” ujar Wendra.
Wendra mengatakan transformasi tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem maritim sekaligus mendukung efisiensi biaya logistik nasional.
“Pada akhirnya ketika terjadi peningkatan produktivitas dan kinerja operasional diharapkan juga memberikan dampak pada biaya operasional kapal. Fokus kami adalah bagaimana ekosistem maritim bisa berkontribusi terhadap penurunan biaya logistik, sekaligus konektivitas yang semakin baik,” katanya.
INSA Dorong Perbaikan Berkelanjutan
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan perbaikan layanan Pelindo selama lima tahun merger telah dirasakan perusahaan pelayaran di berbagai wilayah.
“Sejauh ini Pelindo selama lima tahun merger telah melakukan banyak improvement layanan secara terus-menerus dan sudah kami rasakan perbaikannya di semua area Pelindo,” kata Carmelita saat dihubungi Rabu (30/9/2026).
Menurut dia, pembenahan masih perlu dilanjutkan untuk menciptakan layanan yang semakin terintegrasi di seluruh Indonesia.
Carmelita mengatakan peningkatan kualitas layanan terminal penting bagi perusahaan pelayaran karena berkaitan langsung dengan produktivitas kapal. Layanan terminal tidak hanya menyangkut bongkar muat, tetapi juga efisiensi operasional dan waktu kapal berada di pelabuhan. “Harapan kami agar perbaikan dan atau penggantian peralatan bongkar muat dapat segera dilakukan agar port stay lebih baik,” ujarnya.
Ia menilai kesiapan peralatan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas terminal dan mendukung kepastian jadwal pelayaran. “Yang kami harapkan tentu layanan semakin baik, semakin terintegrasi, dan bisa memberikan kepastian bagi pelaku usaha,” kata Carmelita.
INSA juga mendorong keberlanjutan standardisasi layanan di berbagai terminal. Menurut Carmelita, pola layanan yang semakin seragam dibutuhkan perusahaan pelayaran agar operasional kapal dapat direncanakan dengan lebih baik. “Bagi perusahaan pelayaran, kepastian layanan itu penting. Kami membutuhkan pelayanan yang bisa mendukung produktivitas dan kepastian operasional kapal,” ujarnya.
Di sisi lain, tekanan biaya akibat pelemahan rupiah membuat efisiensi semakin penting bagi industri pelayaran. Biaya perawatan dan operasional kapal, termasuk suku cadang yang masih harus diimpor, turut terdampak. “Pelemahan rupiah akan berdampak terhadap sejumlah biaya yang masih menggunakan dolar atau sangat dipengaruhi oleh nilai tukar,” kata Carmelita.
Menurut Carmelita, efisiensi tidak cukup hanya dilakukan pengusaha. Pemerintah juga perlu menjaga struktur biaya industri agar tetap kompetitif. “Efisiensi dari sisi pengusaha saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu membantu menjaga agar struktur biaya industri tetap kompetitif,” katanya. nti


