Cerita Mahasiswa Nanoteknologi FTMM UNAIR Ikuti Program Riset di University of Tsukuba

Muhammad Alesha Fadhana mahasiswa Program Studi Rekayasa Nanoteknologi FTMM UNAIR ikut program riset langsung di Center for Computational Sciences (CCS), University of Tsukuba, Jepang.

SURABAYA (wartadigital.id) – Muhammad Alesha Fadhana mahasiswa Program Studi Rekayasa Nanoteknologi Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR), mengikuti program riset di Jepang. Dhana, panggilan akrabnya, ikuti program selama dua bulan. Terhitung mulai April hingga Mei 2026. Dhana menjalani program riset langsung di Center for Computational Sciences (CCS), University of Tsukuba, Jepang.

Kesempatan itu tidak datang begitu saja. Pintu menuju laboratorium Prof Yasuteru Shigeta di Tsukuba terbuka berkat peran dosen pembimbingnya di UNAIR, Dr Fadjar Mulya, yang sebelumnya pernah menjadi visiting researcher di CCS dan sempat menghadiri simposium di sana. Dari hubungan itulah kesepakatan kolaborasi riset terbentuk, dan Dhana menjadi salah satu mahasiswa yang mendapat kesempatan langka tersebut.

Bacaan Lainnya

Setibanya di Tsukuba, Dhana langsung terjun ke lingkungan kerja yang berbeda dari yang ia kenal selama ini. Di bawah bimbingan harian Dr Manussada Ratanasak, peneliti di CCS yang akrab dipanggil Nus-san, ia mengerjakan penelitian di bidang komputasi kimia, mengembangkan dan memvalidasi parameter untuk simulasi molekular dinamis.

Bagi Dhana, yang paling membekas adalah bagaimana suasana kerja di laboratorium itu terasa profesional sekaligus menyenangkan. Setiap orang mengerjakan risetnya masing-masing dengan serius, namun tidak ada tembok yang membatasi rasa ingin tahu.

“Aku bisa dengan bebas menanyakan apa yang orang lain kerjakan, dan mereka dengan senang hati menjelaskan,” ungkapnya dalam keterangan tertulisnya, Rabu (3/6/2026).

Keterbukaan itulah yang ia nilai sebagai salah satu keistimewaan budaya kerja riset di Jepang. Cara Nus-san membimbing pun meninggalkan kesan tersendiri. Bukan sekadar mengarahkan lewat diskusi, sang pembimbing kerap mencontohkan langsung cara mengerjakan sesuatu dalam sesi harian bersama Dhana, lalu memintanya mempraktikkan sendiri. Pola itu terasa seperti on-the-job training yang terstruktur, jauh dari kesan bimbingan yang hanya berlangsung satu arah.

Dari interaksi itulah Dhana mendapat sebuah nasihat yang ia pegang sampai sekarang. “Just finish one completely first. The rest can be replicated more easily that way, rather than doing everything at once but getting poor results,” kata Nus-san, seperti yang Dhana kenang.

Muhammad Alesha Fadhana dengan teman-temannya di University of Tsukuba, Jepang.

Kalimat itu terdengar sederhana, namun justru di situlah kekuatannya sebagai pengingat untuk tetap fokus dan tidak terburu-buru. Selain bimbingan harian, CCS juga memiliki tradisi seminar mingguan yang disebut “demi”. Sederhananya, para peneliti dari berbagai kelompok riset berkumpul untuk saling berbagi perkembangan kerja masing-masing. Dhana rutin hadir sebagai peserta, dan dari sana ia banyak menyerap perspektif baru dari riset-riset yang bahkan jauh dari bidangnya sendiri.

Tidak hanya itu, Dhana juga sempat dilibatkan dalam kepanitiaan sebuah mini simposium yang diselenggarakan oleh CCS. Ia bertugas di sisi teknis acara, membantu alur acara dari forum. Pengalaman itu mengajarkan sisi lain dari dunia riset, bahwa ilmu pengetahuan juga butuh panggung untuk bertemu dan bertukar gagasan.

Bahasa Jepang Itu Nilai Tambah

Di luar laboratorium, Dhana beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari di Tsukuba dengan berbekal sertifikasi JLPT N4. Kemampuan bahasa Jepang percakapan itu terbukti membantu, terutama saat berinteraksi dengan warga lokal di luar lingkungan kampus.

Menurutnya, kemampuan bahasa Inggris memang menjadi modal utama untuk bertahan di lingkungan riset internasional, namun memiliki kemampuan bahasa Jepang sehari-hari memberikan pengalaman yang jauh lebih kaya. “Minimal bahasa Inggris sudah cukup, tapi kalau bisa bahasa Jepang untuk percakapan sehari-hari, pengalamannya akan jauh lebih menyenangkan,” ujarnya.

Kini, setelah kembali ke Surabaya, Dhana melanjutkan penelitiannya dengan bekal pengetahuan teknis dan semangat yang ia tempa langsung di Tsukuba. Pengalaman dua bulan itu bukan titik akhir, melainkan fondasi yang semakin memperkuat langkahnya menuju publikasi ilmiah.

Kepada mahasiswa lain yang memiliki kesempatan serupa, Dhana hanya berpesan satu hal. “Jangan takut untuk pergi, dan jangan takut untuk bertanya. Justru dari dua hal itu, kamu akan pulang dengan jauh lebih banyak dari yang kamu bawa saat berangkat,” pungkasnya. nti

Pos terkait